Oasis di Tengah COVID-19: Dharma Sang Mentari Dharma Kembali Berkumandang

  • August 27, 2020

Sungguh berkah yang amat luar biasa! Kadam Choeling Indonesia (KCI) sekali lagi bisa berkesempatan mengikuti pengajaran Dharma yang diberikan oleh Guru Dagpo Rinpoche. Ini adalah secercah harapan dari pandemi COVID-19 yang selama ini telah menyebabkan banyak keputusasaan bagi banyak orang. Berkat pandemi, orang-orang semakin terbiasa menggunakan teknologi komunikasi jarak jauh sehingga retret Lamrim bersama Guru Dagpo Rinpoche di Prancis kini bisa diselenggarakan secara online melalui aplikasi Zoom dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara. Secara khusus, kita dari Indonesia dapat berpartisipasi berkat kebaikan guru kita, Y. M. Suhu Bhadra Ruci, yang menghubungkan kita dengan Rinpoche serta para penerjemah dan panitia dari Tim Manajemen KCI.

Retret Lamrim ini diselenggarakan pada tanggal 10 hingga 21 Agustus 2020 dengan topik “Bertumpu pada Guru Spiritual”. Mengingat retret kali ini merupakan retret terbatas yang biasa hanya ditujukan untuk murid Guru Dagpo Rinpoche di Prancis, maka peserta retret kali ini juga harus memenuhi persyaratan. Bagi peserta dari Indonesia yang difasilitasi oleh KCI, syaratnya adalah aktif dan rutin mengikuti Program Pembelajaran Lamrim (PROLAM) KCI agar memiliki pemahaman dasar yang cukup untuk menjalani retret. Peserta juga harus meluangkan waktu untuk mengikuti keseluruhan sesi retret dari siang hingga malam hari.

Sesi retret pengajaran Dharma oleh Guru Dagpo Rinpoche bagi peserta di Indonesia terbagi menjadi 4 sesi, yakni sesi Praktik Pendahuluan pada pukul 13.30-15.00 WIB, sesi pengajaran Dharma oleh Rinpoche pada pukul 15.30-17.30 WIB, sesi meditasi pribadi pada pukul 19.00-19.45 WIB, dan sesi meditasi dengan bimbingan Tim Sumati Kirti (tim pengajar KCI) pada pukul 20.00-21.00 WIB.

Kekhasan Guru Dagpo Rinpoche ketika memberikan pengajaran Dharma adalah Beliau selalu berkenan menyediakan waktu untuk membimbing kita membangkitkan motivasi. Setiap harinya, Beliau akan mengutip kata-kata dari para guru besar dan kemudian membahasnya secara rinci dan mendalam. Berkat kebaikan Rinpoche ini, seharusnya setiap muridnya menjadi mampu untuk membangkitkan motivasi ketika mendengarkan ajaran.

Selain memberikan motivasi, sesuai dengan tradisi pengajaran Lamrim, Sang Guru akan mengulang kembali poin-poin garis besar Lamrim atau yang sering juga kita sebut dengan “Instruksi Guru Yang Berharga” sebelum memasuki pembahasan topik. Meskipun topik utama yang diberikan mengenai “Bertumpu pada Guru Spiritual”, topik tersebut baru dijelaskan pada hari keenam, yakni pada 16 Agustus 2020. Sebelum itu, dengan ketulusan dan kebaikan hati Beliau, kami, para murid kembali dibimbing setahap demi setahap untuk memahami topik-topik ajaran Lamrim dari awal hingga sampai ke topik utama. Rinpoche mengajar kami tanpa lelah maupun bosan. Bahkan, justru Beliaulah yang khawatir bahwa murid-muridnya yang merasa bosan dan mengabaikan topik ajaran yang pernah disampaikan secara berulang tersebut. Untuk itu, sering sekali Rinpoche mengatakan bahwa meskipun poin ajaran-ajaran ini telah kita dengar atau ketahui, penting sekali bagi kita untuk tetap menyimak dan mendengarkan ajaran. Kita perlu terus-menerus mendengar poin ajaran yang sudah kita ketahui untuk semakin memperkuat dan memperdalam pemahaman kita akan poin ajaran tersebut.

Masih sama seperti khas Guru Dagpo Rinpoche yang selalu berbaik hati dan penuh perhatian, Rinpoche selalu mengajarkan setiap poin ajaran dengan sangat rinci. Alasan Beliau mengajarkan dengan sangat rinci adalah mengingat murid-murid-Nya yang sekarang sedang mengikuti retret pengajaran bisa saja merupakan murid yang baru mengenal Lamrim atau bisa saja merupakan umat perumah tangga yang memiliki keterbatasan waktu untuk mempelajari Lamrim. Beliau selalu mengulangi alasan-alasan tersebut ketika hendak menjabarkan secara rinci topik ajaran yang diberikan-Nya.

Kitab yang dirujuk selama retret berlangsung adalah buku “Pembebasan di Tangan Kita” karya Phabongkha Rinpoche dan “Gomchen Lamrim” karya Geshe Ngawang Drakpa. Beberapa poin yang ada di kitab-kitab tersebut dituturkan kembali oleh Rinpoche dan bahkan dijabarkan kembali secara mendalam sehingga pemahaman kita seharusnya menjadi lebih kaya dibandingkan hanya dengan membaca saja. Poin ini berlaku khususnya untuk topik utama retret kali ini, yakni topik “Bertumpu Kepada Guru Spiritual”. Hal ini amat bermanfaat karena topik tersebut sulit dipahami jika kita mengandalkan nalar semata. Topik ini butuh penguatan keyakinan, kontemplasi, dan penggambaran dalam bentuk contoh-contoh keseharian. Saya rasa, ketiganya sendiri telah disampaikan Rinpoche dengan mahir. Saya sendiri merasa pemahaman dan keyakinan saya akan topik utama tersebut semakin dalam. Hal ini khususnya adalah poin menganggap Guru spiritual adalah sebagai Buddha yang sesungguhnya.

Salah satu poin yang paling mengena bagi saya sendiri adalah saat Rinpoche meyakinkan bahwa Buddha Vajradhara pasti hadir di tengah-tengah kita. Saya tidak ingat persis kata-kata Rinpoche secara detailnya, namun kurang lebih, seperti inilah yang Beliau katakan.

“Buddha Vajradhara berjanji akan menolong kita. Maka, sekarang saat
kita memiliki kondisi yang paling sesuai untuk mendengarkan ajaran dan
berpraktik Dharma dengan tubuh manusia yang sangat sulit diraih ini,
Buddha Vajradhara pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Buddha Vajradhara pasti hadir dalam sosok Guru spiritual. Buddha
Vajradhara pasti hadir di tengah-tengah Guru spiritual kita. Tidak perlu
diragukan lagi.”

Lebih lanjut, sesi meditasi yang diberikan dua kali, yakni sesi pribadi dan sesi dibimbing oleh Tim Sumati Kirti juga semakin mendorong setiap murid untuk benar-benar memahami Dharma yang disampaikan oleh Guru Dagpo Rinpoche. Hal ini selaras dengan hal yang selalu disinggung oleh Rinpoche sendiri bahwa ajaran Lamrim yang kita dengar sudah seyogyanya kita pelajari, renungkan, dan kemudian meditasikan.

Terakhir, pemahaman akan topik “Bertumpu Kepada Guru Spiritual” terasa begitu nyata mengingat kebaikan-kebaikan hati Rinpoche ketika memberikan ajaran. Hal ini amat terasa saat Beliau menutup setiap sesi ajaran dengan mengingatkan para murid-Nya dengan bait yang bagi saya sendiri tidak pernah gagal untuk membuat hati saya terharu. Rinpoche akan mengatakan,

“Demikianlah ajaran yang telah saya sampaikan. Dengan ketulusan
hati, saya memohon kepada Anda semua untuk mempraktikkan ajaran
yang telah Saya berikan tersebut.”

Bagi saya sendiri, poin ini dapat dimaknai bahwa kita sendiri yang mengharapkan kebahagiaan, tapi justru Guru kitalah (bukan kita) yang nyatanya berjuang mati-matian hingga memohon-mohon pada kita untuk mengejar kebahagiaan tersebut dengan mempraktikkan Dharma.

Guru kita, Guru Dagpo Rinpoche telah begitu baik hati dan berkenan meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengumandangkan Dharma, memberi kita oasis yang menyejukkan di tengah pandemi yang melanda. Harapan Beliau hanya satu, agar kita mempraktikkan apa yang Beliau ajarkan demi meraih kebahagiaan sejati. Mengingat hal ini, saya jadi terdorong dan termotivasi untuk semakin giat belajar dan berpraktik untuk membalas kebaikan hati para Guru yang tak terbatas.