Je Tsongkhapa adalah seorang biksu cendekiawan sekaligus seorang yogi agung Tibet. Beliau memurnikan kembali kedua aspek ajaran Buddha di Tibet, yaitu Sutra, dan Tantra, yang sekali lagi mengalami kemerosotan setelah empat abad sebelumnya dimurnikan oleh Yang Mulia Atisha.
Je Tsongkhapa belajar pada banyak Guru dari berbagai tradisi Buddha Tibet. Guru utama beliau adalah Rendawa Zhonnu Lodro. Selain itu, Je Tsongkhapa juga memperoleh penglihatan dan transmisi lisan dari Manjusri, Vajrapani, hingga Guru Atisha. Atas bimbingan dari para Guru dan Istadewata serta ketekunannya, Je Tsongkhapa produktif melahirkan banyak karya agung yang menjadi rujukan pembelajaran Lamrim hingga kini.
Je Tsongkhapa lahir pada tahun 1357 di wilayah Tsongkha di Provinsi Amdo, Tibet sebelah Timur. Ayahnya adalah seorang yang berani, penuh semangat, tetapi bersifat pendiam dan lebih suka menyendiri, senantiasa memikirkan Dharma dan melafalkan Ungkapan Nama-Nama Manjusri setiap hari. Ibunya adalah seorang yang terus terang, tanpa akal bulus, dan sangat baik hatinya, senantiasa melafalkan mantra enam suku kata Avalokitesvara—Om Mani Padme Hum. Pasangan ini memiliki enam orang anak, Je Tsongkhapa adalah yang keempat.
Pada masa Buddha Sakyamuni, dalam kelahiran sebelumnya Je Tsongkhapa adalah seorang anak laki-laki yang mempersembahkan mala kristal jernih kepada Buddha dan menerima sebuah keong. Buddha memanggil Ananda dan meramalkan bahwa anak laki-laki tersebut akan lahir di Tibet, kelak mendirikan sebuah biara besar di antara wilayah Dri dan Den, mempersembahkan sebuah mahkota kepada rupang Buddha di Lhasa, dan berperan utama dalam menyebarluaskan Dharma di Tibet. Buddha memberikan sebuah nama masa mendatang bagi anak tersebut, yaitu Sumati Kirti, atau, dalam bahasa Tibet, Losang Drakpa.
Di usia tiga tahun, Je Tsongkhapa mengambil sila upasaka dari Karmapa IV, Rolpay Dorje, dan menerima nama Kunga Nyingpo. Pada usia tujuh tahun, beliau sudah mulai mendalami Sutra dan Tantra serta mengambil sila sramanera. Beliau juga menerima banyak abhiseka Tantra berikut ajaran-ajaran terkait, termasuk abhiseka Heruka, serta diberikan nama rahasia Donyo Dorje. Di sinilah, beliau menerima nama Losang Drakpa, yang kelak empat puluh tahun kemudian, menjadi sosok yang paling dibicarakan serta nama pena paling kontroversial di seantero Tibet Tengah.
Kemudian, pada usia 24 tahun, beliau ditahbiskan menjadi seorang biksu dan semakin luas pula aktivitas bajik beliau. Selain itu beliau tetap banyak belajar dan pada saat yang bersamaan juga memberikan pengajaran-pengajaran secara ekstensif. Selama masa hidup-Nya, beliau sangat sering melakukan penyunyian, baik penyunyian pribadi maupun bersama Guru Spiritual ataupun murid-murid Beliau.
Salah satu karya Beliau yang terpenting adalah Lamrim Chenmo atau Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, sebuah ulasan terhadap kitab "Bodhipathapradipa" karya Guru Atisha Dipankara, pandit besar yang mereformasi Buddhisme Tibet abad XI dan diyakini sebagai salah satu kehidupan lampau Je Tsongkhapa. Risalah ini mengandung pokok-pokok ajaran filsuf besar Buddhis Nagarjuna dan Asanga secara lengkap dan terperinci memaparkan tahapan demi tahapan yang harus dilalui seorang praktisi Dharma untuk mendisiplinkan batin hingga dapat mencapai pencerahan. Struktur dalam risalah inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Lamrim dan menginspirasi banyak Guru-Guru besar lainnya dalam menggubah teks Lamrim lain menggunakan struktur serupa. Enam ratus tahun setelah parinirvana, kitab Lamrim Chenmo dan ajaran Lamrim secara umum masih dipelajari oleh umat Buddha di seluruh dunia.
Selain Lamrim Chenmo, beberapa karya Je Tsongkhapa lainnya adalah:
Warisan dari Je Tsongkhapa adalah tradisi Gelug yang merupakan satu dari 4 aliran utama dalam Buddhisme Tibet yang didirikan oleh Khedrup Je, salah satu murid utama Beliau. Ada dua hal yang menjadi ciri khas tradisi Gelugpa yang juga berperan penting dalam pelestarian Buddhadharma, yaitu disiplin monastik atau Vinaya dan sistem pembelajaran tekstual.
Je Tsongkhapa secara khusus juga memiliki koneksi dengan Buddhadharma di Nusantara. Beliau mewarisi ajaran dari silsilah Guru Atisha yang pada masanya merupakan murid utama dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti, mahaguru dari Sriwijaya yang dulu mengajar di Nusantara. Melalui aktivitas-aktivitas Beliau dalam melestarikan dan mengembangkan Buddhadharma dari silsilah Guru Atisha, Je Tsongkhapa telah turut melestarikan Buddha Dharma Nusantara yang diajarkan oleh Guru Suwarnadwipa. Ketika Buddhadharma di Nusantara merosot dan banyak kitab dan ajaran hilang, Dharma Nusantara tetap hidup berkat Guru Atisha dan Je Tsongkhapa dan terjaga hingga bisa kembali lagi sekarang.
Back:
Guru Silsilah
Next:
Drepung Trisur Rinpoche