7 Tahun Membuka Pintu Tradisi Monastik Nusantara Peringatan Debat Filosofis Buddhis Pertama di Nusantara Sejak Keruntuhan Majapahit

  • June 24, 2020

Semoga aku belajar tanpa pernah merasa puas,
Pada Ajaran yang tak terhitung jumlahnya di bawah kaki Guru Spiritual
Dengan penguasaan penalaran tanpa cela,
Serta membuka tabir makna dari isi kitab suci.
-Doa Praktik Awal, Tengah, dan Akhir

Bumi Nusantara di masa lampau pernah menjadi pusat perkembangan Buddhadharma yang diakui dunia. Banyak pendeta dan cendekiawan yang belajar terlebih dahulu di Sriwijaya sebelum menempuh pendidikan di Biara Universitas Nalanda, institusi pendidikan monastik tertua di dunia. Bahkan Guru Atisha Dipamkara Srijnana, pandit besar Nalanda yang kemudian menjadi tokoh penting dalam penyebaran Buddhadharma di Tibet, tinggal di Sriwijaya selama belasan tahun untuk berguru di kaki Guru Suwarnadwipa Dharmakirti yang mewarisi ajaran Bodhicitta nan langka dalam garis silsilah yang tak terputus dari Buddha Shakyamuni.

Adanya peninggalan sejarah yang menunjukkan hubungan diplomatis Sriwijaya dan Nalanda serta pertukaran guru dan murid ini mengindikasikan adanya keselarasan tradisi pendidikan monastik di Nalanda dan Sriwijaya. Tradisi pembelajaran khas Nalanda yang menggunakan pendekatan akademis dan filosofis ini kemudian juga berkembang dan dilestarikan di biara-biara Tibet. Berabad-abad kemudian, tradisi ini kembali ke Bumi Nusantara melalui Sangha Monastik KCI di Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayāśraya.

Tujuh tahun yang lalu, 19 Juni 2013, Sangha Monastik KCI melakukan debat filosofis pertama di Nusantara sejak keruntuhan peradaban Hindu-Buddha masa lampau. Debat filosofis ini merupakan salah satu praktik inti dari tradisi pembelajaran monastik khas Nalanda.

Peristiwa ini dalam Bahasa Tibet dikenal dengan istilah “Chora Uze Jego”, yaitu aktivitas “membuka pintu” penanda dimulainya aktivitas debat di sebuah komunitas monastik. “Membuka pintu” ibarat membuka pikiran & mengawali sesuatu yang baik, sama seperti debat filosofis membuka pikiran seorang praktisi sehingga memiliki pemahaman yang kokoh terhadap Dharma.

Sejak saat itu, sudah 7 tahun lamanya Sangha Monastik KCI menghidupkan kembali tradisi debat filosofis yang merupakan metode belajar khas Buddhis sejak masa kejayaan Buddhadharma di Nusantara kuno. Ini adalah salah satu realisasi dari komitmen Sangha Monastik KCI untuk menegakkan kembali tradisi pembelajaran monastik khas Nalanda & silsilah emas ajaran Guru Suwarnadwipa Dharmakirti di Nusantara.

Semoga tradisi luhur ini senantiasa lestari dan memberi manfaat bagi semua makhluk di Nusantara dan dunia untuk selama-lamanya.