“Melafalkan setiap nama dari 35 Buddha memiliki manfaat khusus. Dalam beberapa kasus, kita akan mampu memurnikan karma buruk yang telah kita kumpulkan selama kalpa-kalpa yang panjang.”
—Guru Dagpo Rinpoche
Sebagai manusia biasa, kita senantiasa kesulitan mengendalikan batin kita. Sebagian besar dari kita sudah terbiasa dengan kecenderungan tindakan, ucapan, dan batin yang tidak bajik. Akibatnya, kita berisiko menerima karma buruk besar berupa terlahir kembali di alam rendah pada kehidupan mendatang.
Untuk mencegah risiko tersebut, kita dapat mengubah buah karma buruk kita menjadi buah karma netral melalui praktik purifikasi. Harap diingat, meski sudah menjadi buah karma netral, jejak karma buruk tidak serta-merta hilang. Praktik purifikasi hanya memungkinkan buah karma buruk tidak matang pada diri kita. Ibarat sebuah benih yang dibakar hingga tak lagi mampu menghasilkan buah. Benihnya masih ada, tetapi sudah tidak lagi memiliki potensi untuk tumbuh.
Namun, keberhasilan purifikasi kita bergantung oleh seberapa kuat kita bisa menghadirkan 4 kekuatan purifikasi dalam praktik purifikasi kita. Jika kita tidak menghadirkan 4 kekuatan ini, walau tentu praktik namaskara atau lainnya bermanfaat, kekuatan purifikasinya tidak sekuat dengan penerapan 4 kekuatan.
1
Kekuatan Penyesalan: penyesalan yang tulus dan mendalam atas kesalahan yang kita lakukan.
2
Kekuatan Penawar: aktivitas bajik yang mampu membantu menetralkan karma tidak bajik.
3
Kekuatan Menahan Diri: tekad untuk menghindari tindakan tidak bajik.
4
Kekuatan Fondasi: Trisarana & membangkitkan Bodhicitta.
Praktik Pengakuan berdasarkan Sutra Tiga Himpunan atau sering disebut juga sebagai praktik Purifikasi 35 Buddha Pengakuan adalah praktik pengakuan akan perbuatan, ucapan, dan pemikiran tidak bajik kepada 35 Buddha. Keyakinan bahwa kesalahan kita dapat dinetralkan karena semua doa Buddha selalu terpenuhi, jika tidak maka tidak akan terwujud.
Pada praktik ini, kita akan melafalkan nama-nama Buddha dan kemudian bernamaskara pada tiap Buddha. Tiap Buddha dapat menetralkan kesalahan tertentu, misalnya: menghancurkan stupa, menghalangi berdana pada sangha, karma buruk yang dipengaruhi kesombongan, iri hati, kebencian, dan lain sebagainya.
Melafalkan nama-nama Buddha dapat membantu menetralkan karma-karma buruk yang telah kita lakukan sejak waktu tak bermula. Dalam Sutra Himpunan Tiga Mulia, Buddha Shakyamuni memberikan instruksi khusus untuk melafalkan nama 35 Buddha Pengakuan ini. Keefektifan istimewa dari doa-doa ini dalam menetralkan karma buruk berasal dari cara mereka membangkitkan aspirasi untuk mencapai pencerahan (Bodhicitta).
Dahulu ketika merealisasikan Bodhicitta untuk pertama kalinya, ketiga puluh lima Buddha ini mereka pernah membuat doa-doa:
“Ketika [kelak] aku menjadi Buddha, jika ada makhluk yang melafalkan namaku, semoga kesalahan-kesalahan yang terakumulasi/terhimpun selama 10.000 kalpa dapat ternetralkan,” atau “Semoga kesalahan-kesalahan yang dilakukan di bawah pengaruh kemelekatan dapat ternetralkan”, dan sebagainya.
Ketika pencerahan diraih, para Buddha mencapai 10 kekuatan Buddha. Salah satunya adalah kekuatan terhadap doa. Saat seorang makhluk membuat pengakuan kesalahan, menyesal, dan berdoa dengan melafalkan nama 35 Buddha, maka ia akan mendapat perlindungan dari setiap Buddha dan dapat memurnikan akumulasi karma buruk dari ribuan kalpa kehidupan yang mereka miliki.
Kecuali Buddha Sakyamuni dan Nageshvara raja yang berwarna putih
Kita mulai dengan membayangkan semua makhluk dari kehidupan lampau yang tak berawal berada di sekeliling kita. Ayah kita pada kehidupan saat ini berada di sebelah kanan dan dikelilingi oleh semua makhluk berjenis kelamin laki-laki. Ibu kita pada kehidupan saat ini berada disebelah kiri dan dikelilingi oleh semua makhluk berjenis kelamin wanita. Orang-orang yang kita sukai berada di belakang kita, dan orang-orang yang kita tak sukai berada di hadapan kita. Jadi, kita membayangkan semua makhluk dari enam kelas samsara mengelilingi kita dalam wujud manusia yang kondisinya tua, menderita, dan malang.
Kemudian, ingatlah semampu kita semua karma buruk yang telah kita lakukan. Rasakan penyesalan mendalam atas perbuatan salah dan munculkan tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Letakkan harapan kepada 35 Buddha di angkasa di hadapan kita dan lafalkan nama-nama mereka.
Ada beberapa cara memvisualisasi 35 Buddha:
Kita dapat melafalkan nama setiap Buddha dengan diikuti sebuah namaskara atau kita bisa duduk dan beranjali. Saat melafalkan nama Buddha, ingatlah manfaat besar dari pelafalan tiap-tiap nama. Tidak perlu mengucapkan nama Buddha dengan cepat. Lebih baik jika kita melakukannya dengan pelan sambil merenungkan manfaat dari setiap pelafalan nama Buddha. Ada 3 cara melakukan praktik ini; pertama, melafalkan dari awal teks hingga nama Buddha, bernamaskara 1x untuk tiap Buddha hingga akhir, ulangi dari awal dan seterusnya. Kedua, melafalkan Berlindung dan membangkitkan Bodhicitta, kemudian nama Buddha serta bernamaskara 1x untuk tiap nama Buddha, ulangi baca nama Buddha dan namaskara, setelah selesai, lafalkan sisa teks ini hingga akhir. Ketiga, tentukan kita mau namaskara berapa banyak, namaskara 3, 5, 7 kali untuk setiap pelafalan nama Buddha.
Bayangkan kesalahan dan halangan kita dan semua makhluk seperti 35 bola cahaya hitam kecil, seperti kacang hitam, di lidah kita. Saat kita mengucapkan satu nama Buddha, salah satu bola yang terbuat dari cahaya hitam tersebut pergi dari lidah kita dan menghilang ke angkasa Setiap bola melambangkan kesalahan-kesalahan, misalnya kesalahan yang dilakukan selama 10.000 kalpa, membunuh ibú kandung sendiri, menghancurkan stupa, dan sebagainya.
Kita juga dapat memvisualisasikan cahaya dan amrita larut ke tubuh kita dan memurnikan diri Anda.
Apapun visualisasi yang kita lakukan, sangatlah penting untuk merenungkan sesudahnya bahwa semua penghalang dan kesalahan-kesalahan telah dinetralkan.
Kita juga harus merenungkan bahwa ketika elemen kesalahan (pelaku, tindakan, dan objek), semuanya sunyata dari eksistensi inheren (eksistensi yang berdiri sendiri). Kesalahan tidak tercipta dengan sendirinya dan hanya timbul ketika ketiga kondisi di atas menyatu bersamaan, tidak mungkin sebaliknya. Penting untuk mengingat bahwa ketiga elemen semua adalah sunyata.
Back:
Persembahan Mandala
Next:
Purvangama