Kim Ji Young – Born 1982: Ulasan Seorang Perempuan

  • December 22, 2019

Bertajuk tentang seorang anak, seorang istri, seorang ibu, seorang PEREMPUAN.

Terusik oleh tajuk yang tampaknya serupa dengan peranku dalam kehidupan ini, akhirnya kuputuskan untuk menonton film ini.

Berlatar belakang di kota Seoul, Korea Selatan, dengan budaya patriarki yang sangat kental, film ini menyajikan kisah yang begitu sarat makna dan bahan refleksi buatku mengenai peran seorang anak perempuan, sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga dan entitasnya sebagai seorang perempuan, juga bagaimana lingkungan sosial berdampak pada keutuhan hidup seorang manusia, mulai dari keluarga sebagai lingkup terdekat hingga negara tempat tinggal sebagai lingkup yang lebih besar. Sambil merefleksikan setiap tahapan yang telah kulalui, aku seolah sedang menyaksikan drama kehidupanku sendiri, tentunya tidak dengan latar belakang yang sama namun dengan peran di setiap tahap yang kurang lebih mirip. Bisa jadi film ini mewakili problematika kaum perempuan di generasiku.

Ini hanyalah sepenggal kesan yang muncul dalam benakku terhadap film ini.

Ji Young, seorang ibu rumah tangga beranak satu usia sekitar 2 tahun.

Dengan tatapan mata yang kosong dan raut wajah datar, tampak letih dan penampilan seadanya, aku menangkap kesan sebuah kehidupan yang tak bergairah dan adanya ketidakpuasan dalam hidupnya, hati yang hampa dan tak berdaya. Terperangkap dalam kehidupan yang tidak seperti dalam impiannya, namun seolah tanpa harapan atau pilihan untuk mengubahnya. Ironisnya adalah pilihan yang dibuatnya sendiri namun tanpa kesiapan mental yang cukup matang untuk menghadapi gejolak perubahan dalam hidupnya.

Antara impiannya untuk menjadi wanita karir yang tak mampu bersanding dengan statusnya sebagai seorang calon ibu, ia harus merelakan hilangnya kesempatan naik jabatan yang sudah terpampang di depan mata. Menjalani rutinitas ibu rumah tangga yang tiada habisnya dengan hati yang masih menyimpan mimpi untuk bisa kembali meniti karir.

Sampai saat ini, aku masih merasa bahwa tidak ada peran yang lebih menantang dari tanggung jawab sebagai seorang ibu. Bagaimana semua curahan hati, tenaga dan pikiranmu begitu menentukan masa depan dan kehidupan seorang anak. Butuh seorang perempuan berjiwa besar untuk menghasilkan seorang anak yang bahagia dan sehat secara mental. Perempuan yang tulus mengorbankan kehausan dirinya demi memuaskan dahaga si anak.

Namun, semua peran itu seolah bergulir begitu cepat tanpa kesempatan bagimu untuk menyekolahkan diri dan batinmu sebelum kau ‘terperangkap’ dalam jebakan kehidupan yang terlambat kita sadari dan lebih ironi lagi adalah pilihan kita sendiri.

Demikianlah Ji Young menjalani kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Ada pergolakan di dalam batinnya, antara keinginannya untuk tetap berkarir di perusahaan marketing dan juga ambisinya yang terpendam sebagai seorang penulis buku. Tarik-menarik dengan peran yang tak siap dihadapinya sebagai seorang ibu dan seabrek tugas rumah tangga yang mau-tak-mau, tidak-bisa-tidak harus diselesaikannya tanpa pilihan. Walau sesungguhnya pilihan mungkin tersedia manakala ia menemukan pengasuh anak paruh waktu yang bisa ‘menggantikan’ tugasnya sementara, tetapi siapa bisa menjamin keadaan apa yang akan kita hadapi pada saatnya itu terjadi?

Persepsi masyarakat yang acap kali menyepelekan peran seorang ibu rumah tangga juga menambah pelik keadaan ibu muda ini. Bukan hanya dari kaum lelaki, bahkan di antara sesama kaum perempuan pun ibu yang berkarir dan mempunyai penghasilan jauh lebih dihargai. “Sementara seorang IRT, hanya bersantai dirumah seraya menikmati gaji suami,” demikian gunjingan orang-orang di sekitar Ji Young yang membuatnya semakin tertekan.

Dalam kunjungan acara tahun baru ke keluarga suaminya, kedatangan Ji Young kesana buatku lebih tampak sebagai pembantu ketimbang menantu. Budaya patriarki yang begitu mendarah daging membuatnya begitu kikuk dan salah tingkah bahkan ketika suaminya sendiri ingin membantunya dengan pekerjaan menumpuk di dapur.

Peran sang suami yang sangat mencintainya membuat Ji Young merasa dia baik-baik saja. Meski suaminya tahu istrinya mengalami depresi paska melahirkan, ia berusaha membuatnya sewajar mungkin seakan tidak ada masalah berarti dengannya. Tampak jelas dari film ini betapa kesabaran dan perhatian yang sesungguhnya dari sang suami serta kepeduliannya akan kebahagiaan sang istri benar-benar berperan nyata bagi kesembuhan Ji Young.

Hingga akhirnya Ji Young menguaknya sendiri di hadapan ibu mertuanya. Tekanan batinnya membuat ia muncul sebagai pribadi lain tanpa ia menyadarinya. Lambat laun pihak keluarganya sendiri pun mulai mengetahui ada yang aneh terjadi dengan anak perempuan mereka ini. Hingga pada bagian paling akhir barulah dirinya sendiri yang disadarkan bahwa ia memang sakit dan perlu mendapatkan perawatan khusus. Disanalah titik tolak kesembuhannya. Tahap paling sulit yang harus dilewatinya adalah memutuskan untuk datang ke psikiater dan menjalani perawatan sebagaimana mestinya. Semua ini berhasil dia lalui berkat dukungan penuh dari suami dan keluarganya, khususnya ibunya yang sangat mendukung ia sedari kecil untuk mengejar semua mimpinya, ibu yang merasa bersalah karena tidak memperlakukan anak perempuan dengan asupan gizi yang setara dengan anak lelakinya, ibu yang begitu tulus mencintai anaknya. Dukungan penuh keluarganya dalam meraih impian yang telah dikuburnya dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang.

Kenyataan bahwa ia benar-benar sakit akibat trauma masa kecil dan harus pupusnya impian karena status perempuan yang telah berkeluarga telah mendobrak budaya patriarki yang telah mendarah daging di kedua belah pihak keluarga, baik keluarganya sendiri (terutama dari ayahnya) dan dari keluarga suaminya (terutama dari ibu mertuanya). Kisah ini berakhir bahagia dengan terwujudnya impian Ji Young untuk berkarir lagi dan dimuatnya karya tulisnya di media publik. Keikutsertaan suaminya dalam hal pengasuhan anak juga menandakan adanya penerimaan akan kesetaraan gender dari pihak keluarga besar mereka.

Secara keseluruhan film ini mungkin dapat membuka mata para perempuan, agar menimbang dari segala aspek setiap keputusan untuk berumah-tangga, pentingnya berbagi peran dengan pasangan yang sejalan, dan perlunya mempersiapkan diri secara fisik dan mental dengan benar-benar matang sebelum masuk ke dalam dunia seorang ibu. Bertanyalah pada dirimu sendiri, apakah ambisi pribadimu telah kau taklukkan? Apakah kau siap dan rela mengorbankan semua kebebasanmu, keinginanmu, mimpimu atau apapun dari dirimu demi menjadi tempat bernaung bagi anak-anakmu, tanpa peduli kau sedang letih ataupun sakit, kau mampu ataupun tidak? Ungkapan ini nampaknya sungguh tepat: “You will hold their hands for a while but you will hold their hearts forever”.


Menyaksikan alur drama film ini, jauh di lubuk hatiku, ada rasa syukur, rasa terima kasih yang mendalam. Meski diriku hanyalah seorang anak perempuan biasa yang juga pelik dengan konflik masa kecil, jauh dari bayangan sebuah keluarga idaman, tak terbersit pun kesempatan untuk mempersiapkan diri sematang mungkin menghadapi tahapan-tahapan itu, tapi arus karma menyeretku ke dalam sungai yang mempertemukanku dengan sebuah lautan kebajikan. Hidupku begitu diberkahi, gumamku. Beberapa tahap yang telah kulalui, apakah kulalui dengan baik, ataukah kulalui dengan buruk? Tak perlu orang lain menilainya, kujalani sesungguh-sungguhnya, berapa banyak tawa dan tangis yang telah mewarnainya tak perlu jua tuk ditampilkan. Kepedihan hati orang-orang yang terluka olehku, senyum bahagia mereka yang menyayangiku, semoga semuanya terbayarkan dengan ketulusan. Walau batin masih tertatih-tatih bergelut dengan klesha dan tubuh semakin merenta, satu hal yang pasti, asa akan tetap kujaga karena perjalanan masih menanti.

☺️