SUHU_800

Adalah satu kenyataan bahwa sampai sekarang mutu pendidikan kebiksuan di Indonesia masih sangat rendah. Belum ada program pendidikan yang terstruktur dan memadai untuk mendidik seseorang dalam menempuh jalan kebiksuan dengan baik. Oleh karenanya, orangorang yang ingin masuk ke dunia per biksuan biasanya hanya bermodal semangat juang.

Biksu-biksu muda kini muncul dengan seperangkat gadget canggih. Mereka kini tampil dengan laptop, blackberry, iphone, ipod, ipad dan pot-pet pot-pet lainnya. Seakan-akan untuk menunjukkan kesan intelektualitas. Nah, mengenai kesan-kesan yang hanya penampakan luar ini aku punya contoh bagus, yakni tentang orang-orang yang vege. Aku tak pernah bilang bahwa vege itu tak baik. Baik sekali malah. Tapi kan kita harus paham dulu, apa sebenarnya motivasi mereka melakukan vege itu?

Sama halnya dengan Pabbaja. Esensi dari Pabbala itu bukan hanya pakai jubah lalu kepala gundul. Aku tidak butuh kepala gundul. Buddha tidak butuh orang-orang berkepala gundul. Pabbaja itu hanya satu media saja, media refleksi diri sendiri. Pabbaja satu tahun belum tentu setara dengan dikurung dalam kamar dan bermeditasi selama seminggu. Yang diutamakan adalah perenungan.

Ada yang bilang kalau Pabbaja dengan Bhante Bhadra Ruci itu berat sekali. Lebih enak dengan Bhante-bhante yang lain. Lha, kalau mau enak, ya tak usah ikut Pabbaja. Kenapa tak sekalian saja cukur gundul lalu pergi liburan ke Bali.

Ada juga keluhan kalau aku ini terlalu galak dalam membimbing. Sedikit-sedikit main pukul. Lantas kenapa harus dipukul? Kenapa tidak dinasehati saja, seperti bhante lain yang terkenal karena kelembutan akhlaknya? Begini logikanya. Ketika peserta Pabbaja aku suruh untuk bermoditasi, pada satu titik, mereka pasti akan mengalami jalan buntu. Kebuntuan ini tidak dapat dielakkan. Perenungan yang sudah dibawa terlalu jauh pada akhirnya akan membentur tembok. Nah, percaya atau tidak, aku memukul untuk memecah tembok-tembok penghalang ini. Dari tampilan luarnya, orang-orang tentu tak akan bisa paham.

Aku ingin orang-orang tahu kalau Pabbaja dengan Bhante Bhadra Ruci itu memang beginilah adanya. Mulanya, para peserta akan digiring untuk keluar dari samsara. Ini baru tahap motivasi menengah. Setelah itu, mereka akan aku paksa berhadapan dengan egonya masing-masing. Di sini mereka akan melihat betapa kurang ajarnya diri mereka betapa egoisnya mereka selama ini. Di tahap inilah siksaan yang sesungguhnya akan terjadi. Bagiku, inilah yang paling penting. Aku tak butuh jubah-jubah yang dililit rapi dan kepala-kepala yang gundul. Tampilan luar yang seperti itu, tak penting bagiku.

Di India, pelajaran Vinaya baru akan dipelajari di tingkat atas. Sebelum itu, kita dituntut terlebih dulu untuk mempelajari kerangka berpikir filosofis. Di Indonesia, menurutku pelajaran Vinaya ini seharusnya jadi prioritas utama bagi para biksu. Biksu-biksu di Indonesia butuh Vinaya. Mereka butuh peraturan-peraturan untuk mendisiplinkan diri. Biksu-biksu di Indonesia itu terlalu kaku. Mereka sepertinya tidak tahu bagaimana cara menikmati hidup ini. Seakan-akan, jika seseorang menjadi biksu, maka dia juga telah memilih untuk melepaskan kegembiran dari hidupnya. Seolah-olah biksu dan kegembiraan adalah dua kutub yang saling berlawanan dan tak akan pernah bisa dipersatukan.

Prinsipku, jadi biksu itu harus dilalui dengan hati gembira. Sila sila yang diambil seorang biksu bukanlah bertujuan untuk mengikat dirinya. Kalau mau diibaratkan, sila adalah semacam pagar yang menjaga kita. Kita boleh berbuat sesuka hati di dalam batas pagar ini, tapi jangan sekali-kali menerabas keluar darinya. Sila itu bukanlah rantai yang mengikat kita dengan kuat dan mencegah kita untuk bertingkah laku selayaknya manusia biasa. Oleh karenanya, Vinaya ini menjadi kebutuhan yang pokok sekali, menurutku. Dasar-dasar filosofis seperti Prajna Paramita dan Abhidhamma boleh menyusul kemudian setelah itu. Bukannya aku merasa sok tahu segala-gala atau merasa menjadi seorang revolusioner, tapi memang kondisi di Indonesia itu sama sekali berbeda dengan kondisi di India.

Kita semua harus ingat bahwa dalam berpraktek Dharma, bukan kesan-kesan luar yang harus kita utamakan. Ingat kisah Geshe Ben, renungkan kisah Naropa, selami kisan Marpa Sang Penerjemah. Dalam berpraktek itu, adalah hati dan cuma hati inilah yang paling penting.

– Dipetik dari Buku Perihal-Sebuah esai kehidupan, yang dikisahkan Suhu Bhadra Ruci pada murid-muridnya.