KEMBUL BUDOYO: NGUNDUH WOHING PAKARTI

  • May 29, 2019

Menumbuhkan Kesadaran Hidup yang Toleran dan Hidup Selaras dengan Alam

Tepat satu minggu setelah perayaan Hari Trisuci Waisak, persisnya 25 Mei 2019, Pusdiklat Jina Putra Tushitavijaya mengadakan sebuah acara diskusi kebudayaan. Acara tersebut bertajuk “Kembul Budoyo” dengan tema “Ngunduh Wohing Pakarti: Praktik Hidup Harmonis dengan Alam” bersama warga Desa Sumberoto (Dusun Sumberoto dan Dusun Tumpakmiri). Acara ini berisi diskusi tentang praktik hidup yang selaras dengan alam serta hidup toleran dengan sesama manusia. Latar belakang diadakan acara ini adalah karena tingginya minat masyarakat untuk dapat berkunjung ke lahan Pusdiklat dan semangat Pusdiklat dalam mengembangkan kesadaran konsep hidup harmonis dengan alam yang juga sejalan dengan budaya tersebut. Budaya Jawa yang tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat juga menambah semangat Pusdiklat untuk lebih mengupayakan keselarasan hidup dengan alam serta menjaga budaya masyarakat yang adiluhung tersebut. Dengan menjunjung tinggi budaya Jawa, harapannya agar semua lapisan masyarakat bisa saling bahu membahu serta guyub dalam menjaga perdamaian dan keberagaman.

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat yang terdiri dari perangkat Desa dari Dusun Sumberoto dan Dusun Tumpakmiri, tokoh agama, tokoh kebudayaan lokal, pekerja Pusdiklat, serta penghuni Pusdiklat. Acara Kembul Budoyo ini dihadiri kurang lebih seratus orang. Pembicara utama dalam acara Kembul Budoyo ini adalah Bapak Drs. Dwi Cahyono, M.Hum. Beliau adalah seorang arkeolog yang bekerja sebagai pengajar jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (UM). Beliau yang lahir di Tulungagung ini telah menempuh pendidikan S-1 Pendidilan Ilmu Sejarah IKIP Malang dan S-2 Bidang Studi Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau juga merupakan penulis buku “Arkeologi Sejarah Kalimantan di Situs Muara Kaman – Hasil Riset Arkeologi di Situs Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kertanegara” yang diterbitkan oleh Pemkab Kutai Kertanegara).

Acara Kembul Budoyo ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Trisuci Waisak 2019. Diskusi ini diadakan di Joglo Sasana Prabha Suyasa, Pusdiklat Jina Putra Tushitavijaya. Acara ini berjalan lancar dan terasa hidup. Pemaparan yang diberikan oleh pembicara tentang toleransi, keberagaman, dan keselarasan hidup dengan alam membuat diskusi menjadi hangat dan penuh semangat. Selain bertepatan dengan Bulan Waisak, Bulan Mei juga menjadi bulan yang istimewa bagi umat Islam karena bertepatan dengan Ramadhan. Karena itu, acara Kembul Budoyo ini dilakukan sore hari menjelang malam menyesuaikan dengan para hadirin yang sedang berpuasa. Satu kegiatan unik yang sudah jarang ditemui adalah makan bersama atau dalam Bahasa Jawa disebut “Kembulan” atau “Kembul Bujono”. Makanan disusun memanjang dengan nasi, lauk-pauk, lalu peserta makan bersama dengan duduk memanjang ke samping dan berhadap-hadapan. Cara makan seperti ini menambah kehangatan dan rasa kebersamaan antara semua peserta, khususnya masyarakat Desa sekitar Pusdiklat dengan penghuni Pusdiklat.

Tujuan utama acara ini adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat Desa, penghuni Pusdiklat, dan semua peserta yang hadir tentang pentingya menjaga budaya Jawa yang adiluhung. Memperkuat kesadaran dan praktik-praktik kebudayaan tersebut akan membuat masyarakat sekitar Pusdiklat lebih kuat secara ikatan sosial dan emosional. Bapak Dwi Cahono selaku pembicara juga memaparkan tentang sejarah desa dan karakter masyarakat bagian Selatan yang bergantung pada keanekaragaman alamnya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pun mencerminkan hubungan keselarasan hidup dengan alam seperti nelayan, petani tadah hujan, dan lain sebagainya. Pemaparan yang diberikan ini diharapkan bisa membuat masyarakat lebih memahami latar belakang budaya mereka sendiri sehingga mampu memahami ‘kedirian’ yang utuh sebagai manusia yang tidak bisa berdiri sendiri dan selalu terhubung dengan alam semesta.

Bapak Dwi Cahyono juga menekankan pentingnya merawat semangat toleransi antarmanusia. Sebagai bagian dari masyarakat dunia, peran kita sangat penting dalam menjaga toleransi, terutama di lingkungan masyarakat yang beragam seperti di Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo. Berbagai pemeluk agama dan orang dari berbagai kebudayaan ada di sini. Penting sekali bagi Pusdiklat sebagai bagian dari keberagaman ini untuk turut memperkuat semangat toleransi dan keberagaman dalam hidup. Menurut Bapak Dwi Cahyono, keberagaman harus dijadikan sebagai amunisi untuk memperkuat kemanusiaan bukannya sebagai dinding pemisah antara satu dengan yang lainnya. Merawat pebedaan berarti merawat kemanusiaan dan juga merawat semesta. Melalui sikap toleransi dan keterhubungan diri kita dengan alam, kita turut menjaga kehidupan yang harmonis dengan alam. Jika hidup kita bisa harmonis antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam, maka keseimbangan akan tercipta. Di situlah peran kita sebagai manusia, yaitu menyelaraskan hati, pikiran, dan raga dengan semesta.

Harapan kedepannya, acara Kembul Budoyo ini bisa diadakan rutin minimal satu tahun sekali sebagai trademark Pusdiklat Jina Putra Tushitavijaya untuk mengkampanyekan semangat toleransi, keberagaman dan hidup selaras dengan alam.

Lokah Samastah Sukhino Bhavantu,
Pusdiklat Jina Putra Tushitavijaya