Bodhicitta adalah harta karun kekal untuk melenyapkan kemiskinan dunia. Bodhicitta adalah jembatan semesta bagi para penyeberang yang ingin keluar dari samsara. Bodhicitta adalah purnama yang terbit di dalam batin yang menenangkan penderitaan mental dunia. Bodhicitta adalah mentari agung yang mengusir gelapnya ketidaktahuan dunia.
—Arya Shantideva
Kesepian dan merasa hampa adalah dua contoh permasalahan hidup kebanyakan manusia masa kini. Begitu banyak waktu dan perhatian kita habiskan untuk belajar atau bekerja tanpa henti tanpa sempat memperhatikan urusan hati. Sepekan sekali kita mungkin meluangkan waktu untuk bertemu sahabat, berkeluh kesah, dan bersenda gurau sesaat. Namun, begitu waktunya lewat, kita tinggal sendiri, dikepung oleh berbagai macam kecemasan yang menjerat.
Saat hening, kita bisa mendengar pikiran kita sendiri berbisik, berujar, atau bahkan berteriak. Sudahkah aku cukup? Apakah aku berarti? Kenapa aku tak lebih baik dari si anu dan si itu? Sanggupkah aku mencapai segala cita-citaku? Atau sekarang aku telah mencapainya, lalu apa?
Kita lalu menyingkirkan pikiran-pikiran itu dengan berbagai cara. Menonton film, bermain, menggulir media sosial, atau bekerja lebih giat lagi. Namun, tetap saja pikiran-pikiran itu menemukan waktu untuk kembali dan menjadi semakin lantang dan bervariasi. Aku sudah berjuang begitu kerja keras, kenapa yang kudapat tak setimpal? Kenapa si anu dan si itu bahagia sementara aku begini-begini saja? Kenapa segala hal yang dulu menyenangkan kini seolah hilang rasa?
Pengalaman seperti ini bisa terjadi karena kita terlalu lama dididik untuk hidup hanya demi diri sendiri atau segelintir orang yang punya hubungan langsung dengan kita. Kita diiming-imingi imbalan berupa kesenangan atau kebaikan yang berbalas. Kita tidak sadar bahwa pemikiran ini sesungguhnya bertentangan dengan cara kerja dunia yang alamiah, yakni setiap kesenangan di tataran indra akan merosot serta segala bentuk hubungan tidak kekal dan tak bisa dikendalikan satu pihak saja.
Lebih dari 2500 tahun lalu, Buddha telah memahami bahwa dunia ini sesungguhnya adalah dukkha, tidak kekal, dan tidak memuaskan. Pandangan seperti ini mungkin terkesan pesimis. Namun, Buddha juga menawarkan pilihan hidup lain yang bisa memberi makna pada keberadaan kita di dunia fana ini. Pilihan ini telah mengantarkan tak terhingga banyaknya para bestari untuk meraih kesempurnaan hidup dan memberi manfaat bagi banyak makhluk. Bahkan, pilihan itu jugalah yang dipelajari dan dihayati leluhur bangsa kita pada masa kejayaan peradaban Buddha Nusantara beberapa abad yang lalu.
Pilihan itu adalah BODHICITTA.
Bodhicitta atau batin pencerahan adalah tekad untuk meraih Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna demi mengakhiri penderitaan semua makhluk.
Tumbuhnya Bodhicitta berawal dari kesadaran bahwa kita tidak bahagia. Kemudian, kita menyadari bahwa semua makhluk di semesta ini juga tidak bahagia. Mengingat betapa pentingnya peran semua makhluk bagi kita dan ketergantungan kita pada kebaikan hati mereka dalam tak terhingga banyaknya kelahiran yang berulang—ibu yang merawat, ayah yang mendidik, sahabat yang menemani, dan masih banyak lagi, kita pun tidak tahan melihat mereka merasakan penderitaan seperti yang kita rasakan. Perasaan tidak tahan inilah yang disebut “welas asih”.
Dari welas asih, timbul perasaan sayang dan keinginan untuk memberikan kebahagiaan kepada semua makhluk yang tengah menderita. Perasaan inilah yang dinamakan “cinta kasih”. Perpaduan welas asih dan cinta kasih menghasilkan tekad luar biasa untuk menyempurnakan kebijaksanaan dan welas asih agar bisa mengantarkan semua makhluk bersama-sama meraih kebahagiaan sejati yang tak akan merosot lagi. Saat kita memutuskan untuk mewujudkan tekad tersebut, saat itulah Bodhicitta tumbuh di batin kita.
Menumbuhkan Bodhicitta berarti menumbuhkan welas asih dan cinta kasih mulai dari diri kita sendiri, lalu menyebar ke orang-orang terdekat kita, orang yang sering berinteraksi kepada kita, lalu meluas secara bertahap hingga mencakup semua makhluk. Bahkan ketika kita mulai berwelas asih pada diri kita sendiri saja, hidup kita akan berubah drastis. Kita jadi lebih mudah menerima kebaikan hati, merasakan kegembiraan saat menolong orang lain, menemukan tujuan hidup yang lebih beragam dan penuh makna, rasa kesepian berkurang, serta bisa menularkan kebahagiaan kepada banyak orang.
Kita pasti punya setidaknya satu pengalaman tentang kebaikan hati seseorang kepada kita yang amat sangat berkesan. Bisa saja pelukan dari orang tua saat kita ketakutan, bantuan rekan kerja saat kita kepepet deadline, atau bahkan orang asing yang menunjukkan jalan saat kita tersesat. Penelitian membuktikan bahwa kebaikan-kebaikan kecil ini semakin berkesan ketika kita sendiri memiliki welas asih dalam diri kita.
Tidak cuma itu, welas asih dan cinta kasih juga akan mendorong kita untuk menjadi pemberi kebaikan hati yang membuat orang lain berbahagia. Kita tidak perlu menunggu orang lain mengirimkan like di swafoto yang kita pos di media sosial untuk merasa gembira, lalu merasa kecewa ketika jumlahnya tidak sebanyak yang kita harapkan. Menolong orang lain semata-mata untuk kesejahteraannya terbukti meningkatkan aliran zat endorfin yang identik dengan rasa bahagia di otak kita. Dengan melatih Bodhicitta, kita tidak perlu bergantung pada imbalan atau penilaian orang lain untuk merasa bahagia.
Ketika kita berpikir untuk memenuhi kepentingan orang banyak, kita juga akan merasa hidup kita lebih bermakna. Alih-alih menghitung berapa gaji yang kita kumpulkan bulan ini dan seberapa jauh kita dari jumlah minimal untuk DP rumah, kita akan mengingat betapa banyak orang-orang yang terbantu berkat pekerjaan yang kita lakukan setiap harinya. Jika kita berdagang, setiap transaksi berarti kita telah membantu satu orang memenuhi kebutuhannya. Jika kita bekerja di kantor, kita membantu perusahaan kita menyediakan barang atau jasa apapun yang ditawarkan. Jika kita masih dalam fase mencari tujuan hidup, kita akan menemukan pilihan hidup yang lebih beragam dan tidak terbatas oleh prestise dan penghasilan.
Melatih Bodhicitta juga berarti berlatih memandang semua makhluk setara, sama-sama ingin bahagia, sama-sama tidak ingin menderita, dan sama pentingnya bagi diri kita. Dengan demikian, tidak ada ruang untuk merasa kesepian. Seringkali kita merasa sepi karena tidak bisa menghabiskan waktu dengan orang-orang “istimewa”—entah itu teman, pasangan, atau keluarga. Dengan Bodhicitta di hati, kita bisa menyadari bahwa semua orang tak kalah istimewa. Hati kita semakin luas. Kita pun makin bisa menghargai segala bentuk kehadiran orang lain dalam hidup kita yang sebelumnya kita abaikan.
Segala kebahagiaan yang bisa kita alami ini juga tidak akan berhenti pada kita saja. Karena kita secara aktif memberikan kebaikan kepada orang lain, kebaikan ini menular dan akan menggerakan orang lain untuk menyebarkan kebaikan lebih luas lagi.
Lebih jauh lagi, keputusan menumbuhkan Bodhicitta juga merupakan titik awal bagi kita untuk meraih kebahagiaan dalam artian yang sesungguhnya, melampaui kefanaan dunia. Ini hanya bisa diraih dengan menempa batin selangkah demi selangkah, menyempurnakan kebijaksanaan dan welas asih hingga menjadi seorang Buddha—yang sadar, yang terbebas dari segala kotoran batin yang mencemari persepsi kita dan melihat semua fenomena sebagaimana adanya, yang mampu membimbing semua makhluk mencapai keadaan yang sama. Ini adalah proyek jangka panjang, sebuah tujuan mulia yang akan memberi makna pada setiap momen dalam hidup kita.
Sebagai perintis historis yang telah mencapai kesempurnaan yang baru saja disebutkan tadi, Buddha Sakyamuni tentunya mengajarkan metode menumbuhkan Bodhicitta beserta seluruh langkah yang diperlukan untuk menyukseskan proyek mempersembahkan kebahagiaan kepada semua makhluk.
Metode ini diwariskan turun temurun dari Guru ke murid, secara lisan dan melalui teks, hingga sampai pada seorang Guru Dharma dari wangsa Syailendra yang hidup dan mengajar di Nusantara abad X, yaitu Guru Suwarnadwipa Dharmakirti. Berbagai peninggalan peradaban Buddhis Nusantara, mulai dari kitab-kitab seperti Sang Hyang Kamahayanikan, Kakawin Sutasoma (yang kemudian dikutip untuk semboyan negara kita), hingga bangunan seperti Candi Borobudur menandakan bahwa bangsa kita menjunjung Bodhicitta dan berusaha merealisasikannya dalam hidup mereka.
Pandit agung dari Biara Universitas Nalanda, Guru Atisha Dipankara Srijana, bahkan rela menempuh perjalanan laut selama belasan bulan dan tinggal di Nusantara selama belasan tahun guna mewarisi ajaran tentang cara menumbuhkan Bodhicitta dari Guru Suwarnadwipa.
Guru Atisha di kemudian hari pergi ke Tibet dan menuangkan ajaran yang Beliau terima dari Guru Suwarnadwipa dalam sebuah karya yang mereformasi Buddhadharma Tibet dan dunia. Karya itu berjudul “Bodhipathapradipa” (Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan), sebuah kitab mencakup keseluruhan ajaran Buddha, termasuk metode melatih Bodhicitta. Ajaran beliau kemudian berkembang menjadi Lamrim (Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk Ketiga Jenis Praktisi) yang juga diwariskan turun-temurun dari Guru ke murid hingga sampai kepada Guru Dagpo Rinpoche, kelahiran kembali dari Guru Suwarnadwipa sendiri.
Dengan Guru Dagpo Rinpoche sebagai pembimbing spiritual utama, setiap pembelajaran dan aktivitas di komunitas Kadam Choeling Indonesia (KCI) dirancang dengan tujuan untuk memelihara Bodhicitta di dalam batin semua orang.
Bersama-sama, kita mempelajari, merenungkan, dan memeditasikan setiap topik Lamrim setahap demi setahap, termasuk sampai ke tahapan melatih Bodhicitta yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa. Tujuannya adalah mentransformasi cara pandang dari yang hanya bisa memikirkan kepentingan diri sendiri jadi bisa memikirkan kepentingan banyak makhluk. Di saat yang sama, kita juga melatih gaya hidup dan melakukan kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi lingkungan sekitar guna menebarkan kebaikan hati mulai dari saat ini.
Semoga dengan setiap usaha ini, Dharma senantiasa lestari dan Bodhicitta tumbuh asri di batin setiap makhluk di Indonesia dan seluruh dunia ini.
Dalam Program Pembelajaran Lamrim (PROLAM),
kita akan dibimbing secara bertahap dari memahami tujuan hidup sebagai manusia hingga benar-benar bisa menumbuhkan Bodhicitta.
Luangkan 1-2 jam seminggu untuk mempelajari intisari Buddhadharma bersama teman-teman seperjuangan dengan pengajar yang seru.