Bagaimana Mengubah Karma Anda: Apa itu Karma?

  • January 21, 2011


Sesi 2: 8-Januari 2011 14:00-16:30
Tadi kita sudah mengambil waktu untuk membangkitkan motivasi yang benar dalam mendengarkan ajaran dan Anda sekalian sudah bisa membangkitkannya di dalam batin. Tapi kita sudah istirahat sejenak dan waktu sudah berlalu. Ada baiknya kita sesuaikan lagi kerangka berpikir kita dalam artian membangkitkan motivasi sesuai dengan penjelasan yang telah diberikan pada sesi sebelumnya.
Artinya, kalau Anda adalah pengikut Mahayana, maka Anda harus mengingatkan diri sendiri bahwasanya Anda sekarang sudah mendapatkan kesempatan yang luar biasa dan istimewa, yaitu sebuah kehidupan yang diberkahi dengan kebebasan dan peluang emas. Oleh sebab itu, Anda harus bertekad untuk merebut kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya dan mendaya-gunakan metode apapun juga untuk mencapai Kebuddhaan secepat-cepatnya, sehingga bisa mencapai kebahagiaan semua makhluk, artinya membebaskan mereka dari penderitaan dan memberikan kebahagiaan sejati kepada mereka semua.
Bagi praktisi Pratimoksayana, Anda bertekad untuk mencapai pembebasan dari samsara, dan untuk itulah Anda akan mendengarkan ajaran yang disampaikan.
Untuk peserta sisanya, Anda harus menyadari kesempatan berharga yang terkandung dalam kehidupan yang sudah Anda dapatkan sekarang ini, dan Anda bertekad untuk memanfaatkannya demi menolong sebanyak-banyaknya makhluk lain agar terhindar dari penderitaan dan bekerja untuk mencapai kebahagiaan. Untuk tujuan ini, Anda perlu berupaya mengembangkan kualitas-kualitas bajik Anda sendiri agar lebih meningkat dan lebih kuat. Untuk itulah Anda ada di sini untuk mendengarkan dharma dan kita semua akan mendengarkan untuk kemudian mempraktikkan apa yang sudah didengar dan dipahami.
Sebelumnya sudah dijelaskan siapa atau apa yang menghimpun karma, yaitu ‘diri’ atau ‘aku’ yang semata-mata merupakan penampakan yang ditangkap oleh batin berdasarkan adanya skandha, ataupun kesan yang ditangkap dan dilabeli berdasarkan adanya skandha.
Walaupun ‘diri’ atau ‘aku’ hanya muncul atau eksis dengan cara demikian, yaitu penampakan oleh batin berdasarkan skandha, dst, tapi ketika kita mempersepsikan ‘diri’ atau ‘aku’ kita sendiri, kita tidak mempersepsikannya dengan cara seperti itu. Justru sebaliknya, kita mempersepsikan ‘aku’ sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan dihasilkan oleh dirinya sendiri. Kita tidak hanya merasa ‘aku’ bisa muncul sendiri dan berdiri sendiri, tapi kita juga berpegang teguh dan mencengkram pada pandangan adanya ‘aku’ yang eksis dengan cara seperti itu.
Persepsi yang mencerap ‘diri’ atau ‘aku’ sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh dirinya sendiri adalah pemahaman yang keliru, karena ‘diri’ atau ‘aku’ tidak eksis dengan cara demikian.
Sebenarnya, ‘aku’ yang dibayangkan oleh persepsi kita, yaitu ‘aku’ yang berdiri sendiri, muncul dengan sendirinya, adalah ‘aku’ atau ‘diri’ yang harus ditolak. Ketika disebutkan mengenai ‘tanpa aku’ atau ‘ketanpa-aku-an’ atau anatta di dalam buddhisme, ini merujuk pada pemahaman bahwa ‘aku’ yang demikian, tidak eksis atau tidak ada.
Dikarenakan adanya pemahaman yang keliru akan ‘aku’, yaitu persepsi yang keliru tentang konsep ‘diri’ atau ‘aku’ inilah, yang menganggap ‘aku’ bisa berdiri sendiri, dan pemahaman ini dipegang dan dicengkram dengan kokoh, maka keseluruhan pemikiran tentang diri kita sendiri menjadi dilebih-lebihkan atau menggelembung. Kita merasa diri kita sendiri jauh lebih penting dibandingkan semua hal kalau kita merasa adanya ‘diri’ atau ‘aku’ yang bisa berdiri sendiri ini.
Persepsi akan adanya ‘aku’ ini, yang berdiri sendiri dan memiliki hakekat yang sejati, dikatakan sebagai akar dari samsara. Ini menuntun kita pada pembahasan berikutnya, yaitu bagaimana seorang makhluk hidup menghimpun karma.
Berdasarkan pandangan yang keliru tentang bagaimana cara kita eksis, atau bagaimana cara ‘aku’ eksis, ditambah dengan nilai penting yang dilebih-lebihkan yang kita lekatkan pada ‘aku’ tersebut, maka kita memiliki kesan yang kuat terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan diri kita sendiri. Kita merasa segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kita sendiri sebagai sesuatu yang maha penting, dimulai dari kebahagiaan kita sendiri, hal-hal baik yang kita inginkan, dan kita mengembangkan kemelekatan terhadap segala sesuatu yang berada pada pihak atau sisi kita.
Karena keberpihakan yang kuat pada sisi kita sendiri ini, maka muncullah pembedaan terhadap ‘mereka’ atau ‘pihak lain’, sehingga muncullah dikotomi dalam segala sesuatu, yakni antara ‘kita’ dengan ‘mereka’. Segala sesuatu yang merintangi kebahagiaan dan kepentingan kita, kita taruh di sisi yang berseberangan. Dan kita bangkitkan perasaan tidak suka, bermusuhan, menolak, bahkan kemarahan terhadap pihak yang berseberangan ini. Di sisi lain, kita membangkitkan kemelekatan yang kuat pada segala sesuatu yang ada di pihak kita sendiri, menggelembungkan atau melebih-lebihkan nilai pentingnya daripada kondisi kenyataannya yang sebenarnya.
Dalam kondisi seperti itu, apa yang muncul kemudian? Yang muncul adalah tiga perasaan mendasar, yaitu 1) Kemelekatan, 2) Kemarahan/ sifat bermusuhan/ penolakan, 3) Kebodohan batin/ ketidak-tahuan. Ketiganya ini disebut sebagai Tiga Racun Mental, muncul berdasarkan akarnya, yaitu kesalah-pahaman konsepsi akan adanya aku dan sifat dasar aku itu sendiri.
Akan tetapi, untuk munculnya salah satu dari ketiga racun mental tersebut, maka sikap mencengkram yang melandasinya juga harus muncul dengan kuat. Sikap mencengkram ini tentu saja senantiasa ada, tapi tidak selalu muncul dengan kuat. Ia merupakan pondasi bagi munculnya ketiga racun mental. Agar salah satu dari ketiganya bisa muncul, maka pondasi sikap mencengkram ini pun harus muncul dengan kuat.
Jadi, berdasarkan kemelekatan, kita pun bertindak dan berperilaku dengan melibatkan fisik, ucapan, dan pikiran, dan dari sinilah kita mengumpulkan karma. Tergantung pula pada objek kemelekatan kita, misalnya kalau kita tertarik atau melekat pada kebahagiaan pada kehidupan saat ini, maka kita akan bertindak dan berperilaku dengan cara sedemikian rupa untuk mengejar kebahagiaan ini.
Karma apa yang kita kumpulkan kalau kita mengejar kebahagiaan kehidupan sekarang ini? Jawabannya adalah karma yang akan melemparkan kita pada kelahiran di alam-alam rendah.
Seandainya kita tertarik atau melekat pada kebahagiaan akan kelahiran-kelahiran akan datang yang lebih baik, yaitu kelahiran-kelahiran di alam yang tinggi di dalam samsara, maka segala tindak-tanduk kita akan diarahkan untuk mencapai kebahagiaan ini. Artinya kita akan mengejar kebahagiaan dalam kelahiran kembali yang baik, yang didorong oleh kemelekatan akan kebahagiaan seperti ini, sehingga kita bertindak dan berperilaku, baik dengan tubuh jasmani, ucapan, dan pikiran, untuk menciptakan karma yang akan menghasilkan kelahiran kembali yang tinggi di dalam samsara, misalnya sebagai manusia atau dewa.
Sekali karma-karma tersebut sudah dihasilkan, dan salah satunya adalah karma pelempar, maka ketika tiba saatnya karma ini akan membuahkan hasilnya, inilah yang akan menuntun pada akibatnya, yaitu kelahiran kembali di alam tinggi atau rendah. Yang pasti adalah kita akan mendapatkan suatu bentuk kelahiran yang baru, di mana dalam kehidupan yang baru ini pun kita akan menciptakan jenis-jenis karma yang serupa dan yang kita kumpulkan malah semakin banyak, yang pada gilirannya menghasilkan kelahiran kembali yang serupa pula.
Ketika masing-masing dari banyaknya karma yang kita kumpulkan itu membuahkan hasil, yakni ketika kita mati, kita akan terlahir kembali, dan ini semua dikarenakan pemahaman yang keliru akan adanya ‘aku’ atau ‘diri’. Berdasarkan pemahaman mendasar yang keliru inilah, muncul-lah ketiga racun mental, dan ketiga racun mental ini pada gilirannya menuntun kita untuk menciptakan karma-karma pelempar untuk terlahir kembali di dalam samsara. Dan proses ini berlanjut terus-menerus tanpa akhir. Akibatnya adalah kita harus mengalami berbagai macam penderitaan samsara, apakah itu dalam kelahiran kembali di alam tinggi maupun rendah.
Jadi, jelas sudah, kalau Anda ingin menghindari akibat-akibat buruk, yaitu penderitaan samsara secara keseluruhan, dan terutama penderitaan di alam rendah, maka Anda harus melakukan sesuatu terhadap penyebab langsung dari penderitaan tersebut, yaitu karma-karma tercemar yang akan menghasilkan akibat berupa penderitaan itu.
Kalau kita ingin berhenti menghimpun karma yang akan membuahkan akibat buruk, maka kita harus melakukan sesuatu terhadap penyebab-penyebabnya, yaitu ketiga racun mental tadi. Artinya, kita harus paling tidak berupaya untuk mengatasi ketiga racun mental ini agar bisa mencapai hasil yang diinginkan.
Atau dengan kata lain, kita bisa merubah proses ini dan tidak membiarkan sikap memegang dan mencengkram—kedua-duanya adalah bentuk kemelekatan—muncul dalam batin kita. Karena kedua sikap inilah yang memperkuat karma pelempar yang sudah dihasilkan dan kita bawa ke mana-mana. Kedua sikap ini yang memicu agar karma pelempar bisa matang dan membuahkan hasilnya.
Tapi sebagaimana yang sudah kita lihat tadi, ketiga racun mental, yaitu kemelekatan, kebencian, dan kebodohan batin, ketiganya ini dilandasi oleh pemahaman akan adanya aku yang keliru. Cengkraman pada pandangan adanya aku yang keliru inilah yang disebut sebagai akar samsara. Satu-satunya cara untuk menghentikan munculnya ketiga racun mental dalam batin kita adalah dengan menghancurkan akarnya, yaitu mencengkram pandangan akan adanya aku tersebut.
Tapi sebelum kita benar-benar bisa menghancurkan akar samsara, yaitu cengkraman pandangan adanya aku itu sendiri, pertama-tama yang bisa kita lakukan adalah setidak-tidaknya mengendalikan ataupun mencegah cengkraman ini muncul dengan kuat. Kalau cengkraman ini kuat dan bermanifestasi keluar, maka ketiga racun mental juga akan muncul dengan kuat. Satu-satunya cara untuk mencegah munculnya sikap mencengkram yang kuat adalah dengan memahami ketanpa-aku-an, yaitu sebuah pemahaman yang menolak atau berlawanan atau berkebalikan langsung dengan pemahaman keliru akan adanya aku, dengan kata lain mendapatkan pemahaman akan kesunyataan.
Ketika Anda sudah memahami kesunyataan/ ketanpa-aku-an, walaupun belum menghancurkan cengkraman terhadap pandangan adanya aku untuk kemudian memotong akar samsara, tapi setidak-tidaknya Anda sudah bisa sedikit mengendalikan dan mencegah munculnya cengkraman akan pandangan adanya ‘aku’ yang kuat, yang pada akhirnya akan menghentikan penghimpunan karma pelempar di bawah pengaruh cengkraman pandangan keliru tersebut.
Ketika Anda sudah menembus shunyata atau ketanpa-aku-an secara langsung, Anda telah menjadi seorang Arya. Ada 3 jenis Arya:
1)Srawaka Arya / Pendengar
2)Pratyeka Buddha / Perealisasi Sendiri
3)Bodhisatwa / Arya Mahayana
Apa yang baru saja Rinpoche paparkan bisa dibedakan menjadi dua jenis pemaparan. Yaitu, bagaimana kita mengumpulkan/ menghimpun/ memproduksi karma yang tercemar, yaitu karma untuk terlahir kembali di dalam lingkaran keberadaan atau samsara. Pertama-tama Rinpoche menjelaskannya dalam urutan kronologis yaitu dimulai dari penyebab akarnya, yaitu cengkraman pada pandangan adanya ‘aku’, yang kemudian memunculkan apa yang disebut dengan tiga racun mental, dst, dan pada gilirannya, ketiga racun mental ini mengakibatkan seseorang menghasilkan karma yang tercemar/ terkontaminasi, dan akhirnya ketika karma-karma tercemar tersebut matang dan membuahkan hasilnya, maka dampaknya adalah kelahiran kembali di dalam lingkaran eksistensi yang berulang. Di sisi lain, ada penjelasan dari sudut pandang urutan yang berkebalikan, yang dijelaskan mulai dari bagaimana menghentikan kelahiran kembali di dalam samsara.
Sekarang kita akan mengikuti prosedur tadi pagi, yaitu ketika satu topik sudah selesai dijelaskan, kita akan membuka sesi tanya-jawab. Apabila ada yang hendak menanyakan poin kedua ini, silahkan.
Tanya: Tadi disebutkan bahwa kemarahan hanya akan menghasilkan satu jenis akibat, yaitu kelahiran kembali di alam rendah. Apakah itu berarti bahwa kita tidak boleh marah sama sekali?
Jawab:
Ya, idealnya seseorang seharusnya tidak boleh marah sama sekali karena kemarahan mengandung resiko yang besar sekali yang bisa menghancurkan kebajikan seseorang. Itulah sebabnya mengapa Yang Mulia Shantidewa, seorang guru besar India mengatakan bahwa tidak ada yang lebih buruk daripada kemarahan. Penjelasannya: karma bajik yang sudah Anda ciptakan dan kumpulkan dari kegiatan seperti memberi persembahan, mempraktikkan kemurahan hati (berdana), menjaga sila dengan murni, dst, untuk waktu yang sangat sangat lama sekali; kumpulan kebajikan ini bisa hancur oleh satu momen kemarahan yang singkat. Tentu saja kemarahan ini merujuk pada kemarahan yang ditujukan kepada makhluk-makhluk agung, yaitu makhluk-makhluk yang sudah memiliki pencapaian dan kualitas tinggi. Kemarahan itu sendiri saja sudah bersifat destruktif atau memiliki efek menghancurkan, apalagi kemarahan yang ditujukan kepada makhluk-makhluk superior. Kutipan senada juga diutarakan oleh Yang Arya Chandrakirti, yang pada dasarnya menyebutkan bahwa tidak ada yang lebih buruk daripada sifat tidak sabar, yaitu kemarahan.
Kutipan dari teks dan ucapan guru-guru besar itu bisa kita pahami dari satu sisi, tapi dari sisi lain, kalau kita telaah secara logis, maka kita sendiri pun sebenarnya bisa membandingkan akibat atau efek dari kedua sifat ini, yaitu kemarahan/ sikap bermusuhan bila dibandingkan dengan kemelekatan. Kedua sifat ini tentu saja sama-sama negatif, tapi kita bisa melihat perbedaannya, dalam artian kemelekatan sedikit lebih ringan bila dibandingkan dengan kemarahan.
Dengan kemelekatan, seseorang masih bisa menghimpun karma bajik, berdasarkan kemelekatannya tersebut. Misalnya, karena kemelekatan terhadap kelahiran kembali yang baik di dalam samsara, seseorang kemudian berniat untuk mendapatkan kelahiran kembali yang baik tersebut, dengan kata lain, ia melekat pada kebahagiaan kehidupan seorang manusia, yang kemudian menuntunnya untuk melakukan kebajikan-kebajikan yang akan menghasilkan kelahiran seperti ini, misalnya menjaga sila, berdana, dan seterusnya.
Jadi, karena kemelekatannya seseorang bisa melakukan berbagai macam kebajikan yang nantinya akan berbuah dalam bentuk kelahiran kembali yang baik seperti yang diinginkannya. Sedangkan pada kasus kemarahan/ sikap bermusuhan, tidak ada kebaikan apa pun yang bisa muncul dari sikap ini. Seseorang tidak bisa mengumpulkan kebajikan kalau ia memiliki kemarahan di dalam batinnya.
Tanya: Apakah ada pengkategorian kemarahan, misalnya marah yang kasar hingga paling halus?
Jawab:
Ya, memang ada tingkatan kemarahan yang berbeda-beda, berdasarkan intensitas kemarahan itu sendiri dan juga durasi atau jangka waktu kemarahan itu muncul dalam batin seseorang. Selain itu, juga ditinjau dari objek kepada siapa kemarahan itu ditujukan. Jadi ada sisi subjektif, dari sudut intensitas kemarahan yang dibangkitkan oleh seseorang, dan juga dari sisi objeknya.
Misalnya, jauh lebih buruk adalah akibat dari kemarahan yang ditujukan kepada makhluk-makhluk superior seperti Bodhisatwa, atau misalnya kepada seseorang yang berjasa banyak kepada kita, misalnya kedua orang tua kita, ataupun seseorang yang sudah menunjukkan kebaikan kepada kita. Juga, sangat serius kalau kita marah kepada orang yang sangat menderita dan tidak memiliki apa-apa dan berada dalam kondisi mengenaskan, lemah, dan tanpa pertolongan. Untuk semua objek yang disebutkan di atas, kemarahan yang dibangkitkan kepada mereka jauh lebih berat kalau dibandingkan misalnya kemarahan yang ditujukan kepada seseorang yang relatif netral.
Tambahan, apa yang menjadikan kemarahan makin parah adalah dari sisi jangka waktu dan pengulangan, artinya kemarahan yang dilakukan secara berulang-ulang kali. Berikutnya, kemarahan juga menjadi kuat ketika seseorang saking marahnya, kemarahannya berada di luar kendali dirinya sendiri, artinya ia kehilangan kendali akan dirinya sendiri karena saking marahnya. Yang ketiga, kemarahan semakin berat kalau tidak ada penawar atau penangkal yang diterapkan, misalnya seseorang tidak merenungkan akibat buruk yag timbul dari kemarahan, tidak ada penyesalan sama sekali, dsb. Semua situasi ini mengakibatkan kemarahan menjadi lebih berat dan lebih serius.
Kalau kemarahan yang dibangkitkan lebih berat dan lebih serius, tentu saja karma buruk yang dihimpun juga lebih berat dan lebih serius. Tambahan untuk kategori ketiga, yaitu kemarahan yang makin berat akibat tidak adanya penawar atau penangkal, di sini juga termasuk tidak adanya praktik purifikasi yang diterapkan. Seseorang yang marah dan kemudian tidak mengakuinya, serta tidak menahan diri di waktu yang akan datang, maka kemarahan dan karma buruknya jauh lebih berat.
Tanya: Tadi disebutkan bahwasanya tidak ada ‘aku’ yang berdiri sendiri dan kita yang melebih-lebihkan nilai pentingnya. Bagaimana kaitannya dengan konsep ‘harga diri’ karena dalam bersosialisasi di dalam masyarakat kita harus memiliki apa yang disebut harga diri.
Jawab:
Di dalam Buddha Dharma, memang ada konsep yang disebut ‘harga diri’ atau menghargai diri sendiri, tapi apakah konsep menghargai diri sendiri ini sama dengan pemahaman dalam konteks bermasyarakat secara umum, Rinpoche tidak begitu yakin.
Di dalam Buddhisme sendiri, sikap menghargai diri sendiri adalah sebuah perasaan atau sikap yang dimiliki oleh seseorang karena apa adanya dirinya, yaitu seseorang yang sudah terlahir sebagai manusia, artinya ia tidak boleh berperilaku sembarangan, karena ia bukan binatang, misalnya. Terlahir sebagai manusia berarti seseorang memiliki kapasitas seorang manusia, yang bisa memahami bahwasanya tidak benar kalau kita menyakiti orang lain, tidak tepat kalau kita menyia-nyiakan peluang emas dan terjerumus dalam perilaku yang tidak bermanfaat. Menghindari perilaku-perilaku yang keliru dan tidak bermanfaat inilah yang disebut sikap menghargai diri sendiri.
Kalau misalnya konsep ‘harga diri’ yang dimaksud adalah sikap merasa diri sendiri paling penting, paling bernilai, paling baik, maka Anda harus hati-hati, karena ada kesombongan yang terlibat di sini, dan bahkan boleh jadi ada sifat mementingkan diri sendiri yang menjurus pada sikap egois. Dalam kasus ini, tentu saja ‘harga diri’ seperti ini tidak tepat dan tidak bermanfaat serta tidak perlu.

Sekarang mari kita telaah lebih jauh mengenai karma itu sendiri. Dewasa ini banyak sekali orang yang menggunakan istilah ‘karma’. Orang-orang dengan gampangnya menggunakan istilah ‘karma’ dan kata ini sering kali terucap dalam banyak kesempatan tanpa benar-benar memahami apa maksudnya. Tapi Rinpoche rasa kebanyakan peserta di sini bukan termasuk orang yang demikian, karena kebanyakan Anda adalah penganut Buddhis, sehingga kemungkinan besar tidak terjerumus dalam kesalahan sikap seperti itu. Yang Rinpoche maksudkan tadi adalah merujuk pada masyarakat awam secara umum.
Ketika ada orang berujar, ‘Karma, ini adalah karmaku,’ yang ada dalam benaknya semata-mata adalah karma buruk atau karma negatif, yaitu sesuatu yang menimbulkan masalah dan ketidak-bahagiaan, apakah itu sebab-sebab yang menjerumuskan orang ke dalam samsara, ataupun harus mengalami berbagai macam permasalahan, dan sebagainya. Jadi, yang dimaksud dengan karma oleh kebanyakan orang hanya merujuk pada karma buruk saja.
Sebenarnya yang dimaksud dengan karma, tentu saja mencakup karma baik dan karma buruk. Atau lebih tepatnya lagi, karma yang tercemar/ terkontaminasi dan karma yang tidak tercemar/ tidak terkontaminasi.
Karma yang tercemar/ terkontaminasi adalah karma yang berkaitan dengan samsara. Kebanyakan dari karma tercemar ini adalah karma yang dikumpulkan/ dihimpun/ dihasilkan oleh orang-orang biasa kebanyakan. Orang biasa di sini maksudnya makhluk yang belum mencapai tingkatan Arya.
Tidak semua karma yang tercemar merupakan karma pelempar untuk terlahir kembali di dalam samsara. Kebalikan dari karma yang tercemar adalah karma yang tidak tercemar/ tidak terkontaminasi. Karma yang tidak bercemar ini adalah karma yang ada di dalam arus batin para Arya, apakah itu Srawaka, Pratyeka Buddha, Bodhisatwa, hingga Arya Buddha. Buddha sendiri masih menciptakan karma, tapi karmanya adalah karma yang tidak tercemar.
Banyak orang yang menggunakan istilah karma di sana-sini, tapi tidak berarti mereka paham betul apa yang dimaksud dengan karma itu sendiri. Oleh sebab itu, penting sekali bagi kita di sini untuk memahami apa yang dimaksud dengan karma dan karma itu merujuk kepada apa.
Karma bisa dibedakan berdasarkan sifat dasarnya:
1)Karma yang merupakan fenomena mental; ini merujuk pada faktor mental yang selalu hadir di dalam batin, dan lebih persisnya lagi merujuk pada faktor mental niat atau kehendak. Ini adalah satu kategori pembagian karma.
Pembagian karma lainnya adalah:
2)Jejak karma atau potensi sebuah karma yang sudah dilakukan. Ini adalah jejak yang ditinggalkan oleh karma jenis pertama di atas, yang dijejakkan di dalam arus kesadaran. Jejak karma ini termasuk dalam kategori lain, yaitu apa yang disebut dengan Faktor-faktor pembentuk yang tidak berkaitan (Non Associated Compositional Factors).
Dalam pembagian fenomena tidak kekal, kategori faktor pembentuk yang tidak berkaitan ini tidak termasuk dalam fenomena mental maupun fisik.
Kebanyakan penganut buddhis menerima dua pembagian besar ini, yaitu karma sebagai faktor mental dan karma sebagai jejak karma/ potensi.
Pengecualian berlaku kalau kita merujuk pada aliran filosofis tertinggi dan terendah, yaitu Madhyamika Prasangika dan Vaibashika. Menurut kedua aliran filosofis buddhis ini, ada pengkategorian karma yang ketiga, yang termasuk pada kategori fisik atau materi. Ini adalah pengkategorian karma secara khusus, tidak berlaku secara umum.
Dengan demikian kita sudah melihat adanya tiga pengkategorian karma sebagaimana yang dijelaskan barusan.
Sekarang mari kita kembali pada kategori pertama yang menjadi titik pertama, yaitu karma yang sifatnya mental, yang disebut sebagai faktor mental. Dikarenakan sifat faktor mental yang senantiasa hadir (omnipresent mental factor) ini, maka faktor mental ini wajib hadir terus di dalam batin kita agar batin utama/ kesadaran kita bisa mempersepsikan objeknya.
Fungsi faktor mental niat adalah mengarahkan batin utama pada objeknya, ibarat sesuatu yang menggerakkan batin pada objeknya. Tanpa faktor mental ini, batin utama tidak bisa mencerap objeknya. Oleh sebab itu, faktor mental niat ini sangat penting dan terus-menerus hadir agar batin utama bisa berfungsi.
Pada dasarnya, supaya kita semua bisa memahami pembahasan ini dengan lebih baik, Rinpoche akan memberikan materi latar belakangnya. Batin memiliki dua aspek mendasar, yaitu:
1.Kesadaran; ada enam jenis kesadaran, masing-masing satu untuk panca-indra, yaitu indra penglihatan, dst, dan satu untuk kesadaran mental, sehingga jumlah keseluruhannya ada enam. Kesadaran ini disebut juga batin utama, yang berbeda dengan faktor-faktor mental.
2.Faktor-faktor mental yang bersifat mendukung batin utama. Ada beberapa jenis faktor mental yang memiliki peranan penting supaya batin utama bisa berfungsi, artinya mencerap objeknya. Faktor mental terdiri dari beberapa kategori, salah satunya yang disebut sebagai faktor mental yang selalu hadir (omnipresent mental factor), yang apabila tanpa faktor mental ini, batin utama tidak bisa berfungsi untuk mencerap objeknya. Faktor mental yang senantiasa hadir ini ada lima dan masing-masing memainkan peran yang spesifik agar persepsi bisa terjadi, agar batin bisa berpikir dan berfungsi.
Masing-masing kesadaran indra memungkinkan kita mencerap objek, misalnya melihat pemandangan, menangkap suara-suara, mencium bau-bauan, dan seterusnya. Tapi fungsi kesadaran ini hanya berhenti sampai di sini saja, mereka tidak memiliki kemampuan untuk menilai. Misalnya menilai apakah sesuatu itu bagus, cantik, jelek, baik, buruk, dan sebagainya. Yang bisa menilai adalah batin utama yang dibarengi dengan faktor-faktor mental.
Masing-masing kesadaran memiliki kemungkinan untuk mencerap berbagai macam objek, asalkan pada setiap kali terjadi persepsi itu, kesadaran dibarengi dengan lima faktor mental yang selalu hadir. Kalau salah satu dari kelima faktor mental yang senantiasa hadir ini tidak ada, maka persepsi visual, pendengaran, dsb, tidak bisa terjadi.
Apa saja kelima faktor mental yang selalu hadir? Mereka adalah 1) kontak, 2) perasaan, 3) diskriminasi, 4) niat, 5) perhatian. Contoh: jika kita melihat bunga yang putih, dan kemudian kita berpikir alangkah cantiknya bunga putih tersebut, dan pikiran ini bisa muncul hanya dalam waktu yang singkat. Tapi, sebenarnya di dalam proses berpikir hingga bisa muncul pemikiran “bunga yang cantik” ada banyak sekali bagian-bagian batin yang berperan dan berfungsi, walaupun kita tidak menyadarinya.
Yang pertama, persepsi penglihatan yang mencerap bunga, dan di sini yang berperan adalah kesadaran penglihatan. Berbarengan dengan kesadaran penglihatan ini berfungsi juga lima faktor mental yang selalu hadir, karena tanpa kelima faktor mental ini seseorang tidak bisa melihat objek bunga tersebut. Ketika kita serta-merta berpikir, ‘Alangkah cantiknya bunga tersebut,’ bukan kesadaran penglihatan yang memikirkannya, karena kesadaran mental tidak bisa memainkan fungsi ini. Setelah kesadaran penglihatan, yang berperan selanjutnya adalah kesadaran mental atau batin berikut dengan kelima faktor mental yang senantiasa hadir, sehingga ada 6 unsur yang berperan secara keseluruhan. Ketika kesadaran mental mengidentifikasi bunga, sekali lagi ada lima faktor mental yang turut berperan. Sehingga secara keseluruhan ada 12 elemen yang berperan agar batin bisa mencerap objeknya.
Proses yang sama juga berlaku untuk kesadaran lainnya, misalnya ketika kita mendengarkan suara dan kemudian mengenalinya sebagai suara yang indah. Dalam waktu yang singkat tersebut, dua set proses masing-masing 6 unsur akan berperan. Proses yang sama juga berlaku ketika kita mencium wewangian, dan seterusnya. Setiap kali proses ini terjadi, maka ada 12 unsur yang berperan bagi batin untuk mencerap objeknya.
Pertanyaannya, di antara semua unsur tersebut, di manakah letak karma? Hanya ada 1 unsur yang merupakan karma, yaitu yang terletak pada faktor mental niat. Selebihnya bukan karma.
Jadi, itu merupakan karma jenis pertama, yaitu faktor mental niat. Faktor mental niat ini senantiasa menemani batin kita setiap saat, setiap momen. Karena kita senantiasa berpikir, senantiasa mencerap objek, maka setiap kali itu pula faktor mental niat ini muncul dalam batin kita. Setiap kali berbagai macam faktor mental niat muncul dalam batin kita, sampai pada titik tertentu, faktor mental niat ini akan berhenti dan digantikan oleh faktor mental niat berikutnya. Ketika berhenti, faktor mental niat atau karma ini tidak menghilang begitu saja dan tidak meninggalkan jejak.
Justru sebaliknya, faktor mental niat atau karma ini akan meninggalkan jejak yang disebut sebagai jejak karma atau potensi, yang merupakan jenis karma kedua. Jejak-jejak karma ini ditinggalkan di dalam batin kita dan akan terus menetap di sana selama tidak ada yang melawan atau menghancurkannya ataupun yang menetralisirnya.
Apa artinya? Ini berarti kita membawa serta beban yang begitu besar berupa jejak-jejak karma, yakni jejak-jejak yang sudah kita hasilkan di masa lampau yang belum dihancurkan atau dihilangkan. Sementara itu, kita terus-menerus menambahkan jejak-jejak karma baru terhadap beban kumpulan jejak-jejak karma yang terlebih dahulu kita miliki.
Jenis karma yang kedua ini, yaitu yang disebut sebagai jejak karma, termasuk ke dalam kategori fenomena “faktor-faktor pembentuk yang tidak berkaitan” atau non-associated compositional factor. Apa yang dimaksud dengan ini? Mari kita lihat kembali pengkategorian fenomena, yaitu segala sesuatu yang muncul karena sebab dan kondisi termasuk fenomena tidak kekal. Fenomena tidak kekal ini lebih lanjut terbagi lagi menjadi 3 bagian:
1)Bentuk/ fisik
2)Fenomena mental
3)Faktor-faktor pembentuk yang tidak berkaitan
Jejak karma termasuk fenomena bukan mental dan bukan fisik, sehingga termasuk fenomena jenis yang ketiga.
Contoh fenomena yang termasuk ke dalam kategori yang ketiga, misalnya kita sendiri selaku makhluk hidup. Kita memiliki tubuh fisik dan batin, tapi kita bukanlah fisik atau batin itu sendiri, sehingga kita termasuk faktor-faktor pembentuk yang tidak berkaitan. Selaku individu yang muncul karena bergantung pada sebab dan kondisi, kita termasuk dalam kategori yang ketiga.
Contoh lainnya yang termasuk kategori yang ketiga adalah: jarak (distance), panjang (length), penuaan (aging), kelahiran (birth), waktu (time), berat (weight), dan seterusnya.
Selanjutnya, beberapa aliran filosofis buddhis mengkategorikan karma jenis ketiga, yaitu karma yang sifat dasarnya adalah perbuatan fisik. Kalau ditinjau dari pembagian fenomena tidak kekal di awal, karma ini masuk pada kategori pertama, yaitu fenomena fisik. Karma jenis ketiga ini diakui oleh aliran tertinggi—Madhyamika Prasangika—dan aliran terendah, Vaibashika.
Bagi kedua aliran ini, gerakan-gerakan fisik tertentu yang bisa menunjukkan pemikiran ataupun perasaan tertentu dari seseorang, termasuk karma, dalam hal ini karma fisik. Misalnya ada seseorang yang dikarenakan keyakinan yang kuat kemudian beranjali, maka gerakan tangan yang dirangkupkan ini bisa mengungkapkan apa yang di dalam batin pelakunya, yaitu sikap batin yang dipenuhi oleh keyakinan.
Gerakan tangan yang termasuk gerakan fisik itu termasuk karma. Contoh lainnya adalah namaskara dan banyak lagi contoh gerakan fisik lainnya. Tapi kalau misalnya ada gerakan fisik sekilas lalu, seperti menggerakkan badan, tapi tidak menunjukkan cara berpikir dan perasaan tertentu dari pelakunya, ini tidak termasuk karma.
Kalau Anda renungkan kenyataan bahwa gerakan-gerakan fisik tertentu bisa menghimpun karma, maka ini akan bermanfaat bagi praktik Anda. Dalam artian, bagaimana dalam waktu yang singkat dan dengan perilaku yang sederhana, seseorang bisa mengumpulkan karma bajik dalam semua jenisnya, yaitu karma fisik, ucapan, dan mental. Misalnya didorong oleh keyakinan seseorang kemudian bernamaskara kepada para Buddha atau memberikan penghormatan. Atau bisa juga seseorang mengucapkan kata-kata penuh hormat, keyakinan, dan pujian kepada Buddha. Dengan tindakan-tindakan yang sederhana, kita dapat menghimpun karma bajik, baik dengan perbuatan, ucapan, maupun pikiran.
Tentu saja itu hanya berlaku bagi aliran yang mengakui kategori karma ini, yaitu yang sifatnya fisik sehingga termasuk kategori fenomena pertama, yaitu fenomena fisik/ materi. Bagi mereka yang tidak mengakui jenis karma ini, yaitu karma yang dihimpun melalui gerakan-gerakan fisik, karena bagi mereka karma fisik dihimpun dengan menggunakan tubuh jasmani, yaitu ketika seseorang melakukan sesuatu dengan tubuhnya. Faktor mental yang berlaku pada saat sebuah perbuatan dilakukan yang menentukan apakah karma yang dihimpun adalah karma fisik atau ucapan, sedangkan untuk gerakan tubuh itu sendiri tidak termasuk karma. Jadi, bagi mereka, penentuan karma fisiknya sedikit berbeda.
Sekarang kita sampai pada pembahasan berikutnya, yaitu kita akan melihat tiga jalan karma mental hitam, yaitu:
1.Keserakahan
2.Niat jahat
3.Pandangan salah
Keserakahan atau nafsu keinginan adalah jenis kemelekatan, tapi kemelekatan tidak mesti merupakan keserakahan, tapi keserakahan sudah pasti merupakan kemelekatan.
Pada jalan karma ini, sekali lagi, juga berlaku empat unsur yang membentuk sebuah jalan karma yang lengkap. Dasar atau basisnya dalam kasus ini adalah barang yang menjadi milik orang lain. Berkaitan dengan unsur mental, yaitu pemikiran di balik sebuah tindakan, dalam hal ini, identifikasi, maka identifikasinya adalah melihat barang milik orang lain dan mengenalinya sebagai barang milik orang lain. Kilesa yang terlibat adalah salah satu dari ketiga racun mental, tapi kilesa perampungnya adalah kemelekatan.
Motivasinya adalah niat untuk mendapatkan barang milik orang lain. Sedangkan untuk tindakannya sendiri, adalah tingkat keserakahan yang lebih besar, yang sudah meningkat daripada sebelumnya, yaitu keinginan yang menguat untuk menjadi barang milik orang lain sebagai barang milik sendiri, artinya seseorang secara mental berupaya untuk melakukan apa saja untuk memastikan barang milik orang lain tersebut menjadi miliknya.
Tindakan jalan karma hitam keserakahan ini lengkap ketika seseorang mengambil keputusan, “Aku akan mendapatkan barang milik orang lain tersebut dan menjadikannya barang milikku.”
Berikutnya adalah niat jahat. Dasar atau basisnya sama dengan basis untuk ucapan kasar dan membunuh, dengan kata lain, seorang makhluk hidup yang tidak kita sukai dan ingin kita sakiti. Identifikasinya adalah seseorang yang tidak kita sukai dan ingin kita sakiti. Motivasinya adalah menginginkan sesuatu yang buruk menimpa orang tersebut, misalnya berharap ‘semoga ia kehilangan harta bendanya,’ ‘semoga sesuatu yang buruk menimpanya.’
Tindakannya berupa niat jahat yang sudah menguat, yaitu tekad untuk benar-benar menyakiti seseorang atau benar-benar berharap sesuatu yang buruk menimpa seseorang. Jalan karma ini lengkap ketika seseorang mengambil keputusan untuk benar-benar melakukan sesuatu untuk menyakiti orang lain.
Jalan karma mental hitam ketiga adalah pandangan salah, artinya seseorang yang memegang pandangan yang salah. Secara umum, ada dua jenis pandangan salah:
1)Pengingkaran terhadap sesuatu yang eksis dan menyatakannya tidak eksis
2)Menerima sesuatu yang tidak eksis sebagai eksis
Dalam konteks sepuluh jalan karma hitam, pandangan salah di sini adalah pandangan yang pertama, yaitu mengingkari keberadaan sesuatu yang memang eksis. Jadi, dasar atau basisnya adalah pandangan keliru yang mengingkari keberadaan sesuatu yang memang eksis. Identifikasinya adalah mengenali sesuatu sebagai hal yang tidak eksis. Kilesanya adalah salah satu dari ketiga racun mental. Motivasinya adalah niat untuk mengingkari keberadaan sesuatu yang eksis. Tindakannya sendiri berupa niat yang semakin kuat untuk mengingkari keberadaan sesuatu yang memang eksis.
Jalan karma ini lengkap apabila seseorang mengambil keputusan untuk mengingkari keberadaan sesuatu yang eksis. Ada empat jenis pengingkaran yang termasuk pandangan salah, yaitu:
1.Mengingkari sebab-sebab: berarti mengingkari adanya kehidupan-kehidupan lampau.
2.Mengingkari akibat-akibat: berarti mengingkari adanya kehidupan yang akan datang.
3.Mengingkari agen/ pelaku: berarti mengingkari adanya sosok yang menghimpun/ mengumpulkan karma.
4.Mengingkari eksistensi/ hal-hal yang eksis: pengingkaran eksistensi secara umum.
Akan tetapi, perlu diketahui, supaya ketiga jalan karma mental hitam ini lengkap, masing-masing membutuhkan lima kriteria lebih lanjut untuk dipenuhi, dan ini dijelaskan oleh Arya Asanga dalam karya beliau yang berjudul “Compendium.”
Misalnya, ketika kita pergi ke mal atau pusat perbelanjaan dan melihat barang-barang bagus kemudian muncul pemikiran untuk memilikinya, akan tetapi pemikiran ini masih belum termasuk keserakahan, arti belum menjadi jalan karma keserakahan yang lengkap.
Oleh sebab itu, penting sekali bagi Anda untuk mengetahui apa saja kelima kriteria tersebut, karena setelah mengetahui barulah Anda bisa berperilaku dengan hati-hati. Kalau tidak tahu, Anda berada dalam kegelapan dan tidak tahu apa yang semestinya dihindari dan apa yang semestinya dilakukan.
Ketika kita pergi ke sebuah toko dan melihat sesuatu kemudian berpikir, “Aku suka itu”; belum cukup bagi pemikiran ini untuk menjadi sebuah jalan karma yang lengkap, karena masih ada kriteria lain yang harus dipenuhi.
Kriteria pertama, seseorang haruslah sangat terikat dengan barang-barang kepunyaannya. Apa maksudnya seseorang yang melekat pada kepunyaannya? Artinya, sampai di mana batasan seseorang dikatakan melekat? Seseorang dikatakan melekat pada barang-barang miliknya kalau ia tidak bisa memberikan barang-barang tersebut kepada orang lain.
Kriteria kedua, adanya keinginan untuk mengumpulkan lebih banyak lagi harta benda atau barang-barang kepunyaan. Dengan kata lain, sebuah sifat yang serakah, yakni keinginan untuk mengumpulkan sesuatu semakin banyak dan semakin banyak lagi. Kriteria kedua ini termasuk kemelekatan.
Kriteria yang ketiga sulit diterjemahkan ke dalam satu istilah tunggal, karena mengandung semua makna berikut: 1) Seseorang melihat sebuah objek dan berpikir bahwa objek tersebut akan berguna/ bermanfaat baginya, 2) Seseorang melihat objek dan berpikir itu adalah sesuatu yang bagus/ indah, 3) Seseorang melihat objek dan menuntun pada perencanaan, artinya seseorang berpikir, “Kalau seandainya saya punya ini, maka saya akan melakukan ini dan itu.’ Jadi makna ketiga mengandung unsur adanya sifat mendamba.
Penjelasan lebih lanjut untuk poin ketiga, kalau ditilik kembali ke istilah dalam Bahasa Tibet, poin ketiga ini artinya seseorang yang terlebih dulu mencicipi rasa sesuatu. Jadi, barang itu walaupun belum berada dalam genggaman, tapi seseorang sudah membayang-bayangkan apa yang akan dilakukannya setelah mendapatkan barang tersebut. Contoh pemikiran: “Aku akan melakukan ini seandainya aku memiliki barang itu.” Jadi semacam terlebih dulu mencicipi rasa sesuatu.
Kriteria keempat adalah pemikiran untuk menjadikan barang milik orang lain sebagai barang milik sendiri. Menurut tradisi lisan, ini berarti batin Anda mulai memikirkan cara-cara untuk mendapatkan sesuatu milik orang lain dan menjadikannya milik Anda sendiri. Anda berpikir keras tentang bagaimana mendapatkan barang tersebut.
Kriteria kelima adalah seseorang benar-benar tidak merasa malu dengan adanya keserakahan yang timbul di dalam batinnya, artinya keserakahan sudah benar-benar menguasai batinnya dengan sepenuhnya sehingga tak kuasa dikendalikan oleh batin.
Anda bisa melihat ada banyak kriteria yang harus dipenuhi, oleh sebab itu penting sekali untuk diketahui. Dengan demikian, Anda bisa memastikan tidak semua unsur-unsurnya terpenuhi untuk menjadikan sebuah jalan karma yang lengkap, dan dengan demikian bisa menghindari jalan karma keserakahan yang lengkap.
Kriteria-kriteria untuk jalan karma mental niat jahat yang lengkap juga sama. Apabila seseorang membangkitkan niat jahat kepada orang lain, bukan berarti ia sudah melakukan jalan karma niat jahat yang lengkap. Ada unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk menjadikannya jalan karma mental hitam yang lengkap.
Kriteria pertama adalah sikap bermusuhan, artinya sifat bermusuhan yang spesifik, yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang yang dianggap membahayakan Anda. Dengan kata lain, Anda memikirkan objek yang Anda anggap membahayakan ini, benar-benar menganggapnya sebagai sesuatu yang membahayakan atau mengganggu Anda.
Kriteria pertama di atas semata-mata mengidentifikasi sesuatu atau seseorang sebagai objek yang membahayakan, artinya kita berpikir, “Orang ini membahayakan saya,” atau “Orang ini menyakiti saya.” Sedangkan untuk kriteria kedua adalah perasaan yang Anda miliki terhadap orang tersebut, yaitu perasaan tidak tahan terhadap orang tersebut.
Berikutnya, kriteria ketiga adalah perasaan menolak, artinya seseorang memikirkan berulang-ulang akan bahaya atau gangguan yang ditimbulkan objek penolakannya itu. Artinya, seseorang memikirkannya terus-menerus, berulang-ulang, yang merupakan jenis perhatian yang keliru. Pemikiran ini bukan hanya satu dua kali saja, tapi dipikirkan terus-menerus, misalnya, “waktu segini, di tempat itu, orang itu melakukan ini dan itu kepadaku.” Pemikiran ini kita bangkitkan terus-menerus di dalam batin kita. Kita juga bisa berpikir, “Orang ini melakukan sesuatu terhadap seseorang yang dekat denganku, ia melakukan ini dengan cara ini dan itu, ia melakukan ini terhadap barang-barang milikku,” dan seterusnya. Perhatian yang keliru ini dibangkitkan terus-menerus hingga munculnya kemarahan.
Kriteria keempat ini menyerupai kriteria keempat yang ada pada jalan karma hitam keserakahan, yaitu sifat mendambakan sesuatu. Tapi di sini yang didambakan bukan untuk mendapatkan sesuatu yang bagus, tapi sebaliknya, yang diinginkan adalah bahaya ataupun balas dendam terhadap orang lain. Anda berpikir, “Alangkah baiknya kalau sesuatu yang buruk menimpa orang itu.”
Kriteria kelima serupa dengan kriteria kelima yang terdapat pada jalan karma keserakahan sebelumnya, yaitu sama sekali tidak adanya rasa malu terhadap timbulnya niat jahat di dalam batin seseorang. Artinya, batin seseorang sepenuhnya dikuasai oleh cara berpikir ini sehingga sama sekali tidak ada penyesalan ataupun rasa malu.
Kalau kita lihat alur kelima kriteria ini, kita bisa melihat bagaimana terjadi peningkatan dari satu kriteri ke kriteria berikutnya. Yang pertama semata-mata perhatian yang kuat terhadap apa yang sudah dilakukan seseorang. Berikutnya yang kedua adalah perasaan tidak tahan terhadap bahaya/ gangguan yang ditimbulkan. Ketiga sudah menjadi penolakan, artinya seseorang bersikukuh terhadap pandangannya dan tidak mau melepaskan pendapatnya serta memikirkannya berulang-ulang, terus-menerus terhadap bahaya/ gangguan yang ditimbulkan oleh objek yang dianggap membahayakan, yang tentu saja semakin memperparah situasi. Pada tahap keempat seseorang sudah sampai pada tahap berniat membalas dendam.
Dengan semakin meningkatnya intensitas pada setiap perkembangan kriteria, ketika tiba pada tahap atau kriteria kelima, seseorang sudah benar-benar tidak tahan dan tidak merasa malu lagi akan perasaan buruk yang timbul dalam batinnya. Seseorang tidak mampu lagi menahan atau mengendalikan niat jahat yang timbul dalam batinnya, karena batinnya sepenuhnya telah dibutakan oleh niat jahat. Ia sudah tidak mampu lagi menakar pikiran dan perbuatannya, dan tidak mampu lagi merasa malu, karena sepenuhnya sudah dikendalikan oleh pikiran buruk ini.
Berikutnya kita akan lihat kelima kriteria yang membentuk unsur-unsur jalan karma pandangan salah yang lengkap. Yang pertama adalah batin yang terhalangi, artinya ketidak-mampuan seseorang untuk mempersepsi sesuatu sebagaimana adanya. Mereka buta tentang bagaimana eksistensi sesuatu secara tepat, persis, dan sebenarnya. Contoh dari ketidak-tahuan ini adalah seseorang yang tidak tahu bahwa kebajikan dan perbuatan baik adalah sebab-sebab kebahagiaan, dan ketidakbajikan atau perbuatan buruk adalah sumber penderitaan dan ketidakbahagiaan.
Kriteria kedua adalah sikap yang tertarik untuk melakukan ketidakbajikan, artinya seseorang yang gemar berperilaku buruk atau salah. Misalnya ada orang yang bilang, ‘Saya benar-benar suka membunuh, mencuri, berbohong,…’ dan lain sebagainya. Mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan perasaan bangga, artinya mereka benar-benar tertarik dan suka untuk melakukan hal-hal tak bajik, yang termasuk ke dalam kriteria kedua ini.
Kriteria ketiga adalah sikap yang memegang pandangan salah. Apa artinya ini? Ini adalah semacam perhatian yang keliru, yang memusatkan perhatian secara berulang-ulang terhadap eksistensi sesuatu yang diingkari. Misalnya seseorang mengingkari keberadaan reinkarnasi dan ia pun terlibat dalam analisis-analisis berdasarkan penalaran yang keliru hingga ia sampai pada kesimpulan pasti bahwa memang reinkarnasi tidak ada.
Kriteria keempat adalah membangkitkan sikap dan pemikiran yang tercemar, misalnya seseorang yang berpikir ‘berdana tidak ada gunanya,’ ‘menjaga sila tidak ada manfaatnya,’ ‘buat apa berdana,’ ‘buat apa menjaga sila,’ ‘segala bentuk kebajikan hanya sia-sia saja akhirnya, tidak akan menghasilkan kebahagiaan,’ dan sebagainya. Kalau seseorang sudah sampai memiliki pemikiran-pemikiran seperti ini berarti ia sudah memiliki sikap dan pemikiran yang merosot atau buruk. Dengan kata lain pemikiran dan perilakunya sudah merosot, yaitu pemikiran yang mengingkari eksistensi hal-hal yang memang eksis.
Untuk kriteria kelima, sama seperti tahap sebelumnya, di sini seseorang sudah sampai tahap dibutakan oleh pemikirannya dan tidak lagi merasa malu memiliki pandangan yang keliru karena batin dan pemikirannya sudah sepenuhnya dilingkupi dan dikuasai oleh pemikiran ini.
Demikianlah penjelasan bagaimana tiga jalan karma mental hitam menjadi lengkap.
Perlu diketahui bahwa di antara sepuluh jalan karma tak bajik, tujuh yang pertama yaitu perbuatan fisik dan ucapan, merupakan karma dan jalan karma. Sedangkan untuk tiga perbuatan mental yang terakhir, ini adalah jalan karma, bukan karma, karena ketiga jalan karma mental ini adalah kilesa.
Idealnya harus diberikan penjelasan tentang jalan karma dan karma, tapi karena keterbatasan waktu kita akan lanjut ke poin berikutnya. Yaitu, kita akan melihat jalan karma putih/ bajik. Untuk jalan karma putih yang pertama ialah menghindari pembunuhan. Sama dengan sistem pemaparan sebelumnya yang terdiri dari empat unsur, yang pertama, basisnya adalah calon korban atau makhluk hidup. Identifikasinya sama, yakni makhluk hidup di luar diri sendiri.
Proses berpikirnya, bukannya ketiga racun mental, tapi di sini proses berpikir diwarnai oleh salah satu dari ketiga akar kebajikan, yaitu ketidakmelekatan (alobha), ketidakbencian (adosa), dan kebijaksanaan (amoha).
Motivasi yang melandasi didasarkan pada pemahaman terhadap akibat-akibat buruk dari membunuh dan niat untuk menghindari tindakan pembunuhan. Tindakannya sendiri adalah tindakan menghindari pembunuhan. Penyelesaiannya terjadi ketika seseorang benar-benar menghindari pembunuhan, barulah jalan karma putih menghindari pembunuhan menjadi lengkap.
Anda sekalian harus tahu bahwa apabila seseorang semata-mata hanya kebetulan tidak membunuh bukan berarti dia sudah melakukan jalan karma putih menghindari pembunuhan. Seseorang yang kebetulan saja tidak membunuh tidak berarti dia merampungkan jalan karma putih tidak membunuh, karena jalan karma putih ini harus disertai niat yang jelas, yaitu keinginan untuk menghindari pembunuhan. Jadi, menghindari pembunuhan harus dilakukan dengan landasan niat yang jelas dan memang memahami tujuannya, bukan sekadar kebetulan. Penting sekali untuk memahami perbedaan di antara keduanya.
Niat yang jelas harus mewarnai jalan karma putih menghindari pembunuhan, sama halnya untuk menghindari pencurian, berbohong, dan seterusnya. Seseorang memiliki pemikiran, ‘Saya tidak akan membunuh, mencuri, berbohong…’ dan seterusnya. Dengan demikian barulah ia dikatakan mempraktikkan jalan karma putih tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, dan seterusnya. (jl)

*** End of Session 2***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *