One Year in Loving Memoriam : Geshela Thupten Phuntsog, the Faithful Caring Attendant

  • January 29, 2015

“Sejak berusia sembilan tahun saya mengenal sahabat Dharma saya, Geshe Thupten Phuntsog, yang dengannya saya memiliki koneksi berkat karma baik. Beliau adalah seorang praktisi dharma yang baik, memiliki keyakinan yang kuat pada guru-gurunya, serta memiliki kebaikan dan kemurahan hati yang besar. Beliau sungguh-sungguh seorang yang berkomitmen untuk melakukan kebajikan secara umum, sangat setia, dan merupakan sahabat Dharma saya yang baik. Hingga sekarang pun saya masih mengingat Beliau sebagai seseorang yang telah begitu berjasa menolong saya, laksana seorang kakak pada saat saya masih muda.”

– Guru Dagpo Rinpoche, Vila Istana Bunga, Lembang, Bandung, 25 Desember 2014 –

Pada 29 Januari 2015 ini segenap keluarga besar Kadam Choeling dan murid-murid Yang Mulia Guru Dagpo Rinpoche memperingati satu tahun meninggalnya Geshela Thupten Phuntsog. Peringatan satu tahun ini antara lain bisa dengan melakukan Enam Praktik Pendahuluan dan persembahan pelita. Berikut adalah riwayat singkat Geshela beserta foto-foto Pameran pada saat berlangsungnya Festival Lamrim Asia Tenggara pada 23 hingga 31 Desember 2014 di Vila Istana Bunga, Lembang, Bandung, Jawa Barat.

* * * * * * * *

Geshe-La (Biksu Thupten Phuntsog)

 

 

Dilahirkan di Lhasa pada tahun 1923, Thupten Phuntshog atau Geshe La, bertemu Rinpoche pertama kali pada tahun 1945 di Biara Dagpo Dratsang. Waktu itu ia seorang biksu berumur 21 tahun dan masuk di kelas Rinpoche sebagai pemula. Geshe La dengan cepat menjadi teman Rinpoche yang paling setia, sahabat, kakak, dan pelindung Rinpoche. Guru dan pembimbing Rinpoche menitipkan Rinpoche kepadanya dan memberikannya tugas untuk menjaga Rinpoche yang waktu itu berusia sekitar 12 tahun. Mereka berdua satu kelompok dalam melakukan debat-debat dialektika. Sejak itu, mereka tidak pernah berpisah. Bersama, mereka melanjutkan pendidikan ke Biara Gomang Dratsang dan kemudian pada masa pendudukan Tibet oleh bangsa China, berjalan menuju pengasingan melewati pegunungan Himalaya ke India pada tahun 1959.

Perjalanan yang sangat berat di mana mereka akhirnya bisa terus bertahan hidup membawa beban yang berat, melewati malam-malam yang membeku, dan rasa ketakutan akan tertangkap tentara Cina. Bersama pula, mereka berangkat ke Perancis pada tahun 1960 tanpa menguasai bahasa Perancis sepatah kata pun. Waktu itu Rinpoche berumur 27 tahun dan Geshe La 37 tahun. Di Perancis, sementara Rinpoche menjadi pengajar di sebuah institut bahasa, Geshe La bekerja di perusahaan listrik negara Perancis, membantu di bagian dokumentasi.

Sampai awal tahun 2014, mereka masih tinggal bersama di satu rumah di daerah Veneux-les-Sablons, dekat kota Paris. Di sana, terdapat pusat belajar Buddhisme dan Institut Guepele yang Rinpoche dirikan. Hidup bersama selama jangka waktu yang lama, Geshe La merupakan sumber penting segala informasi tentang Rinpoche. Beliau pernah mengatakan bahwa Rinpoche selalu berhasil dengan apa yang Beliau mulai jalankan dan Rinpoche selalu konsisten mewujudkan gagasannya. Rinpoche juga meneruskan sendiri pelajarannya di Perancis setelah penyerbuan oleh Cina dan pengasingan ke India, dengan mempelajari seluruh kitab Buddhis dengan uraiannya yang berjumlah lebih dari 300 kitab.

“Saya tidak pernah melihat beliau terpisah dari kitab-kitabnya”, kata Geshe La. “Beliau sering lupa tidur dan saya harus sering mengingatkan bahwa sudah waktunya untuk mematikan lampu.” Geshe La pernah menulis buku dengan judul “J’ai connu le Tibet libre (Saya Mengetahui Tibet Yang Bebas)” di mana Beliau dengan gamblang, karena ingatannya yang jernih dan kuat, mengisahkan tentang kehidupan di Tibet pada masa sebelum dikuasai Cina. Rinpoche dan Geshe La adalah guru-murid, sahabat, dan juga bagai adik-kakak, yang hidup bersama dan tidak terpisah selama kurang lebih 68 tahun (1945-2014) sampai wafatnya Geshe La pada 29 Januari 2014.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *