Webcast Biezenmortel Sesi 1: Mengapa Kita Masih Percaya dan Yakin pada Samsara?

  • March 6, 2011
Catatan Perangkum:

Transkrip siaran web dari retret empat hari yang berlangsung di Biezenmortel, Belanda, ini dirangkum dari catatan tangan penerjemah bahasa Indonesia. Retret berlangsung dari tanggal 25 hingga 28 Februari 2011: satu hari dua sesi pembabaran dharma. Siaran web diperdengarkan di bhaktisala Dharma Center Kadam Choeling Indonesia, Jl. Sederhana No. 83, Bandung. Dikarenakan koneksi internet yang kadang tidak berjalan mulus, ada bagian yang putus di sana-sini sehingga transkrip ini tidak bisa dianggap sebagai transkrip yang utuh kata-per-kata. Namun, transkrip catatan tangan apa adanya ini dibagikan semata-mata untuk berbagi dharma mulia yang sudah dibabarkan oleh seorang guru agung yang memiliki hubungan erat dengan Indonesia. Semoga yang membaca bisa mendapat manfaat dan mencari tahu lebih lanjut apabila ada bagian yang terasa janggal atau tidak lengkap. Segala kesalahan ada pada perangkum.

Sesi 1: 25 Februari 2011
15:30-18:00 WIB
Mengutip Bodhisatwa Shantidewa:
“Sekali seseorang telah mendapatkan kehidupan
Yang seperti sebuah perahu yang kuat
Untuk menyeberangi lautan penderitaan samsara
Maka, selama engkau masih memilikinya,
Jangan terlelap dalam tidur kebodohan.”

 

Jadi, makna utama dari analogi ini adalah kemuliaan terlahir sebagai manusia yang seperti sebuah kapal atau perahu yang kokoh, yang bisa menyeberangi lautan samsara yang penuh dengan penderitaan tiada akhir. Di sini, kemuliaan terlahir sebagai manusia yang bebas dan terberkahi merupakan karakter yang khusus, sukar untuk didapatkan. Oleh karena itu, mumpung masih memilikinya, walaupun dipengaruhi oleh kebodohan batin, pastikan Anda tidak menyerah pada kemalasan, tidur, dan sejenisnya.

Kesimpulan dari kutipan di atas, adalah kita semua, baik tua-muda, berpendidikan atau tidak, sarjana atau bukan, haruslah mengarahkan batin kita dan mengeluarkan segenap upaya, dengan memanfaatkan peluang baik yang sudah kita miliki sekarang, untuk keluar dari kondisi kita sekarang ini.

Artinya, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan mengembangkan diri lebih lanjut. Bagaimana kita bisa menyatakan bahwa kita memiliki kesempatan bagus ini? Kita bisa memastikannya berdasarkan pengalaman langsung kita dalam hidup ini, yaitu berdasarkan bukti bahwa kita sudah mampu mencapai sesuatu dalam hidup kita.

Bukti ini berlaku untuk kita semua. Ketika kita masih sangat muda, masih bayi, kita semua tidak bisa bicara, tidak bisa makan sendiri, benar-benar tak berdaya, tidak tahu apa-apa sama sekali. Ini adalah fakta yang benar adanya. Penting sekali Anda sekalian mengamati kondisi masing-masing, yakni mengamati bahwa ketika Anda masih bayi mungil yang masih diliputi kebodohan, Anda tidak mampu melakukan apa-apa karena masih sangat muda. Tapi, berkat bimbingan orangtua, guru, secara perlahan, Anda mulai belajar berbicara, berjalan, dan seterusnya.

Berikutnya, Anda juga mulai mengumpulkan pengetahuan, belajar untuk menjadi orang yang baik, bermanfaat bagi orang lain, dan ini semua berkat kebaikan orangtua dan guru yang mengajarkannya. Mereka mengajari kita untuk lebih berwelas-asih, lebih mengasihi orang lain. Contohnya, anak kecil biasanya tidak sabaran dan tidak tabah menghadapi kesukaran, tapi secara bertahap kita belajar untuk semakin sabar, hingga hari ini, ketika kita semua sudah tumbuh dewasa. Sebagai orang dewasa kita tahu bagaimana mesti berperilaku, bahkan kita sudah mencapai tahap di mana kita bisa berfungsi sebagai panutan bagi orang lain. Artinya, kita menunjukkan perilaku-perilaku yang benar, yang bisa menjadi teladan bagi pihak lain.

Ini berlaku bagi kita semua, misalnya di dalam masyarakat. Kita semua, walaupun tidak berada pada level tertinggi dalam sebuah masyarakat, minimal kita semua berada pada tingkatan rata-rata yang bisa menjadi model atau panutan bagi pihak lain. Terutama bagi Anda yang Buddhis, yang sudah bertemu ajaran Buddha, ini berarti cara berpikir Anda sudah lebih luas dan dalam, bila dibandingkan dengan rekan-rekan Anda lainnya. Rekan-rekan Anda barangkali sudah mencapai tingkatan tertentu, tapi mereka belum mampu memikirkan secara menyeluruh, karena barangkali yang mereka pikirkan hanya sebatas sesama manusia, atau keluarga, atau sesama bangsa yang memiliki tanah air yang sama. Tapi Anda, selaku buddhis, tidak hanya memikirkan sesama manusia, tapi mencakup semua makhluk hidup.

Pemikiran yang mencakup semua makhluk adalah sesuatu yang luar biasa. Ini merupakan indikasi lebih lanjut yang menempatkan Anda di atas rekan-rekan Anda yang lain, dalam hal siapa Anda dan sampai mana jangkauan kapasitas yang Anda miliki.

Makhluk hidup jumlahnya tak terbatas, dan kepada merekalah kita memusatkan perhatian, yakni berniat memberikan kebahagiaan pada mereka. Mengutip Sutra Bhadracarya yang menggambarkan kondisi yang dimaksudkan, yaitu:

“Makhluk hidup jumlahnya tak terbatas, seperti luasnya angkasa
Begitu pula, tidak ada batasan terhadap karma dan kilesa mereka.
Demikian pula doa-doa dan harapanku untuk mereka semua
juga tak terbatas.”

Di mana ada angkasa, di situ ada makhluk hidup. Karena angkasa tak terbatas, demikian pula jumlah makhluk hidup. Dengan jumlah makhluk hidup yang tak terbatas, berarti jumlah karma dan kilesa mereka juga tak terbatas. Karma dan kilesa yang tak terbatas ini bisa diakhiri, tapi akan sangat sulit. Kepada mereka semua ini, yang karma dan kilesanya bisa diakhiri tapi tidak akan mudah untuk dilakukan inilah, kita tujukan doa-doa dan harapan-harapan kita yang tak terbatas.

Doa dan harapan kita agar mereka mengembangkan kualitas-kualitas bajik dan menghilangkan keburukan atau kesalahan. Di dalam masyarakat umum, memang diajarkan bahwa seseorang harus menghindari perbuatan membunuh, mencuri, dan seterusnya, serta mengembangkan kualitas-kualitas bajik. Tapi yang dimaksudkan di dalam masyarakat umum hanya mencakup level yang kasar dan hanya sampai di situ saja.

Di dalam Buddhis, apalagi dalam konteks kendaraan besar Mahayana, kesalahan dan keburukan yang harus dilenyapkan jauh lebih besar dan luas cakupannya. Artinya menghilangkan karma dan kilesa yang begitu besar dan tak terbatas. Di sisi lain, kualitas-kualitas bajik yang harus dikembangkan juga jauh melampaui cakupan yang dikenal oleh masyarakat umum selama ini.

Ada dua jenis halangan yang harus diatasi, yaitu:
1) Halangan kilesa
2) Halangan terhadap kemahatahuan

 

Di satu sisi kita harus mengatasi halangan, dan di sisi lain, secara paralel, kita juga harus mengembangkan kualitas-kualitas bajik hingga ke tingkat tertinggi. Kualitas bajik di sini bisa berupa tindakan-tindakan luar biasa melalui fisik, ucapan, maupun mental, yang memang bisa dan harus dikembangkan. Begitu seseorang sudah mampu mencapainya secara keseluruhan, maka ia mampu melaksanakan aktivitas-aktivitas unggul dan luar biasa demi menolong semua makhluk yang tak terbatas.

Berdasarkan pengalaman pencapaian pribadi kita, kita bisa mencapai ini semua. Dalam hidup ini kita sudah mampu mencapai banyak kualitas-kualitas positif, seperti mendapatkan pengetahuan, dan seterusnya. Artinya, kualitas positif lebih lanjut juga bisa kita capai. Tidak cukup kalau kita hanya mengetahui sesuatu, tapi kita juga harus bisa menerapkan dan memanfaatkannya, yakni menerapkan kualitas-kualitas tersebut untuk mencapai apa yang disebut realisasi. Dengan cara ini, barulah kita bisa mengatasi penderitaan kita, hingga yang terkecil sekali pun. Kita bisa sepenuhnya melenyapkan semua penderitaan kita dan mencapai beragam kualitas bajik dan realisasi yang saat ini belum kita miliki.

Jadi, apa yang sudah kita capai dalam kehidupan ini, segala kualitas bajik dan positif yang sudah berhasil kita dapatkan, kita bisa berkesimpulan bahwa masih banyak lagi yang bisa kita capai. Oleh sebab itu, kita akan menjadikan target ini sebagai tujuan utama kita, yaitu meraih kualitas-kualitas bajik dan mengakhir keburukan sekaligus penderitaan kita.

Poin yang baru saja disampaikan adalah poin yang sangat krusial, artinya kita memang memiliki kemungkinan untuk melakukannya, atas dasar bentuk kehidupan yang sudah kita dapatkan. Jika kita gagal menarik manfaatnya sekarang, maka perkembangan kita bisa terjegal, bahkan bisa berakibat kejatuhan ke dalam alam-alam rendah, yang artinya semakin memperpanjang waktu kita di dalam samsara. Dengan terlahir di alam rendah, kita tidak bisa mengembangkan kualitas bajik apapun karena bentuk kelahiran yang lebih inferior ini tidak memberikan peluang baik apa pun bagi kita.

Selanjutnya, Rinpoche menanyakan berapa banyak orang yang mengikuti retret ini untuk pertama kalinya? Harap angkat tangan.

Ternyata sebagian besar sudah pernah datang dan mengikuti retret seperti ini.

Pertanyaan berikutnya, apa yang sebenarnya melindungi kita dari penderitaan? Dan apa yang memberikan kebahagiaan bagi kita?

Jawabannya: cara berpikir atau kondisi batin kita. Yakni, cara-cara berpikir tertentu akan menyebabkan penderitaan, dan cara berpikir tertentu akan membawa kebahagiaan. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui oleh sebagian besar dari Anda semua, tapi Anda perlu diingatkan kembali secara berulang-ulang.

Kebanyakan dari Anda adalah Buddhis, yang memercayai reinkarnasi atau kelahiran kembali. Perbuatan Anda menentukan jenis kelahiran kembali yang akan datang. Jika seseorang berperilaku buruk, ia beresiko terjatuh ke alam rendah, yang berarti seseorang harus mengalami penderitaan hebat untuk waktu yang lama. Kelahiran kembali di alam rendah sungguh menyedihkan dan tidak diinginkan. Jadi, apa yang bisa melindungi kita dari penderitaan ini?

Yang Arya Chandrakirti mengatakan: “Dari praktik Sila, muncul-lah kelahiran kembali yang baik.”

Jadi, kondisi batin yang bajik, yaitu batin yang menjaga Sila, yang membangkitkan cinta kasih dan welas asih, inilah yang melindungi seseorang dari bahaya terlahir kembali di alam rendah.

Lanjut, ada kutipan dari guru dan sarjana agung, Arya Nagarjuna, dari karya Beliau yang berjudul Prajnamula:

“Pengendalian diri dan kebaikan hati adalah Dharma,
Inilah yang merupakan benih untuk mendapatkan kebahagiaan.”

 

Pengendalian diri adalah praktik menjaga Sila, kebaikan hati adalah niat untuk menolong orang lain. Mengembangkan kualitas-kualitas bajik seperti cinta kasih dan welas asih, inilah yang dimaksud dengan Dharma. Dharma adalah sesuatu yang menopang atau menahan kita. Dharma menahan kita dari alam-alam yang menderita, yang memungkinkan kita menghindari kejatuhan ke alam rendah. Kita harus mengembangkan batin yang bajik ini sejak sekarang hingga seterusnya.

Dengan menjaga sila dan mengembangkan kebaikan hati, kita menanam benih kebahagiaan, baik kebahagiaan di kehidupan sekarang maupun yang akan datang. Kalau seseorang sudah terlahir di alam yang bahagia, pada saat yang bersamaan ia tidak mungkin terlahir di alam rendah. Artinya, kelahiran kembali di alam bahagia otomatis melindungi seseorang dari kelahiran di alam rendah.

Perlindungan sebenarnya adalah dengan merealisasikan ketanpa-aku-an atau penembusan shunyata, berikut praktik mengambil perlindungan. Praktik perlindungan yang murni akan memberikan perlindungan yang sesungguhnya, hingga terbebas dari penderitaan samsara secara keseluruhan. Seseorang yang sudah bisa menembus ketanpa-aku-an tidak akan terlahir di alam rendah, dengan demikian lolos dari penderitaan.

Sebelum kita benar-benar bisa merealisasikan ketanpa-aku-an, ada kualitas-kualitas lain yang bisa kita latih terlebih dahulu, seperti menjaga Sila dan mengembangkan cinta kasih dan kebaikan yang mengasihi. Inilah yang akan melindungi kita juga, walaupun belum sepenuhnya, tapi setidaknya dari penderitaan alam rendah. Untuk sementara ini, inilah perlindungan kita yang akan melindungi kita dari penderitaan.

Pada akhirnya, penembusan ketanpa-aku-an (shunyata) secara langsunglah yang benar-benar memberikan perlindungan yang pasti dari penderitaan. Tapi, untuk sementara ini, apa yang bisa melindungi kita? Ada banyak kebajikan yang bisa kita latih, utamanya membangkitkan bodhicitta, yakni bodhicitta yang spontan dan murni. Bodhicitta yang sudah tidak memerlukan upaya, tapi kalau bisa membangkitkan bodhicitta dengan upaya, ini pun bisa melindungi kita. Selain bodhicitta, kita juga harus melatih penolakan terhadap samsara yang spontan.

Kebajikan apapun yang kita lakukan, selama itu dimotivasi oleh bodhicitta dan penolakan terhadap samsara, ini akan menjadi sebab-sebab untuk terbebaskan dari lingkaran keberadaan. Sebab-sebab inilah yang akan mengantarkan kita pada pembebasan dari samsara. Jadi, jangan bayangkan kalau kita tidak perlu melakukan apa-apa sambil menunggu saat di mana kita bisa menembus ketanpa-aku-an secara langsung. Justru ada banyak kualitas bajik yang bisa kita latih sekarang, yang juga berfungsi sebagai perlindungan, hingga tiba saatnya kita bisa menembus ketanpa-aku-an secara langsung.

Tambahan yang bisa kita latih adalah menghindari 10 Jalan Karma Hitam, yang kita laksanakan dengan berlandaskan penolakan samsara dan bodhicitta. Tentu saja yang paling baik kalau kedua motivasi ini sudah spontan, tapi kalau belum bisa, bahkan motivasi yang dibangkitkan dengan upaya pun tetap akan menjadikan semua kebajikan yang kita lakukan ” menjaga Sila, dst â” sebagai sebab untuk mendapatkan kebahagiaan di dalam samsara. Kalau nantinya motivasi tersebut sudah spontan, ia akan mengubah semua kebajikan menjadi sebab-sebab untuk mencapai alam yang menyenangkan hingga akhirnya pembebasan dari samsara. Inilah yang harus kita upayakan sejak saat ini.

Barangkali penjelasan yang diberikan masih terlalu cepat bagi para pendatang baru. Tapi sebagian besar dari Anda bukan pendatang baru. Ini adalah penjelasan kualitas yang dilatih pada Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk motivasi awal. Sumber utamanya adalah meditasi pada topik “Karma dan Akibat-akibatnya,” yaitu pada poin “Mengembangkan keyakinan terhadap Hukum Karma dan Akibat-akibatnya, sumber segala kebahagiaan.”

Dengan menjalani hidup sesuai hukum karma, seseorang akan terhindar dari penderitaan. Berikutnya, Trisarana berfungsi sebagai perlindungan, tapi Trisarana tanpa mempraktikkan Karma tidak akan efektif untuk melindungi seseorang dari penderitaan samsara. Sedangkan, topik “Kelahiran di Alam-alam Rendah” berfungsi sebagai basis untuk mempraktikkan Trisarana dan Karma.

Kalau kita sudah pahami penjelasan di atas, berikutnya kita mempertanyakan mengapa kita masih belum benar-benar berlindung dan mempraktikkan hukum karma? Jawabannya terkait dengan kematian dan ketidak-kekalan. Seseorang yang belum merealisasikan kematian dan ketidak-kekalan berarti ia masih melekat pada kehidupan saat ini. Oleh sebab itu, pemahaman dan realisasi topik kematian dan ketidak-kekalan sangat dibutuhkan untuk benar-benar membangkitkan Trisarana dan menjalani Karma.

Untuk Tahapan Jalan motivasi awal ini, pertama-tama dan utamanya tentu saja kita harus merealisasikan “Bertumpu kepada Guru Spiritual.” Ini merupakan topik meditasi yang menjadi dasar bagi keseluruhan tiga tingkatan Tahapan Jalan untuk ketiga jenis praktisi. Topik ini sangat penting dan sangat dibutuhkan. Kemudian, kita merenungkan “Kemuliaan terlahir sebagai manusia dengan kebebasan dan keberuntungan” yang sudah kita dapatkan sekarang, yakni merenungkan apa yang bisa kita capai dengan bentuk kehidupan seperti ini. Inilah yang kita renungkan pada Tahapan Jalan motivasi awal.

Topik “Bertumpu kepada Guru Spiritual” merupakan akar dari semua jalan spiritual untuk ketiga jenis praktisi. Sedangkan, untuk motivasi awal, topik meditasi utama adalah “Karma dan Akibat-akibatnya.” Inilah topik yang paling krusial untuk motivasi awal.

Dengan mempraktikkan hukum karma dan akibat-akibatnya, seseorang bisa mendapatkan kelahiran kembali yang baik dan menyenangkan. Tapi ini hanyalah kelegaan sementara. Seseorang belum sepenuhnya terlindungi dari penderitaan alam rendah. Perlindungan dari alam rendah hanya bisa dicapai oleh seseorang yang sudah keluar dari samsara secara keseluruhan. Tapi, kondisi kita saat ini masih sangat beresiko untuk terjerumus ke alam rendah. Karenanya, kita harus memahami bahwa kelahiran kembali yang tinggi sekalipun masih tetap mengandung resiko penderitaan samsara.

Dari sinilah kita kemudian merenungkan samsara secara keseluruhan, yakni memeditasikan topik “Empat Kebenaran Arya.” Kebenaran yang pertama adalah kebenaran tentang dukkha. Yang kedua, kebenaran tentang sebab-sebab dukkha. Di sini kita mempertanyakan, “Apa sih yang mempertahankan kita di dalam samsara?” Jawabannya: karma dan kilesa. Setelah memahami kondisi yang terjadi, kita membangkitkan perasaan menolak samsara, yaitu keinginan untuk terbebaskan dari samsara dan merasa jijik dengan samsara.

Setelah membangkitkan penolakan samsara dan rasa jijik, barulah kita membangkitkan aspirasi untuk terbebaskan dari samsara secara keseluruhan. Atas dasar inilah kemudian kita mempraktikkan Sila. Ada dua kualitas penolakan samsara yang terkandung di dalam Tahapan Jalan motivasi menengah, yaitu penolakan samsara dan latihan Sila yang termasuk latihan tingkat tinggi.

Latihan tingkat tinggi yang pertama ini, yakni Sila, adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Sedangkan untuk kedua latihan tingkat tinggi lainnya, yaitu Konsentrasi dan Kebijaksanaan, masih cukup susah dalam artian membutuhkan meditasi yang mendalam, sehingga tidak begitu bisa kita laksanakan pada tahap ini.

Oleh karena itu, kembali lagi, penolakan samsara dan latihan tingkat tinggi Sila adalah sesuatu yang bisa kita latih sekarang. Latihan ini relatif tidak membutuhkan meditasi yang panjang dan mendalam. Penting bagi kita untuk menyadari hal ini karena ini merupakan sebab langsung untuk mencapai pembebasan dari samsara. Dengan motivasi yang benar, kita akan bisa mencapai pembebasan dari samsara secara keseluruhan.

Sebenarnya, yang benar-benar memberikan perlindungan sejati bagi kita adalah latihan tingkat tinggi Kebijaksanaan. Kedua latihan tinggi sebelumnya, yaitu Penolakan Samsara dan Konsentrasi berfungsi sebagai pendukung bagi Kebijaksanaan. Keduanya merupakan kualitas yang penting dan sangat dibutuhkan untuk bisa mencapai latihan tingkat tinggi Kebijaksanaan.

Perlu diketahui bahwa latihan tingkat tinggi Sila harus dilandasi penolakan samsara. Praktik Sila-nya harus berdasarkan motivasi untuk keluar dari samsara. Kalau tidak, maka latihan Sila-nya hanya latihan Sila biasa, bukan latihan tingkat tinggi dalam Tiga Latihan Tingkat Tinggi. Oleh sebab itu, kita harus mentransformasikan latihan Sila menjadi latihan Sila tingkat tinggi.

Motivasi penting lainnya adalah membangkitkan bodhicitta, karena dengan motivasi ini, semua aktivitas bisa ditransformasikan menjadi aktivitas seorang Bodhisatwa. Seseorang yang memiliki bodhicitta, maka segala aktivitas kecil dan biasa yang dilakukannya, akan menjadi aktivitas Bodhisatwa. Sebaliknya, tanpa bodhicitta, tak peduli seberapa banyak kesabaran yang dipraktikkan, seberapa banyak dana, dst, itu tidak akan menjadi aktivitas Bodhisatwa.

Karena itulah, Je Tsongkhapa menyatakan bahwa ada tiga kualitas yang penting di dalam praktik spiritual, yaitu 1) Penolakan samsara; 2) Pandangan unggul (penembusan kesunyataan); dan 3) Bodhicitta.

Bodhicitta mentransformasikan aktivitas biasa menjadi sebab untuk mencapai Kebuddhaan. Pandangan unggul yang menembus ketanpa-aku-an yang sesungguhnya membebaskan seseorang dari samsara. Tapi keduanya harus berlandaskan motivasi Penolakan Samsara agar keduanya bisa menjadi sebab-sebab untuk terbebaskan dari lingkaran eksistensi. Jadi, kita bisa melihat betapa penolakan samsara merupakan kualitas krusial, yang merupakan inti utama dari sebuah praktik spiritual.

Untuk terbebaskan dari samsara secara keseluruhan, bahkan selanjutnya, untuk mencapai Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna, ketiga kualitas tersebut sangat krusial. Ketiganya merupakan kualitas unggul yang harus dilatih dan dikembangkan.

Ketiga kualitas latihan tingkat tinggi ini kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan yang stabil, dan kita mulai dengan yang pertama, yakni penolakan samsara. Tapi, penolakan samsara ini pun harus kita capai melalui latihan yang bertahap sesuai dengan meditasi-meditasi yang ada dalam Tahapan Jalan. Kalau kita langsung loncat dan tidak melakukan persiapan yang dibutuhkan, maka kita tidak akan bisa membangkitkannya.

Penolakan samsara yang dibicarakan di sini ada dua level. Penolakan samsara yang dibangkitkan pada Tahapan Jalan motivasi menengah adalah penolakan samsara yang sesungguhnya, yang menolak samsara secara keseluruhan. Yang menghambat kita untuk mencapai tingkat tersebut adalah nafsu keinginan terhadap hal-hal yang ada pada kehidupan ini, yakni keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan yang ditawarkan oleh kehidupan saat ini, apakah itu kekayaan materi, nama baik, reputasi terpandang, dsb. Kita mendambakan hal-hal seperti ini dan akhirnya kita melekat pada keinginan tersebut.

Jika kita tidak mampu menolak hal-hal bagus yang ditawarkan samsara pada kehidupan saat ini, bagaimana mungkin kita bisa menolak kebaikan-kebaikan samsara secara keseluruhan? Oleh karena itu, kita harus mulai dengan membangkitkan penolakan samsara dalam kehidupan saat ini. Sekarang ini, kita memercayai kebaikan samsara, kita percaya itu semua merupakan sumber kebahagiaan. Karenanya, kita harus kehilangan keyakinan kita pada mereka, artinya tidak lagi percaya pada mereka selaku sumber kebahagiaan yang sejati. Mengapa? Karena manfaat yang mereka berikan masih terbatas dan bersifat sementara.

Hal-hal baik yang ditawarkan samsara hanya bisa memberikan sedikit kebahagiaan pada kehidupan saat ini saja. Di kehidupan yang akan datang, mereka sudah tidak lagi memberikan manfaat apapun. Harta kekayaan kita tak berguna. Kita pun tidak bisa membawa seorang pun teman/ sahabat dan keluarga kita. Oleh karenanya, mereka semua tidak bisa diandalkan dan tidak bisa dipercaya. Manfaat mereka juga terbatas. Dengan demikian, sudah seharusnya kita tidak menaruh keyakinan dan kepercayaan terhadap mereka, barulah kita bisa melepaskan sifat melekat.

Apa yang baru saja dijelaskan seharusnya direnungkan pada diri sendiri secara pribadi. Tidak usah melihat orang lain. Masing-masing harus bisa melihat bahwa sebagian besar dari kita hanya mengejar kebahagiaan sementara: kekayaan, status sosial, reputasi baik. Kita mengejar-ngejar ini semua dan menjadikannya sebagai tujuan hidup kita. Kita ingin kaya, ingin terpandang, dan seterusnya, karena kita membayangkan itu semua akan membuat kita bahagia.

Mengapa banyak sekali orang mengejar-ngejar kebahagiaan yang sifatnya sementara itu? Bahkan ada yang bela-belain hingga membanting tulang. Barangkali ada yang membayangkan kalau jadi orang terkenal, maka kita bisa merasakan sebentuk kesenangan. Atau misalnya orang-orang memiliki pendapat yang bagus akan diri kita. Atau barangkali menjadi orang kaya akan memberikan kepuasan tersendiri, sehingga orang-orang berlomba-lomba menumpuk kekayaan.

Tapi tidak semua orang yang memiliki itu semua bisa menikmatinya. Banyak orang tidak bisa menikmati kekayaan mereka. Banyak pula yang mendapatkan kepuasan hanya dengan memilikinya walaupun belum tentu bisa benar-benar menggunakannya. Secara keseluruhan, baik itu ketenaran maupun kekayaan, itu semua sungguh pendek umurnya. Katakanlah kita bekerja sangat keras untuk mengumpulkan kekayaan, seberapa lama kita bisa menyimpannya? Sangat singkat sekali. Dalam waktu tak berapa lama, kekayaan kita bisa berpindah tangan menjadi milik orang lain. Dan pada akhirnya, ketika hidup ini berakhir, kita harus melepaskan semuanya dan berangkat sendirian.

Ketika mati, semua orang akan meninggalkan seluruh barang miliknya, dan ia akan berangkat sendiri ke kehidupan berikutnya. Jadi, segala sesuatu yang sudah diperjuangkan dengan susah payah, pada akhirnya sia-sia belaka. Memahami hal ini, kita harus melunturkan keyakinan dan tidak lagi percaya pada kebaikan samsara. Kita tidak lagi memercayainya sebagai sumber kebahagiaan, dan dengan demikian berhenti mengejarnya.

Jadi, mengejar dan melekat pada samsara inilah yang menghalangi kita membangkitkan penolakan samsara terhadap kehidupan saat ini. Dan kalau kita tidak bisa membangkitkan penolakan samsara terhadap kehidupan ini, bagaimana mungkin kita menolak samsara secara keseluruhan. Metode untuk membangkitkan rasa jijik dan penolakan terhadap samsara ini adalah metode yang diajarkan oleh Je Tsongkhapa, yaitu Tiga Kualitas Utama pada Jalan.

Dalam rangka mengatasi kemelekatan terhadap kehidupan saat ini, pertama-tama kita memeditasikan kebebasan dan keberuntungan, yakni pada poin betapa sulitnya kehidupan seperti ini diperoleh. Berikutnya kita merenungkan kehidupan yang akan datang, yaitu pada topik kematian dan ketidak-kekalan hingga mencapai kesimpulan bahwa hidup ini sangat singkat. Kalau sudah bisa mencapai kesimpulan seperti ini, berarti kita sudah bisa melihat segala sesuatu dalam perspektif yang lebih tepat. Inilah yang akan membantu kita mengatasi keterlibatan penuh terhadap kehidupan saat ini.

Je Rinpoche mengatakan bahwa dengan merenungkan betapa sulitnya memperoleh kebebasan dan keberuntungan serta betapa singkatnya kehidupan ini, maka kita akan bisa mengatasi kemelekatan terhadap kehidupan saat ini. Kita harus merenungkannya berulang-ulang, terus-menerus, bukan hanya meditasi satu dua kali saja, barulah kita bisa memperoleh hasil yang diinginkan.

Perenungan dan meditasi kita haruslah dilakukan berulang-ulang, terus-menerus. Kalau seseorang sudah bisa merealisasikan betapa sulitnya kehidupan yang bebas dan beruntung ini diperoleh, ditambah dengan betapa singkatnya hidup ini, maka mustahil seseorang tidak akan melakukan apa-apa. Kalau sudah paham, mustahil ia akan berperilaku ceroboh, tidak melakukan apapun, ataupun melakukan hal-hal yang tak bermanfaat. Sebaliknya, ia akan melihat betapa mendesaknya situasi yang sekarang dihadapi, dan kalau sampai seseorang gagal memanfaatkan peluang emas ini pada saat ia masih memilikinya, maka telah terjadi kerugian yang sangat besar.

Perenungan dan meditasi kita harus dilakukan berulang-ulang juga dikarenakan kemelekatan kita terhadap kehidupan sekarang sudah mengurat-akar secara mendalam. Saking dalamnya, maka kita harus melakukan perenungan mendalam secara berulang-ulang.

Sebagai kesimpulan, bangkitkanlah penolakan samsara terhadap kehidupan saat ini, untuk kemudian membangkitkan penolakan terhadap samsara secara keseluruhan, lalu berjuanglah untuk mencapai pembebasan dari lingkaran keberadaan atau samsara, agar terbebas dari penderitaan.

Instruksi yang sudah dipaparkan dengan urutan yang jelas dan tanpa noda, yang apabila dimeditasikan akan memberikan hasil yang diinginkan, adalah instruksi yang disebut Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk ketiga jenis praktisi, atau Lamrim.

(jeda sejenak untuk istirahat)

Dengan demikian, instruksi yang dijelaskan di sini adalah instruksi untuk mengembangkan berbagai jenis kualitas-kualitas bajik, sebuah instruksi yang memaparkan bagaimana mengembangkan kualitas bajik tertentu dan membuang atau menghapuskan kesalahan/ sifat buruk.

Inilah instruksi yang disebut Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk ketiga jenis praktisi atau Lamrim. Tujuan dari mempelajari, merenungkan, dan memeditasikan berbagai kualitas spiritual yang terkandung di dalam instruksi ini adalah untuk mengubah cara berpikir kita. Dengan mengubah cara berpikir, kita akan bisa mencapai kebahagiaan yang besar bagi diri sendiri, dan di sisi lain, memiliki kemampuan untuk menolong dan memberikan manfaat kepada orang lain. Inilah sebenarnya tujuan yang hendak kita capai.

Bahan yang diolah adalah batin kita sendiri. Kondisi kita sekarang ini, batin kita berperilaku buruk layaknya anak kecil. Anak kecil ini bukannya mematuhi nasihat orangtuanya, malahan melakukan segala yang dilarang oleh orangtuanya. Artinya, yang disuruh tidak dilakukan, dan yang dilarang justru dilakukan. Itulah kondisi batin kita sekarang ini. Tujuan kita adalah membalikkan cara kerja batin kita, dan mengarahkan batin untuk berperilaku sesuai yang kita inginkan, artinya mengarahkannya pada arah yang positif.

Kita hendak mengubah batin yang tadinya liar dan tidak patuh, untuk kemudian dikendalikan dan diarahkan. Batin kita berperilaku buruk karena menciptakan sebab-sebab penderitaan dan menghindari sebab-sebab kebahagiaan. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita mencintai diri sendiri, dan mengetahui serta memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Artinya, batin kita seharusnya mengumpulkan sebab-sebab kebahagiaan dan menghindari sebab-sebab penderitaan.

Untuk tujuan itulah sekarang kita akan mendengarkan dan mempraktikkan ajaran Lamrim. Rinpoche tidak mungkin mengajarkan keseluruhan Lamrim dalam sesi retret yang cukup singkat seperti ini, oleh sebab itu, topik-topik Lamrim telah dipecah dan dibagi-bagi. Kita akan dibimbing setahap semi setahap. Tahun lalu topiknya adalah “Kemuliaan terlahir sebagai manusia” dan topik ini sudah selesai dibahas hingga poin “Merenungkan betapa sulitnya kelahiran seperti itu diperoleh.” Sekarang kita lanjut pada topik berikutnya, yaitu “Kematian dan ketidak-kekalan.”

Teks akarnya adalah “Instruksi-instruksi Guru yang Berharga” atau garis-garis besar Lamrim. Rinpoche akan memberikan transmisi teks ini hingga pada bagian yang akan dijelaskan.

(Transmisi “Instruksi-instruksi Guru yang Berharga”)

Kita mulai dengan empat bab besar Lamrim. Empat bab ini sangat penting untuk diketahui karena keempatnya mencakup keseluruhan Tahapan Jalan. Keempat bab tersebut adalah:

1) Penjelasan kualitas-kualitas agung Guru spiritual untuk menunjukkan kemurnian sumber ajaran.
2) Penjelasan kualitas-kualitas agung ajaran itu sendiri untuk membangkitkan rasa hormat terhadap instruksi-instruksi.
3) Bagaimana mendengar dan mengajarkan ajaran dengan kedua kualitas di atas.
4) Bagaimana kita, para murid, dibimbing dengan ajaran yang sebenarnya.

 

Bagi yang sudah hafal garis-garis besar Lamrim, bisa dirujuk di batin secara langsung. Bagi yang belum, apabila ada teks garis-garis besar yang tersedia di hadapan Anda akan sangat baik sekali.

Sudah dijelaskan berulang-ulang, tapi karena penting sekali, Rinpoche akan mengulanginya satu kali lagi. Zaman dulu di India, ada dua cara utama untuk menjelaskan Jalan menuju Pencerahan. Yang pertama adalah cara yang dipakai di Biara Nalanda, yang menjelaskan tiga kemurnian, yaitu:

1) Kemurnian batin Sang Guru
2) Kemurnian ajaran itu sendiri
3) Kemurnian batin para murid

Cara kedua, adalah cara yang dikembangkan di Biara Vikramasila, yang menjelaskan keempat bab besar sebagaimana yang tadi kita lihat, dimulai dengan kualitas-kualitas agung Guru spiritual, dan seterusnya. Yang Mulia Atisha adalah biksu pada Biara Vikramasila, itu sebabnya garis-garis besar Lamrim beliau didasarkan pada empat bab sebagaimana yang kita ketahui.

Barangkali Anda sekalian mengetahui bahwa di India ada situs peninggalan Biara Nalanda. Situs ini ditemukan sudah agak lama dan dirawat oleh Pemerintah India. Di tempat ini ada semacam universitas, museum, dan sebagainya, karena Pemerintah India merawatnya sudah sejak bertahun-tahun yang lampau.

Baru-baru ini ada berita bahwa situs Vikramasila juga sudah ditemukan. Sebelumnya sudah dilakukan pencarian dan penelitian untuk mencari lokasinya, tapi baru ditemukan belakangan ini. Pemerintah India juga memberi perhatian dan ikut merawat situs ini. Rinpoche rasa barangkali tidak akan ditemukan bangunan biara tapi ada rencana memperbaiki situs ini melalui proyek restorasi. Proyek ini cukup besar dan ada orang-orang Tibet yang terlibat di dalamnya. Situs ini terletak tidak jauh dari sebuah stasiun kereta api. Karena tak begitu jauh, stasiun ini diberi nama Stasiun Vikramasila. Lokasinya di antara Kolkatta dan Gaya, jadi stasiunnya adalah stasiun yang paling dekat ke Gaya. Di sinilah lokasi di mana Yang Mulia Atisha, sang pengajar Lamrim, dulunya bermukim.

Kita lihat bab pertama, yaitu “Penjelasan kualitas-kualitas agung Guru spiritual untuk menunjukkan kemurnian sumber ajaran.” Pada dasarnya, ajaran ini berasal dari Buddha Sakyamuni yang diajarkan turun-temurun hingga pada guru spiritual pribadi seseorang. Jadi, semua guru silsilah sebagaimana yang bisa kita lihat pada tangka Ladang Kebajikan mencakup semua guru silsilah Pandangan Mendalam, Aktivitas Luas, dan Praktik Terberkahi. Yaitu, semua guru silsilah yang kita sebut namanya pada saat melafalkan Enam Praktik Pendahuluan pada puja tadi pagi.

Keseluruhan guru silsilah tercakup dalam penjelasan bab pertama, yang dijelaskan untuk menunjukkan bahwa ajaran yang diberikan adalah ajaran yang murni, yang bersumber dari Buddha Sakyamuni sendiri, dan diwariskan turun-temurun hingga pada guru spiritual pribadi kita.

Bab kedua, yaitu “Penjelasan kualitas-kualitas agung ajaran Lamrim itu sendiri untuk membangkitkan rasa hormat terhadap instruksi-instruksi” bisa dijabarkan menjadi 4 poin. Yang pertama: Keagungan pemahaman bahwa tidak terdapat pertentangan di dalam keseluruhan ajaran Buddha. Ini adalah kualitas yang penting sekali untuk dipahami, terutama dewasa ini dengan adanya sikap memihak atau membeda-bedakan ajaran Buddha. Ada yang mengatakan, “Saya mempraktikkan ajaran ini karena ini lebih baik dibandingkan ajaran lain.” Sikap ini sungguh disesalkan dan merupakan kekeliruan.

Sikap ini bisa dihindari apabila seseorang mengikuti ajaran Lamrim. Seseorang yang mendengarkan dan mempraktikkan ajaran Lamrim akan sampai pada pemahaman bahwa, walaupun di permukaan mungkin ada ajaran yang kelihatannya bertentangan, tapi sesungguhnya tidak ada pertentangan. Bahwasannya seluruh ajaran Buddha memiliki tujuan yang sama.
Hal ini berlaku bahkan ketika misalnya ada teks yang menyatakan bahwa “…ajaran ini adalah ajaran yang paling mendalam.” Pernyataan seperti ini berarti tidak ada ajaran lain yang lebih mendalam daripada teks tersebut. Kalau kita melihat pernyataan seperti ini pada sebuah teks, jangan salah memahaminya. Maksud dari pernyataan tersebut adalah semata-mata kepada siapa sebuah ajaran tersebut ditujukan, artinya orang-orang yang memang memiliki karma untuk bertemu dengan ajaran tertentu, maka ajaran itu merupakan ajaran yang terdalam baginya. Alasannya karena ajaran tersebut yang paling memberikan manfaat dan sudah disesuaikan sedemikian rupa terhadap orang-orang tertentu, ibarat seorang guru yang mengajar murid-murid terdekatnya.

Jadi, kalau membaca atau melihat pernyataan seperti itu, jangan serta-merta berpikiran buruk dan mempertanyakan mengapa ada kalimat seperti itu. Sebagaimana sudah dijelaskan, bahwasannya seluruh ajaran Buddha bebas dari pertentangan atau kontradiksi. Bagaimana kita memahami penjelasan ini secara lebih spesifik? Ini berarti seluruh ajaran Buddha pada akhirnya berkontribusi pada satu tujuan, yaitu pencapaian pencerahan.

Di dalam keseluruhan ajaran Buddha, ada ajaran tertentu yang berfungsi sebagai ajaran utama, yang penting dan berfungsi sebagai penyebab langsung bagi pencerahan seseorang. Dengan demikian, ajaran lain memainkan peranan sekunder dalam mendukung proses pencerahan seseorang. Ajaran sekunder ini tetap saja memiliki nilai penting, tapi cara kerjanya tidak secara langsung.

Kualitas berikutnya: Keagungan menyadari semua kata-kata Sang Buddha sebagai instruksi-instruksi. Sekali lagi, poin ini berarti dengan ajaran Lamrim, seseorang memahami bahwa ajaran yang disampaikan merupakan instruksi untuk dipraktikkan.

Sebelumnya telah disampaikan bahwa sikap memihak atau membeda-bedakan bisa dihindari dengan Lamrim. Contohnya di dalam Buddhisme Tibet ada empat aliran berbeda. Masing-masing memiliki ajaran khusus yang spesifik. Misalnya, bagi pengikut aliran Kagyu, mereka akan mengatakan bahwa ajaran Mahamudra adalah ajaran yang paling inti dan mendalam. Sedangkan, bagi pengikut aliran Nyingma, mereka akan mengatakan bahwa ajaran Dzogchen-lah yang merupakan ajaran paling inti dan mendalam, artinya ajaran lainnya tidak.

Ajaran-ajaran itu semua memang merupakan ajaran yang mendalam, tapi kalau seseorang sudah mencapai tingkat spiritual tertentu barulah bisa mempraktikkan ajaran tersebut, terutama praktisi motivasi tertinggi. Sedangkan untuk sisanya, ajaran mendalam tersebut tidak sesuai untuk mereka. Lamrim merupakan instruksi yang cocok untuk semua jenis praktisi, apakah itu praktisi motivasi tertinggi, menengah, bahkan awal.

Oleh sebab itu, bagi mereka yang belum siap untuk ajaran yang tertinggi dan mendalam, akan menemukan bahwa ajaran Lamrim adalah ajaran yang paling sesuai. Ajaran ini cocok untuk praktisi motivasi awal, cocok juga untuk praktisi motivasi menengah, hingga yang tertinggi. Pembagian level ini sebenarnya bukan pada level pemahaman, tapi lebih pada level realisasi. Praktisi motivasi awal artinya mereka yang memiliki level realisasi awal, motivasi menengah memiliki level realisasi menengah, dan motivasi agung memiliki level realisasi yang paling tinggi. Keunggulan ajaran Lamrim adalah ajaran ini cocok dan sudah disesuaikan sedemikian rupa untuk praktisi segala level dan segala kapasitas.

Keunggulan yang ketiga: Keagungan memahami gagasan-gagasan pokok Sang Buddha dengan mudah. Yang terakhir: Keagungan terhindar secara otomatis dari suatu kesalahan besar. Yang terakhir ini misalnya berkaitan dengan sifat memihak dan membeda-bedakan ajaran yang telah disebutkan di atas. Kalau mengikuti Lamrim, kesalahan seperti ini bisa otomatis terhindari

.

Berikutnya, bab yang ketiga: “Bagaimana cara mendengar dan mengajarkan ajaran dengan kedua kualitas di atas.” Rinpoche tidak akan menjelaskan bab ini secara mendetil, tapi pada dasarnya di dalam aktivitas mendengarkan ajaran, kita harus memastikan kita mendengarkan dengan motivasi yang baik dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dengan sikap mendengarkan ajaran berdasarkan motivasi yang baik dan mendengarkan dengan penuh perhatian ini, kita masuk pada bab keempat, yaitu “Bagaimana kita para murid dibimbing dengan ajaran lamrim yang sebenarnya.” Bab keempat ini terbagi menjadi 2 poin, yaitu:

1) Bagaimana cara bertumpu kepada guru spiritual, akar dari sang jalan.
2) Setelah bertumpu padanya, bagaimana secara bertahap mengembangkan batin kita.

Pada dasarnya, kalau poin pertama ini dilakukan dengan benar, ini merupakan akar dari semua kualitas spiritual pada jalan, yang menjadi dasar untuk meraih kualitas-kualitas berikutnya. Untuk poin bertumpu ini, intinya adalah mengembangkan keyakinan yang melihat guru sebagai Buddha yang sesungguhnya. Kalau sudah berhasil, barulah seseorang akan sukses meraih kualitas-kualitas unggul pada jalan. Sebaliknya, kalau tidak mengembangkan keyakinan, maka seseorang tidak akan meraih kualitas yang diharapkan.

Bab keempat, “Setelah bertumpu padanya, bagaimana secara bertahap mengembangkan batin kita.” Ini terbagi menjadi dua bagian:

1) Mendorong diri kita untuk memanfaatkan eksistensi kita sebagai manusia dengan (8) kebebasan dan (10) keberuntungan.
2) Bagaimana cara memanfaatkannya.

Poin pertama mempunyai tiga bagian:

1) Mengidentifikasi eksistensi manusia dengan (8) kebebasan dan (10) keberuntungan.
2) Merenungkan nilai besarnya.
3) Merenungkan betapa sulitnya kelahiran itu diperoleh.

Poin kedua, bagaimana cara memanfaatkannya, mempunyai tiga bagian:

1) Melatih batin pada tahap-tahap jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk dengan tingkat motivasi awal.
2) Melatih batin pada tahap-tahap jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk dengan tingkat motivasi menengah.
3) Melatih batin pada tahap-tahap jalan makhluk motivasi tertinggi.

 

Perhatikan frase “yang dijalankan bersama-sama” pada jalan motivasi awal karena ini merupakan frase yang penting. Ajaran Lamrim sesungguhnya ditujukan pada praktisi-praktisi yang memiliki kecenderungan Mahayana, yang tujuan tertingginya adalah pencapaian Kebuddhaan demi semua makhluk. Frase “dijalankan bersama-sama” ini berarti seseorang tidak mengembangkan kualitas motivasi awal yang sesungguhnya, tapi kualitas yang “dijalankan bersama-sama.”

Di sini ada perbedaan yang sangat besar bahkan radikal, antara makhluk motivasi awal yang sesungguhnya dengan praktisi motivasi awal pada Lamrim. Makhluk motivasi awal beraspirasi untuk menghindari penderitaan alam rendah dan mencapai kelahiran kembali yang menyenangkan di dalam samsara. Inilah tujuan mereka satu-satunya. Tujuan ini dilatari rasa takut akan penderitaan di alam rendah, oleh karenanya mereka mempraktikkan mengambil perlindungan, hukum karma, dan seterusnya. Itulah satu-satunya tujuan mereka dan itulah yang mereka lakukan.

Sedangkan di dalam Lamrim, praktisi motivasi awal melatih batinnya pada tahap-tahap jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk motivasi awal. Mereka juga memeditasikan penderitaan di alam rendah, mengambil perlindungan, menjalankan hukum karma dan akibat-akibatnya, tapi bukan semata-mata demi tujuan mendapatkan kelahiran kembali yang baik di dalam samsara. Tujuan tertinggi dari praktisi motivasi awal adalah mencapai Kebuddhaan demi semua makhluk.

Jadi, kita bisa melihat perbedaan antara makhluk motivasi awal yang sesungguhnya dengan praktisi motivasi awal pada Lamrim. Topik-topik yang dimeditasikan sama, tapi alasan atau motivasi dalam memeditasikan topik-topik tersebut berbeda.

Bagi orang-orang seperti kita, yang memiliki kecenderungan Mahayana, kita tertarik pada ajaran Mahayana yang disampaikan oleh Buddha. Tujuannya adalah mencapai pencerahan yang lengkap dan sempurna demi kebaikan semua makhluk. Kita memeditasikan penderitaan alam rendah tapi tujuan tertinggi dari meditasi ini adalah membangkitkan batin pencerahan di dalam batin kita. Tanpa batin pencerahan, seseorang tidak akan mungkin bisa mencapai pencerahan sempurna.

Kualitas-kualitas yang dibangkitkan pada Tahapan Jalan untuk motivasi awal ini merupakan pendahuluan, yang merupakan faktor penting sebagai persiapan untuk membangkitkan bodhicitta. Seperti yang sudah dijelaskan, ini adalah kualitas-kualitas yang “dijalankan bersama-sama” pada “jalan yang dijalankan bersama-sama” dengan makhluk motivasi awal, tapi tadi sudah dijelaskan pula letak perbedaannya dengan praktisi motivasi awal pada Lamrim.

Tahapan Jalan motivasi awal pada Lamrim merupakan pendahuluan dan persiapan untuk memasuki Tahapan Jalan motivasi agung, yang tujuan utamanya merealisasikan bodhicitta. Ini dijelaskan panjang lebar dalam Lamrim Je Rinpoche. Penjelasan ini khususnya penting bagi Anda yang akan mengajarkan Lamrim untuk disampaikan kepada murid-murid Anda dengan jelas. Bahwasannya Tahapan Jalan motivasi awal ini bukan motivasi awal yang sesungguhnya. Sama halnya, Tahapan Jalan motivasi menengah bukan motivasi menengah yang sesungguhnya. Keduanya merupakan latihan awal yang mutlak diperlukan sebagai persiapan untuk merealisasikan bodhicitta di dalam Tahapan Jalan untuk motivasi agung.

Poin ini penting untuk dijelaskan dengan terang, karena kalau tidak, sangat gampang untuk kehilangan perspektif. Murid-murid Anda bisa jadi beranggapan bahwa mereka mempraktikkan motivasi awal yang sesungguhnya dan berjuang untuk bermeditasi semata-mata untuk meraih kelahiran kembali yang baik dan hanya kelahiran kembali yang baik saja, berikut tujuan motivasi awal lainnya.

Rinpoche mengutip sebuah kutipan dari Gomchen Lamrim yang merupakan teks ringkasan Lamrim Menengah-nya Je Rinpoche. Inti yang hendak disampaikan adalah sama, yakni: (………….kutipan tidak terdengar dengan jelas……….). Tapi sekarang bukan saatnya untuk menjelaskan dengan detil. Alasan-alasan untuk poin ini terdapat di dalam Gomchen Lamrim dan Lamrim Menengah. Anda bisa merujuk pada kedua teks ini.

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam Gomchen Lamrim, penting sekali untuk mengajarkan kepada para praktisi agar selalu ingat mengapa mereka menjalankan Tahapan Jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk motivasi awal dan menengah,yakni semata-mata bertujuan untuk merealisasikan bodhicitta. Kalau tidak berhati-hati, gampang sekali untuk kehilangan perspektif akan tujuan ini dan akhirnya seseorang melatih sebuah praktik dengan alasan yang keliru.

Selanjutnya mari kita lihat Tahapan Jalan motivasi awal yang terbagi menjadi 2 poin besar:

1) Mengembangkan sikap yang merupakan ketertarikan terhadap kelahiran-kelahiran kembali kita di masa yang akan datang.
2) Bertumpu pada metode untuk merealisasikan kebahagiaan dalam kelahiran-kelahiran kembali yang akan datang.

Ini akan dijelaskan pada sesi berikutnya, kira-kira 3 jam dari sekarang.

*** End of Session 1***
(JL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *