Espresso Dharma – Pembebasan Ada di Tangan Kita, Maukah Kita Mewujudkannya

  • May 26, 2020

Atas kebaikan guru kita, Y. M. Biksu Bhadra Ruci, kita masih dapat bersama-sama berkumpul untuk mendengarkan Dharma meskipun kita tengah berada di masa sulit akibat pandemi COVID-19. Y. M. Biksu Bhadra Ruci tanpa lelah mengingatkan kita mengenai pentingnya untuk selalu mengingat dan merenungkan kembali kelahiran sebagai manusia yang berharga. Kita menyadari bahwa dalam kehidupan ini, tujuan kita adalah mencapai kebahagiaan. Akan tetapi, kebahagiaan seperti apa yang kita cari? Apakah kebahagiaan di masa sekarang ataukah di masa-masa yang akan datang? Itu semua sangat tergantung dengan cara kita memaknai setiap tarikan napas yang kita ambil dengan tubuh manusia yang berharga ini. Bagi kita yang telah mampu memikirkan kebahagiaan di masa mendatang dan telah berhasil menumbuhkan setidaknya rasa takut terjatuh di alam rendah, sudahkah kita melakukan praktik Dharma dengan baik?

Sadar atau tidak, kita sering kali menemui kebingungan di kala ingin memulai praktik Dharma. Kita sulit untuk berfokus saat belajar Dharma. Kita juga mudah terdistraksi dan mudah lupa hal-hal yang baru saja kita pelajari. Yang lebih parahnya, kita juga tidak pernah berusaha membiasakan Dharma yang kita pelajari ke dalam keseharian kita. Padahal, praktik Dharma artinya kita membuat batin kita terbiasa terhadap Dharma sehingga tindakan keseharian kita pun mencerminkan Dharma tersebut. Kendati demikian, kita tidak pernah dengan serius memantapkan dalam hati kita bahwa kita membutuhkan praktik Dharma. Kita juga tidak pernah dengan saksama memeriksa dan mengamati batin hingga kita menjadi teledor dan melakukan banyak hal yang tidak berarti dalam hidup. Praktik Dharma yang terhambat dan tidak mengalami kemajuan juga terjadi karena kita luput dari melakukan hal sesuai dengan urutannya. Hal ini diibaratkan oleh Y. M. Biksu Bhadra Ruci layaknya mencampur garam dan gula dalam satu toples. Oleh karena sudah tercampur, kita tak bisa menggunakan garam maupun gula dalam toples tersebut. Selain itu, alih-alih menemukan diri kita sebagai pasien dalam praktik Dharma, kita hanya bertingkah laku seolah-olah adalah praktisi. Sebagai contoh, kita sering berkata bahwa kita ingin membebaskan semua makhluk dari samsara, namun kita masih tertarik terhadap banyak hal fana di dunia. Saat teman kita asyik menonton, kita tanpa sadar langsung ikut menonton. Artinya, batin kita masih lemah dan dunia ini masih sangat menarik bagu kita.

Mengapa hal demikian bisa terjadi? Hal ini karena kita tidak memiliki struktur yang jelas dalam batin. Kita tidak mengetahui langkah demi langkah seperti apa yang harus kita ambil. Saat kita mengatakan pada diri kita bahwa kita ingin keluar dari samsara, bisakah kita melihat langkah seperti apa yang harus dilakukan? Saat kita membuat persembahan, pahamkah kita bahwa karma kebajikan ini akan membuat kita bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa datang? Jika tidak, maka artinya kita tidak memiliki amunisi teori yang cukup apalagi benar-benar menumbuhkan motivasi untuk menolong semua makhluk keluar dari samsara.

Sebagai langkah awal, kita harus mulai membangkitkan pikiran bahwa ‘saya akan memanfaatkan tiap momen dalam hidup saya untuk membuat masa mendatang lebih bahagia’. Kita harus senantiasa mengingat bahwa untuk bisa membiasakan setidaknya motivasi tersebut, kita butuh melakukan dua hal: menghimpun sebab-sebabnya dan menaklukkan batin. Setelahnya, kita harus paham bahwa sebab-sebab yang kita himpun tentunya harus bersifat bajik. Bajik atau tidaknya bergantung pada motivasi dari hal-hal yang kita lakukan. Hal ini karena pada dasarnya, setiap tindakan yang kita lakukan bersifat netral, namun warna aktivitas tersebut ditentukan oleh motivasi kita. Oleh sebab itu, aktivitas netral seperti berkendara pun bisa menjadi sesuatu yang bajik apabila diiringi dengan niat yang bajik.

Menghimpun sebab bajik dan mempurifikasi karma buruk semata tidaklah cukup bagi kita untuk memastikan setidaknya kehidupan mendatang lebih baik. Kita butuh menaklukkan batin. Akan tetapi, batin kita sangat liar dan tidak bisa menahan diri sehingga batin menjadi tuan atas diri kita. Padahal, jika kita mau berusaha untuk mengamati batin kita, kita pasti bisa menjinakkannya. Y. M. Biksu Bhadra Ruci mengibaratkan batin layaknya lemari. Di dalam lemari, ada banyak hal yang tersimpan, sama halnya dengan batin. Kita harus berusaha untuk membuka ‘lemari’ tersebut, melihat, dan menghadapi isinya agar kita mengetahui dengan pasti warna batin kita. Jika tidak, maka celakalah kita.

Setelah kita bisa menjinakkannya, kita harus memekarkannya dengan berbagai pengetahuan Dharma. Jika kita bisa secara konsisten melakukannya, kebijaksanaan perlahan akan tumbuh dan kita pelan-pelan tidak lagi tertarik pada hiruk pikuk dunia. Tidak tertarik pada hal duniawi bukan artinya bersikap munafik dengan mengatakan sesuatu yang kita sukai sebagai sesuatu yang tidak kita sukai, namun bermakna kita tidak lagi tersedot dan terlarut ke dalam kesenangan sesaat tersebut. Batin bijaksana yang tidak lagi terombang-ambing kehidupan duniawi mirip dengan diri kita yang sudah tidak lagi tertarik pada permainan adik atau anak kita yang masih kecil. Hal ini karena kita telah menganggap permainan tersebut tidak bermanfaat dan tidak relevan bagi diri kita. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita harus bertanya dan mencari tahu warna batin kita. Kalau kita tidak pernah mencari tahu, bagaimana mungkin kita bisa berkata bahwa kita ingin keluar dari samsara?

Untuk bisa mencapai hal tersebut, kita harus jujur terhadap kualitas batin kita. Tanyakan pada diri kita, pencapaian seperti apa yang ingin kita raih? Hal ini sangat penting sebab sejauh mana ketertarikan kita terhadap pencapaian yang ingin digapai sebanding dengan hal baik yang akan kita peroleh. Setelah memasang target tersebut, kita harus banyak belajar. Kendati demikian, masalah lainnya timbul. Meskipun sudah belajar banyak, kita sering kali merasa sulit untuk menumbuhkan poin Dharma yang kita baca karena kita kekurangan berkah. Oleh karena itu, kita butuh guru spiritual yang mampu mengarahkan perahu bernama jasmani kita sebagai manusia menuju batin spiritual. Tidak sulit bagi kita memahami bahwa bertumpu pada guru spiritual dapat membantu mengalihkan batin kita, namun pemahaman sesungguhnya baru akan didapat jika kita benar-benar merenungkannya dengan serius. Guru telah menunjukkan nilai besar dari kelahiran sebagai manusia, yaitu pencapaian Kebuddhaan. Guru bahkan telah memberikan metode untuk mencapai hal tersebut. Akan tetapi, sejauh mana kita bisa melihat nilai dari kehidupan manusia tersebut—kecil, sedang, atau besar— tergantung pada sejauh mana kita bertumpu dan yakin kepada guru kita. Jika kualitas bertumpu kita dangkal, maka sejumlah itu pulalah penghayatan kita terhadap nilai kelahiran ini.

Guru kita telah meyakinkan kita bahwa Kebuddhaan sesungguhnya ada di dalam diri kita, tinggal seberapa keras kita mau berupaya untuk mencapainya. Je Rinpoche telah mengatakan bahwa tubuh manusia dengan kebebasan dan keberuntungan ini lebih berharga dari permata pengabul harapan, tinggal seberapa dalam kita mau memaknainya dalam kehidupan kita. Jika saja kita benar-benar memahami kalimat tersebut dengan hati kita, kita akan menyadari bahwa kehidupan duniawi ini memang sungguh seperti menampi sekam. Pembebasan ada di tangan kita. Pertanyaannya: maukah kita menyambar kesempatan untuk mewujudkan pembebasan tersebut dengan tubuh jasmani ini?