Dua Metode Membahagiakan Makhluk Lain

  • February 3, 2016

Perilaku seorang Bodhisatwa atau seorang Buddha dikatakan sangat membahagiakan. Apa artinya? Ada dua cara membahagiakan makhluk lain, satu yang sesuai Dharma, satunya lagi tidak. Membahagiakan semua makhluk karena kita sungguh peduli terhadap mereka, tanpa mengharapkan hadiah, cinta, pujian, dan kepuasan ego lainnya sebagai balasan adalah metode yang sesuai dengan Dharma. Membahagiakan makhluk lain karena kita ingin mereka menyukai kita, tidak marah pada kita atau untuk memberikan kita pujian atau hadiah adalah tindakan duniawi. Perilaku seperti ini mungkin terlihat baik, tetapi faktanya adalah egoistis. Karena kita memiliki banyak harapan, hubungan akan menjadi sulit dan rumit dan umumnya membawa pada ketidakpuasan.

Kita mungkin berpikir, “Seorang buddhis yang baik adalah seseorang yang membahagiakan orang lain.” Ini tidak benar. Tentu saja, para Buddha mencoba membahagiakan semua makhluk, menghilangkan penderitaan mereka dan membawa kebahagiaan sementara kepada mereka. Sebagai tambahan, mereka melihat pada gambaran yang lebih besar yang bukan hanya pada kebahagiaan sementara dalam samsara, melainkan juga kebahagiaan pembebasan dan pencerahan. Secara khusus, mereka ingin membahagiakan semua makhluk dengan membimbing mereka pada pencerahan.

Untuk melakukannya, semua makhluk mungkin harus mengalami ketidaknyamanan. Para Buddha tidak peduli jika semua makhluk menyukai mereka, menyetujui mereka, atau berkata baik tentang mereka pada jangka pendek. Mereka lebih peduli tentang kesejahteraan semua makhluk pada jangka waktu yang panjang. Ini sama seperti seorang dokter yang ingin menyembuhkan seseorang yang mengidap penyakit yang mengerikan. Dokter tersebut mungkin memberikan obat yang pahit sehingga pasien mengeluh ketika memakannya, tetapi ia tidak peduli jika pasien mengeluh atau mengkritiknya karena perhatian mereka ada pada kesejahteraan jangka panjang si pasien.

Perbuatan membantu orang lain dapat berhasil ketika kita memiliki motivasi tulus mengutamakan kebahagiaan makhluk lain. Ketika kita menjadi seorang penjilat, kita tidak akan melakukan tindakan apa pun yang tidak disukai orang itu, walaupun sebenarnya tindakan tersebut bermanfaat untuk kebahagiaan mereka. Kita terlalu melekat pada apa yang mereka pikirkan tentang kita. Dalam usaha untuk mendapatkan persetujuan, pujian, atau cinta mereka, kita mencoba melakukan tindakan yang hanya membahagiakan mereka. Motivasi ini membawa pada jalan buntu. Mengapa?

Pertama, tidaklah mungkin untuk membahagiakan semua makhluk. Semua makhluk berada di samsara, sehingga mereka memiliki batin yang tidak pernah puas. Mereka selalu menginginkan lebih banyak dan lebih baik. Kedua, membahagiakan makhluk lain sehingga mereka menyukai kita adalah suatu penipuan, kita bertindak seperti penipu dan dalam jangka panjang, baik kita maupun orang lain akan menderita akibat kepura-puraan kita menjadi sesuatu yang bukan kita. Kita tidak harus mencoba mendapatkan persetujuan dan cinta kasih orang lain. Jika kita melatih diri kita sendiri untuk memiliki hati dan motivasi yang baik, orang lain akan tertarik pada kita. Bahkan, jika mereka tidak tertarik, hal tersebut tidak akan mengganggu kedamaian batin kita.

Demikian juga, tidaklah mungkin bagi makhluk lain untuk membahagiakan kita. Tidak ada cara bagi mereka untuk memenuhi semua kebutuhan kita atau bagi kita untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Sebagai bagian dari semua makhluk, kita selalu berpikir, “Jika saja seseorang mau melakukan x, y, z, maka saya akan bahagia.” Seseorang melakukannya dan kemudian kita menemukan sesuatu yang lain yang kita inginkan atau sesuatu yang kita keluhkan. Batin kita selalu berubah-ubah!

Ketika kita mencoba membahagiakan orang lain, kita menjadi terbelenggu, “Apakah saya cukup baik? Aapakah mereka menyukai saya? Apakah saya memenuhi kebutuhan mereka?” Semua menjadi tentang “aku.” Akan tetapi, ketika kita membangkitkan diri sebagai Avalokitesvara, kita bekerja untuk kepentingan jangka panjang semua makhluk, yang merupakan manfaat terbaik yang bisa kita persembahkan kepada mereka.

 

Petikan “Praktik Penyempurnaan Welas Asih—Penjelasan Sadhana Mahakarunika Avalokitesvara Sebelas Wajah Seribu Tangan,” Thubten Chodron, Penerbit Kadam Choeling, 2015, hal. 187-189.

* * * * * * * *

Buku Praktik Penyempurnaan Welas Asih diluncurkan pertama kali pada event Mahapranidhana Puja 2—Doa untuk Rinpoche—pada 23-31 Desember 2015 di Vila Istana Bunga, Lembang, Bandung. Buku ini merupakan terbitan Penerbit Kadam Choeling yang berada di bawah naungan Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Lamrim Nusantara (YPPLN). Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Call Center YPPLN di 0812.2281.6044

 

praktik_penyempurnaan_welas_asih2