Liputan: Talkshow Satu Langkah Kecil untuk Mengubah Dunia

  • December 1, 2020

Sabtu (14/11), Kadam Choeling Indonesia menyelenggarakan talkshow “Satu Langkah Kecil untukMengubah Dunia” bersama Samaneri Tenzin Tshojung. Beliau adalah samaneri pertama di Indonesia yang menempuh pendidikan filsafat Buddhis berdasarkan tradisi Nalanda. Tak kurang dari tiga puluh kitab Dharma yang berbahasa Tibet telah diterjemahkan oleh Beliau. Samaneri Tenzin Tshojung juga pernah menjadi penerjemah lisan bagi banyak guru besar seperti Y.M.S Dalai Lama XIV dan Dagpo Rinpoche.

Talkshow dilaksanakan secara virtual via Zoom dan diikuti oleh banyak pendengar dari berbagai daerah di Indonesia. Talkshow ini bertujuan untuk mengajak banyak orang berbuat baik demi menyembuhkan Indonesia yang saat ini sedang sakit akibat pandemi COVID-19 tersebar merata di seluruh penjuru negeri.

Dalam perspektif Buddhis, adanya pandemi sebagai akibat dari karma buruk kolektif umat manusia satu dunia. Untuk mengatasinya pun harus dengan karma baik kolektif pula ditambah dengan purifikasi secara kolektif. Praktik purifikasi ini adalah suatu bentuk pemurnian buah karma buruk melalui penyesalan akan perbuatan buruk yang telah kita lakukan.

“Misalnya, selama ini, COVID-19 kita atasi dengan hal-hal yang berbau medis. Padahal, kita juga bisa melakukan penyesalan (purifikasi). COVID-19 ini muncul akibat dari dari sesuatu yang telah kita lakukan. Tidak bisa jika kita diam-diam pasrah tanpa ada gerakan ke sana,” tutur Samaneri Tenzin Tshojung.

Selain purifikasi, Samaneri juga menjelaskan lebih lanjut bahwa ada satu hal yang sering kali
dianggap sepele oleh kebanyakan orang, yakni doa. Nyatanya doa itu bukan sesuatu yang buruk–sekadar meminta-minta dan tidak penting. Doa yang dilakukan bersama-sama akan menjadi suatu kekuatan yang membuat hal baik yang kita harapkan dapat terkabul. Misal, kita bersama-sama berdoa agar pandemi segera berlalu. Bila dilakukan bersama-sama dengan tekad yang kuat, maka pandemi bisa segera berlalu dengan sokongan kebajikan yang kita miliki.

Namun, apabila doa yang sudah dilakukan secara bersama-sama belum membuahkan hasil, ada
kemungkinan bahwa kebajikan dari kita semua masih belum cukup sehingga perlu kebajikan yang lebih besar lagi. Oleh karena itu, jangan sampai kita bosan untuk berdoa dan berbuat baik. Segala sesuatu dapat terjadi apabila dalam situasi dan kondisi yang tepat serta waktu yang tepat pula dengan didukung oleh kebajikan. Kebajikan yang dilakukan juga harus didedikasikan secara murni untuk kebaikan bersama. Jadi, doa dan satu langkah kecil dengan penyalaan pelita pun bisa menjadi bagian dari kebajikan kolektif kita bersama di masa pandemi ini.

“Satu langkah kecil dengan penyalaan pelita ini memungkinkan untuk menghapus karma kolektif. Segala apapun kebajikan ketika kita dedikasikan secara murni kepada suatu hal maka bisa kita arahkan ke sana. Kita tidak bisa memenuhi sesuatu karena kurangnya kebajikan,” tutur Samaneri Tenzin Tshojung.

“Ada juga teks Dharma menyatakan kalau apapun yang seseorang inginkan dengan kebajikan yang besar maka akan terwujud. Kalau kita nggak punya kebajikan ya nggak akan terwujud,” tambah Beliau

Salah satu peserta bertanya pada Samaneri tentang perbedaan antara persembahan pelita dengan persembahan kebajikan yang lain. Samaneri menjelaskan perbedaannya berdasarkan dedikasi dari persembahan tersebut. Persembahan pelita yang ditujukan agar kegelapan dari COVID-19 ini bisa terang atau perlahan menghilang. Kita sebagai umat manusia juga harus bisa memandang bahwa adanya pandemi ini sebagai suatu kesempatan yang baik untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan momen yang tepat untuk memperbaiki diri.

Kemudian, ada pula pertanyaan lain tentang bagaimana caranya mempersembahkan satu buah pelita agar hasilnya lebih maksimal. Samaneri menjelaskan bahwa bila kita hanya memiliki Rp2.000,- untuk didanakan, maka pertama motivasinya harus besar dan baik, yaitu agar persembahannya dapat mengatasi penderitaan semua makhluk. Kedua, rasakan bahwa kita tidak hanya mempersembahkan satu, tetapi banyak. Ketiga, tunjang dengan keyakinan yang besar terhadap Triratna. Dengan tiga hal tersebut, maka suatu persembahan hasilnya akan lebih maksimal.

Manfaat persembahan juga dijelaskan dalam banyak Sutra. Dalam salah satu Sutra, dikisahkan bahwa ada seorang pengemis yang mempersembahkan minyak dan mendapatkan ramalan bahwa ia akan menjadi Buddha dua kalpa mendatang. Ramalan itu dapat terwujud karena ia mempersembahkan minyak dengan penuh keyakinan di tempat suci dan tanggal yang baik. “Kalau dalam sutra dikatakan tanggal baik itu 8, 15, dan 30. Di antara tanggal-tanggal baik itu bisa berlipat ganda kebajikannya dan jangan lupa berdedikasi yang unggul, merenungkan saya mempersembahkan untuk kepentingan siapa saja,” terang Samaneri Tenzin Tshojung.

Sebagai penutup Samaneri menjelaskan ada sutra lain dari masa Buddha Dipankara masih menjadi biksu. Beliau memiliki tekad untuk mempersembahkan pelita selama tiga bulan. Kemudian, ada seorang putri yang menyokong kebutuhannya. Buddha pada zaman itu pun meramalkan bahwa biksu tersebut akan menjadi Buddha Dipankara dan putri yang menyokongnya menjadi Buddha Sakyamuni.

Jadi, saat Anda berbuat kebajikan, landasilah dengan motivasi yang kuat. Apabila motivasinya untuk kebahagiaan semua makhluk, maka kebajikan yang dihasilkan juga akan besar. Jangan ragu- ragu untuk berdoa pada Triratna apabila doa itu mengandung hal-hal yang baik.


Apabila Anda juga ingin berbuat baik dengan menyalakan satu juta pelita untuk Indonesia, dana
dapat ditransfer ke BCA 848 013 8016 a.n Yayasan Wilwatikta Sriphala Nusantara. Konfirmasi via
Whatsapp ke Info Pelita 08118000329.


Satu juta pelita ini akan dinyalakan di rumah pelita (lamphouse) Biara Indonesia Tuṣita Vivaraṇācaraṇa Vijayṇṥraya, Malang