Beruntungnya Punya Komunitas Bajik : Waisak KCI di Biara Indonesia Gaden Syeydrup Nampar Gyelwei Ling (21-22 Mei 2016)

  • May 13, 2016

Pada usia 58 tahun Je Tsongkhapa pergi ke Biara Ganden. Di sana Beliau menggubah sebuah ulasan lanjut terhadap latihan Sri Heruka Samvara sesuai tradisi Luyipa, sebuah pemaparan panjang dan singkat terhadap empat yoga Marga Perampungan, sebuah pemaparan pandangan filosofis dari berbagai aliran pemikiran yang berbeda-beda (T: Drup-tap), dan sebuah ulasan terhadap Akar Tantra Guhyasamaja (T: Gyu tam-che gi gyelpo pel sangwa duwei tsa-shay drel-wa).

Sambil memberikan catatan untuk menjelaskan secara lengkap makna dari kata-kata tertentu, Beliau secara mantap menjelaskan cara memahami bagian-bagian sulit, dan pada saat yang bersamaan, menggubah pemaparan yang lebih ringkas dari masing-masing bagian utama karya yang Beliau bahas.

Tanpa beristirahat, Je Tsongkhapa juga memberikan penjelasan lisan yang lengkap akan empat kelas Tantra. Oleh karena itu, Beliau mencegah amirta ajaran berharga dari Sang Penakluk mengalami kemerosotan dan mengambil peran dalam penjelasan maknanya.

Selagi Je Tsongkhapa dalam masa penyembuhan dari penyakitnya, Yang Mulia Manjusri muncul dalam aura yang terang dan menyala, menyarankannya mengeluarkan seluruh upaya untuk berlatih dalam Marga Pembangkitan dan Perampungan. Jika melakukan hal ini, Beliau akan dengan cepat memperoleh realisasi luar biasa Anuttara-Tantra; dan tujuh muridnya yang kebajikannya luar biasa besar, juga akan mencapai realisai yang mengagumkan. “Tapi, tidakkah tubuh saya ini masih lemah?” tanya Je Tsongkhapa. “Tanyakan saja pada Tokden-pa,” jawab Manjusri.

Guru Agung mengikuti kata-kata Manjusri. Beberapa tahun silam, Tokden-pa (juga dikenal dengan nama Tokden Jampel Gyatso) melihat penampakan Manjusri dan menerima dari Istadewata ini, metode untuk memperpanjang masa hidup Je Tsongkhapa. Kali ini, sekali lagi ia melihat penampakan Manjusri yang memberitahukan bahwa Guru Agung telah mempunyai kebijaksanaan yang memahami penyatuan Kebahagiaan Agung dan Kesunyataan dalam kesinambungan batinnya. Manjusri juga mengatakan bahwa Istadewata umur panjang dan juga semua Istadewata lainnya akan menganugerahkan berkah agar Je Tsongkhapa bisa secara cepat mencapai realisasi agung Anuttara Tantra.

Suatu malam, Tokden-pa bermimpi berada pada kaki sebuah stupa berwarna putih yang dikatakan merupakan stupa Je Tsongkhapa. Puncak stupa ini, dihiasi dengan berbagai batu permata berharga, menjulang tinggi ke langit, sementara ujungnya tertelan awan. Dakini-dakini yang kepalanya dihiasi mahkota berkilauan, membersihkan dan memurnikan stupa dengan amirta yang disimpan di dalam sebuah kamandalu mengagumkan.

Di dalam mimpinya, Tokden-pa juga melihat di antara sekian banyak stupa megah, terdapat tujuh stupa khusus yang melambangkan pencapaian realisasi mendalam dari tujuh murid Je Tsongkhapa.

Riwayat Je Tsongkhapa, Penerbit Kadam Choeling, Februari 2011, hal. 142-143.

* * * * * * *

Bila kamu cukup beruntung bertemu dengan komunitas bajik nan mulia ini,

sesuatu yang berbeda akan terjadi.”

Waisak KCI di Biara Indonesia Gaden Syeydrup Nampar Gyelwei Ling –

Bicara soal keberuntungan, kadang-kadang konotasinya adalah untung-untungan, sesuatu yang kebetulan saja didapatkan karena pas lagi hoki. Dalam bahasa Indonesia, seorang yang beruntung diartikan sebagai seorang yang bernasib baik, mujur, atau bahagia. Dalam bahasa Tibet, kata ”beruntung” biasanya diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari menjadi sod-nam chen-po, yang artinya kebajikan besar. Oleh sebab itu, seorang yang dikatakan beruntung sederhananya adalah seorang yang memiliki banyak kebajikan.

Dalam konteks Tahapan Jalan Menuju Pencerahan atau Lamrim, ada banyak penjelasan tentang apa yang disebut sebagai beruntung atau keberuntungan. Dimulai dari yang paling awal, yaitu fondasi yang menjadi akar pada jalan spiritual adalah bertumpu pada seorang guru. Sebuah kutipan oleh ahli spiritual yang agung Tilopa mengatakan:

Yang terbaik dari semua keberuntungan adalah guru itu sendiri, Oh Naropa.”

Dalam konteks ini, maksud dari keberuntungan adalah jika kita membuat permohonan kepada para guru kita, kita dapat meraih segala bentuk kesejahteraan dan semua tujuan yang diinginkan dalam kehidupan ini serta kehidupan yang akan datang. (Pembebasan di Tangan Kita, Penerbit Kadam Choeling, Jilid 2, hal. 82)

Berikutnya, dalam konteks kemuliaan terlahir sebagai manusia, dijelaskan bahwa sebuah kelahiran manusia yang mulia memiliki delapan kebebasan dan sepuluh keberuntungan. Dalam konteks topik ini, keberuntungan mempunyai sepuluh bentuk: lima keberuntungan yang berkaitan dengan diri kita sendiri dan lima keberuntungan yang berkaitan dengan orang lain. Lima keberuntungan yang berkaitan dengan diri kita sendiri dijelaskan dalam Tingkatan Shravaka sebagai (1) menjadi seorang manusia; (2) terlahir di negeri pusat; (3) mempunyai indra-indra yang berfungsi dengan baik; (4) tidak kehilangan kapasitas untuk menyelesaikan upaya-upaya spiritual; dan (5) memiliki keyakinan pada Tripitaka.

Lima keberuntungan yang berkaitan dengan orang lain dijelaskan sebagai berikut (1) munculnya Para Buddha; (2) pembabaran Dharma oleh Para Buddha; (3) dipertahankannya ajaran; (4) penerusan ajaran; dan (5) adanya welas asih dari orang lain. Penjelasan lengkap untuk masing-masing sepuluh bentuk keberuntungan ini bisa ditemukan dalam kitab Pembebasan di Tangan Kita, Jilid 2, hal. 116-122.

Pada topik kemuliaan terlahir sebagai manusia, ada sebuah perenungan pada nilai besar yang terkandung di dalam bentuk kelahiran ini. Kelahiran sebagai manusia dijelaskan sebagai tipe kelahiran yang paling berpotensi untuk membangkitkan batin pencerahan. Seperti yang dinyatakan dalam Surat kepada Seorang Siswa:

Jalan yang ditemukan oleh manusia dengan kekuatan batin mereka yang luar biasa

Tidak dapat ditemukan oleh para dewa atau asura, maupun oleh para naga, garuda, vidyadhara, kinnara, atau uraga.

Pembebasan di Tangan Kita, Jilid 2, hal. 125

Selanjutnya, pada topik berlindung kepada Triratna, ada poin perenungan pada kualitas-kualitas bajik komunitas (Sanggha), yang mengatakan bahwa:

Renungkanlah, “Komunitas mengajarkan ajaran, mempraktikkan, dan merenungkannya. Komunitas adalah tempat berkembangnya ajaran. Komunitaslah yang menegakkan ajaran, memercayakan diri sepenuhnya pada ajaran, memujanya, dan berperilaku sesuai ajaran. Komunitas menempatkan ajaran sebagai pusat kegiatannya, dan merupakan praktisi terunggul terhadap ajaran. Sifat dasar komunitas adalah jujur dan murni. Ia diberkahi dengan kualitas welas asih, dan memiliki welas asih agung. Ia selalu menempatkan keheningan sebagai ladang aktivitasnya, senantiasa tercerap dalam ajaran, dan selalu mempraktikkan ajaran.

Kebajikan unggul akan meningkat melalui pengaruh orang-orang maupun ajaran. Buddha dan komunitas Sanggha adalah contoh kebajikan yang meningkat melalui pengaruh orang. Juga, kita bisa meningkatkan kebajikan berkaitan dengan satu makhluk atau banyak makhluk. Komunitas adalah contoh peningkatan kebajikan berkaitan dengan banyak makhluk, karena sebuah komunitas terdiri dari minimal empat orang biksu.

Dalam program akumulasi kebajikan Mahapranidhana Puja 2 yang diselenggarakan di Vila Istana Bunga, Lembang, Bandung, pada 23-31 Desember 2015 yang lalu, Suhu Bhadra Ruci memberikan uraian betapa pentingnya sebuah komunitas dalam mendukung kehidupan dan praktik spiritual kita. Bahkan, Suhu mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang memiliki dan bisa hidup di dalam sebuah komunitas.

* * * * * * * *

Waisak Perdana di Biara Indonesia Gaden Syeydrup Nampar Gyelwei Ling

Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling & Kadam Choeling Indonesia memuliakan momen agung:

WAISAK—LAHIR, TERCERAHKAN, & MANGKATNYA BUDDHA GAUTAMA

Sebuah momen penuh berkah untuk menanam benih-benih kebajikan melalui kontribusi dukungan moral dan materi yang disalurkan melalui PROGRAM DANA WAISAK 2016:

Paket 1 = 1 tegel + 60 Pelita = Rp. 200.000

Paket 2 = 2 tegel + 1 genteng + 120 Pelita = Rp. 500.000

Paket 3 = 4 tegel + 2 genteng + 240 Pelita = Rp. 1.000.000

Paket 4 = 10 tegel + 5 genteng + 600 Pelita = Rp.2.500.000

Paket 5 = 20 tegel + 10 genteng + 1.200 pelita = Rp. 5.000.000

Dana kontribusi WAISAK dapat dikirim ke
Rekening BCA 5170 1811 50 a.n Nia Triyuniastuti Tirta
dengan kode belakang 15

Format konfirmasi:
Nama/Jenis paket/Nominal
Contoh : Rika Lenawaty/Paket 1/Rp 200.015

Kirim SMS konfirmasi ke:
Christine Khu (0856 5850 9928)

*******

MOMEN SPESIAL PERDANA! Rayakan WAISAK di BIARA Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling:

“Bila Engkau cukup beruntung bertemu dengan komunitas bajik nan mulia ini, sesuatu yang berbeda akan terjadi.”

pada 21-22 Mei 2016 dengan tema “Capek Bareng, Makan Bareng, Do Good Bareng,” yang sekaligus merupakan peringatan 15 tahun Kadam Choeling Indonesia dan 10 tahun Bimbel KCI.

Info dan Registrasi hubungi:

Jiji S. Wijaya (+6281221098485)

waisak2016_biara_5

 

waisak2016_biara_4

 

waisak2016_biara_3

 

waisak2016_biara_1

 

dana_waisak_2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *