Webcast Bordeaux Sesi 1: Revolusi Batin Berdasarkan Tradisi Agung Masa Lalu

  • July 26, 2012
Topik: Jalan Cepat
Jum’at/ 29-Juni-2012
Sesi 1: 14:00-17:00 WIB

 

Catatan Perangkum: Rangkuman ini disusun berdasarkan catatan tangan penerjemah bahasa Indonesia. Rangkuman ini bukan transkrip kata-per-kata secara utuh, melainkan rangkuman isi dan makna ajaran sesuai terjemahan dari bahasa Inggrisnya. Tujuannya untuk mendokumentasikan ajaran mulia para Guru serta memfasilitasi pihak-pihak yang tidak berkesempatan mengikuti sesi secara langsung. Bagi peminat serius, disarankan untuk belajar dan mendalami lebih lanjut. Segala kesalahan ada pada perangkum.

 
* * * * *
 

Sekali lagi kita memiliki kesempatan dalam waktu tiga hari ke depan untuk mendengarkan, merefleksikan, serta memeditasikan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk ketiga jenis praktisi. Saya hendak menyapa Anda semua, baik yang hadir di ruangan ini maupun yang mendengarkan dari jauh, dengan sapaan khas Tibet, Tashi Delek.

 

Menetapkan Tujuan

Kita semua berkumpul di sini untuk mendengarkan ajaran Mahayana Sang Buddha semata-mata untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, baik yang mencakup tujuan pribadi maupun tujuan makhluk lain. Mencakup pula baik tujuan sementara maupun tujuan tertinggi. Walaupun pertama-tama kita mungkin bertujuan mencapai tujuan pribadi, baik yang sifatnya sementara maupun tertinggi, tapi pada akhirnya tujuan kita adalah mencapai tujuan sementara dan tertinggi semua makhluk. Jadi, kita harus senantiasa mengingat adanya tujuan yang lebih tinggi ini.

Berbicara mengenai pencapaian tujuan sementara dan tujuan tertinggi, di satu sisi kita harus memahami adanya tujuan besar yang hendak dicapai. Di sisi lain, kita juga harus memahami cara untuk mencapainya, yang membawa kita pada satu tugas utama, yaitu mengembangkan batin. Mengembangkan batin berkaitan dengan cara berpikir dan perasaan-perasaan kita.

Yang dimaksud dengan tugas mengembangkan batin adalah kita harus menjinakkan batin kita sendiri. Kondisi batin kita saat ini sangatlah liar, tak terkendali, tidak damai. Itulah kondisi batin kita pada tahap ini. Contohnya, walaupun kita mungkin tidak berniat untuk melakukan perbuatan buruk, tapi dikarenakan kita belum bisa mengendalikan batin, maka kondisi batin kita yang kasar dan tak terkendali itu pada akhirnya mendorong kita untuk melakukan tindakan buruk. Dalam kondisi seperti ini, kita seperti tak berdaya dan tak punya pilihan.

Sama halnya, walaupun kita mungkin berniat untuk melakukan kebajikan, tapi karena batin kita tak terkendali, maka batin kita kadang menolak untuk melakukan kebajikan tersebut. Kalau demikian halnya, sesungguhnya kita tidak punya kendali atas diri sendiri. Kita bukanlah penguasa atas diri kita sendiri.

Dalam kondisi saat ini, ada sesuatu yang mengusik batin dan perasaan kita. Ia-lah yang memerintah dan mengendalikan kita. Ia tak lain tak bukan adalah klesha. Klesha mendominasi batin kita sedemikian rupa sehingga ia-lah pemegang kekuasaan tertinggi dalam batin kita. Yang memegang kekuasaan terakhir atau paling lemah adalah diri kita. Kita memiliki kekuasaan paling kecil atas batin kita sendiri. Jangankan menjadi penguasa atau pemimpin atas batin, kita malah menjadi budak daripada seorang budak. Kita adalah pelayan dari seorang pelayan.

Selama kita masih berada dalam kondisi seperti ini, sama sekali tidak mungkin bagi kita untuk merasakan kebahagiaan sejati. Bukan berarti kita tidak pernah merasa bahagia sama sekali, karena ada kalanya kita merasa bahagia dan nyaman. Tapi, kebahagiaan dan kenyamanan yang kita rasakan itu tidak bertahan lama. Dengan segera, perasaan bahagia bisa berubah menjadi tidak bahagia, seperti merasa cemas, gelisah, dan sebagainya. Jadi, walaupun kita mungkin merasakan kebahagiaan di sana sini, tapi itu seluruhnya sangat tidak stabil.

 

Mengambil Alih Kekuasaan atas Diri Sendiri

Selama tiga hari ke depan kita di sini, yang harus kita lakukan, yakni tugas utama kita, adalah membalikkan situasi kita. Bukannya menjadi pelayan dari seorang pelayan atau budak dari seorang budak, kita harus bisa menjadi penguasa atau bos atas diri sendiri. Kita harus bisa mengendalikan batin kita sendiri. Kita harus menjadi pemegang kekuasaan utama dan pertama atas diri sendiri, bukan penguasa terakhir yang paling lemah.

Jadi, itulah yang harus kita upayakan selama tiga hari ke depan ini. Kita akan berupaya mengambil alih kekuasaan, mengambil alih kendali. Ibarat sebuah revolusi yang terjadi pada sebuah negara, kita akan melancarkan revolusi atas batin kita sendiri, dengan tujuan untuk mengambil alih kekuasaan.

Kalau mendengarkan penjelasan seperti ini, barangkali ada di antara Anda yang merasa bahwa ini adalah sesuatu yang sifatnya egois, sebuah tindakan yang hanya mementingkan diri sendiri. Tapi tentu saja pandangan seperti itu adalah pandangan yang keliru dan salah paham.

Ada dua alasan yang menjadi penjelasan akan hal ini. Pertama, walaupun kita mengupayakan dan melatih batin sendiri, namun sesungguhnya tujuan kita melatih batin sendiri bukan untuk diri sendiri. Justru kita berupaya melatih batin sendiri supaya memiliki kemampuan untuk bekerja demi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk, agar kita bisa menuntun mereka semua pada tingkat kebahagiaan tertinggi, bebas dari penderitaan dan meraih kebahagiaan sejati.

Alasan kedua, kita memang perlu dan harus melatih diri kita sendiri terlebih dahulu. Seiring dengan kita melatih diri sendiri, kita akan semakin mampu membangkitkan tekad untuk bekerja demi kesejahteraan dan kebahagiaan makhluk lain. Alasan mengapa kita mulai dari diri sendiri karena kondisi kita saat ini belum memiliki kapasitas atau kemampuan untuk bekerja demi orang lain. Contoh sederhana, kalau kita sendiri sedang sakit parah, maka akan sangat sulit bagi kita untuk bekerja demi orang lain. Prinsip yang sama berlaku di sini. Selama batin kita masih dipenuhi oleh klesha dan sepenuhnya dikendalikan dan dikuasai olehnya, bagaimana mungkin kita bisa secara efektif membantu makhluk lain?

Saya bisa memberikan dua buah contoh berkaitan hal ini untuk memberikan gambaran yang lebih jelas. Banyak di antara Anda yang mengenal rekan kita, Pierre Arenes, yang meninggal dunia beberapa waktu yang lalu. Ketika rasa sakit yang dirasakannya semakin meningkat, ia benar-benar dilumpuhkan oleh rasa sakitnya itu. Ia tidak memiliki kemampuan untuk meditasi atau melakukan apa pun. Kita tidak tahu apakah Pierre adalah seorang yang sudah memiliki pencapaian tinggi, tapi anggaplah ia adalah orang biasa, maka itu adalah kejadian yang dialami oleh dirinya.

Kejadian menjelang kematian seperti Pierre juga bisa dialami oleh praktisi yang sudah mencapai realisasi yang tinggi. Jadi, orang-orang dengan realisasi tinggi juga mengalami ketidakberdayaan ketika harus menghadapi rasa sakit atau penderitaan menjelang kematian. Saya bisa memberikan satu contoh nyata sehubungan dengan ini, yakni pada sosok Yeshe Dondrup, yang merupakan penggubah syair doa umur panjang untuk semua guru. Beliau adalah biksu di Biara Dagpo yang memiliki realisasi tinggi dalam praktek Tantra. Beliau juga merupakan guru dari Tenzin Khedrup.

Suatu kali ia sedang menetap di pertapaannya dan menderita sakit parah. Walaupun sakit, orang-orang tetap berdatangan mengunjunginya untuk memohon doa, berkah, nasihat, dan pertolongan terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi. Kepada orang-orang yang datang untuk memohon doa padanya ini, Beliau menjawab: “Saat ini saya tidak bisa memberikan doa dan pertolongan yang Anda minta, tapi nanti setelah saya memasuki bardo barulah saya bisa mengabulkan permohonan akan pertolongan dan perlindungan dari Anda semua. Saat ini saya benar-benar tidak memiliki kemampuan karena sakit yang saya derita ini. kalau saya sudah memasuki bardo, saya akan mengabulkan permohonan Anda semua.”

Jadi, walaupun Yeshe Dondrup adalah seorang praktisi dan guru spiritual tingkat tinggi, namun ia tetap kehilangan kemampuan pada saat didera oleh rasa sakit akibat penyakit. Dengan demikian, ia tidak mampu menolong orang lain ketika dibutuhkan. Kalau guru besar dengan realisasi tinggi seperti Beliau saja masih harus menjalani kondisi seperti itu, apalagi kita-kita ini yang batinnya masih terus-menerus dirongrong oleh klesha.

Kita semua benar-benar harus berjuang keras dengan sebisa-bisanya untuk menaklukkan dan menjinakkan batin kita. Tujuan menaklukkan batin bukan semata-mata untuk diri sendiri, tapi demi makhluk lainnya juga. Ada banyak metode atau cara untuk menaklukkan dan mengendalikan batin. Bagi kita, metode yang paling baik, yang sudah tersedia aksesnya, yang paling ideal, yang merangkum semua pokok-pokok inti ajaran Buddha, adalah metode atau instruksi yang disebut “Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk Ketiga Jenis Praktisi.”

Instruksi Tahapan Jalan Menuju Pencerahan ibarat hidangan prasmanan yang sudah siap disantap, karena ini adalah metode yang bisa langsung kita praktekkan sehingga cocok untuk praktisi pemula. Tapi, ada pihak yang beranggapan bahwa instruksi ini hanya diperuntukkan untuk pemula atau praktisi motivasi awal saja. Tentu saja anggapan ini keliru. Instruksi ini sudah diadaptasikan sedemikian rupa sehingga merupakan instruksi yang cocok untuk praktisi kapasitas awal, menengah, hingga agung. Singkatnya, ini adalah instruksi yang cocok untuk praktisi spiritual di semua level. Itu sebabnya saya ada di sini untuk mengajarkannya dan Anda ada di sini untuk mendengarkan instruksi Tahapan Jalan Menuju Pencerahan yang berjudul “Jalan Cepat.”

Ini adalah kali keempat saya mengajarkan teks ini di tempat ini. Sesuai tradisi lisan guru-guru besar masa lalu, saya akan mengajarkan teks “Jalan Cepat” yang dikombinasikan dengan teks Lamrim lainnya, yaitu “Instruksi-instruksi Guru yang Berharga” atau garis-garis besar Lamrim. Garis-garis besar Lamrim mencakup instruksi Jalan Cepat dan Jalan Mudah.

 

Membangkitkan Motivasi

Pertama-tama dan yang paling utama, sangat penting sekali bagi kita untuk membangkitkan motivasi yang unggul, artinya mendengarkan ajaran dengan motivasi atau kerangka berpikir yang positif. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar bagaimana cara membangkitkan motivasi unggul di dalam diri Anda dikarenakan keterbatasan waktu dan sebagian besar dari Anda sudah pernah mendapatkan penjelasan ini. Singkatnya, kita harus mengingat kembali bahwa kita sudah mendapatkan kemuliaan terlahir sebagai seorang manusia yang bebas dari semua halangan dan diberkahi dengan semua kondisi-kondisi yang mendukung.

Keunggulan dan keistimewaan kehidupan yang sudah kita dapatkan sekarang ini membuat kita memiliki kapasitas dan kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain yang kehilangan atau tidak memiliki kondisi ini. Berkat sifat dasar keunggulan dari hidup yang sudah kita dapatkan ini, maka kita memiliki potensi untuk meraih tujuan-tujuan yang lebih tinggi.

Kenyataan bahwa kita sudah mendapatkan tubuh manusia, itu berarti kita memiliki batin seorang manusia. Batin manusia memiliki kapasitas dan potensi yang tak terbatas. Kita memiliki potensi untuk mengembangkan batin hingga ke titik tertinggi yang tak terbatas. Batin manusia pada gilirannya bergantung pada jasmani seorang manusia pula. Dibandingkan dengan jasmani binatang, yakni seekor binatang yang memiliki batin dan jasmani binatang. Tentu saja batin dan jasmani binatang memiliki halangan fisik dan mental yang sangat besar serta kemampuan dan potensinya amat sangat terbatas.

Sebaliknya, kita yang sudah mendapatkan batin dan jasmani seorang manusia, kita memiliki kemampuan batin yang tak terbatas. Jasmani manusia juga memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, misalnya jasmani manusia tersusun dari unsur-unsur pembentuk, saluran, angin, dan seterusnya. Ini adalah karakteristik khusus yang hanya terdapat pada jasmani seorang manusia karena karakteristik tersebut tidak dimiliki oleh makhluk pada bentuk kehidupan yang lain. Karakteristik ini mendukung kenyataan bahwa potensi batin manusia adalah tak terbatas.

Dikarenakan sifat atau karakteristik dasar pada kehidupan saat ini, batin kita memiliki potensi untuk berkembang hingga ke tingkat tanpa batasan. dengan bentuk kehidupan seperti ini, kita bisa mencapai tujuan-tujuan yang sangat tinggi dan luas. Tapi, di sisi lain, kita juga harus menyadari betapa kehidupan ini tidak akan berlangsung untuk selama-lamanya. Berakhirnya hidup ini adalah sesuatu yang pasti dan tak terelakkan.

Berikutnya, tak satu pun di antara kita semua yang mengetahui dengan persis seberapa lama lagi waktu yang tersisa dalam hidup ini. Bisa jadi waktu yang tersisa bagi kita tinggal satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari, bahkan bisa saja tinggal beberapa saat dari sekarang. Tak seorang pun dari kita yang tahu persis dan pasti seberapa lama lagi kita akan hidup. Kita bisa saja membayangkan bahwa kita masih memiliki waktu dalam hidup ini, tapi sesungguhnya tidak ada dasar pendukungnya sama sekali. Tak peduli seberapa sehat atau seberapa mudanya seseorang, itu bukan jaminan bahwa ia akan hidup untuk waktu yang lama. Kesehatan yang prima bukan jaminan terhadap seberapa lama umur seseorang bisa bertahan.

Sesungguhnya hidup seseorang bisa berakhir kapan saja, dengan sangat mudah sekali. Oleh karena itu, semakin penting bagi kita untuk sesegera mungkin mencapai tujuan-tujuan yang paling penting. Kita memiliki potensi yang tak terbatas, namun kehidupan ini sangat rapuh. Sangat penting bagi kita untuk meraih kesempatan dan mencapai tujuan-tujuan kita selekas-lekasnya, tanpa menunda-nunda lagi. Kita harus bisa mencapai semua tujuan-tujuan kita sebelum hidup ini berakhir.

Buddhisme mengajarkan bahwa yang paling ideal adalah seseorang harus bisa mencapai tujuan hidupnya selagi masih bisa. Buddhisme mendorong agar orang-orang dalam kehidupan ini bisa meraih tujuan-tujuan tertinggi. Bahkan, sangat penting sekali bagi orang-orang untuk meraih realisasi tertentu yang bisa dibawa pada kehidupan berikutnya, untuk dilanjutkan lagi. Kita harus bisa mendapatkan realisasi yang baik dan kokoh untuk menjamin agar kita mendapatkan kehidupan berikutnya yang baik, sehingga kita bisa yakin dan sepenuhnya percaya diri bahwa kita memang benar-benar mampu mendapatkan kehidupan yang baik pada kelahiran berikutnya nanti.

Jika tidak yakin, maka yang bisa kita lakukan adalah memanjatkan doa permohonan yang tulus dan bersungguh-sungguh agar mendapatkan kelahiran yang baik pada kehidupan berikutnya. Kita harus bisa berdoa sedemikian kuat dan sungguh-sungguh sehingga kita cukup yakin dan percaya diri akan apa yang akan menanti kita pada kehidupan berikutnya. Kesemuanya ini membutuhkan proses dan pembiasaan diri. Kita harus memperkuat dan membiasakan diri terhadap pikiran-pikiran yang positif. Di sisi sebaliknya, segala kebiasaan buruk yang selama ini telah kita pupuk harus dihentikan, yakni kebiasaan buruk berupa batin yang dipengaruhi oleh klesha.

Syarat paling minimal bagi Anda untuk mendengarkan ajaran pada hari ini adalah tekad kuat untuk meraih Kebuddhaan demi semua makhluk, yaitu demi membebaskan mereka dari penderitaan dan menuntun mereka pada kebahagiaan. Untuk meraih tujuan tersebut, metode yang digunakan adalah perenungan dan meditasi.

Bagi yang bukan buddhis, Anda tetap bisa membangkitkan niat untuk menolong sebanyak-banyaknya orang lain. Dalam rangka menolong orang lain, Anda menyadari betapa kemampuan Anda saat ini masih sangat terbatas. Oleh sebab itu, Anda berniat untuk mengembangkan kemampuan dan kapasitas Anda sendiri. Untuk itulah Anda berada di sini untuk mendengarkan ajaran Dharma dan setelah itu mempraktekkan apa yang telah didengar.

Pertama-tama, saya akan melanjutkan transmisi lisan. Yang pertama akan saya berikan adalah transmisi lisan garis-garis besar Jalan Cepat, kemudian “Instruksi Guru-guru yang Berharga.” Kita mulai pada batas sebelumnya dan akan diselesaikan pada hari Minggu pagi. Dengan demikian, secara keseluruhan Anda akan mendapatkan transmisi lengkap teks Lamrim.

Untuk “Instruksi Guru-guru yang Berharga,” kita mulai dari permulaan Motivasi Agung. Bagi yang sudah hafal, tentu Anda bisa mengikutinya dalam hati. Jika belum, silahkan merujuk pada teks Anda masing-masing.

[ transmisi lisan ]

Saya telah membaca hingga bagian akhir Enam Paramita, yaitu pada bagian “Bagaimana berlatih dalam praktek Bodhisattva secara umum.” Untuk teks Jalan Cepat, saya telah membacakan hingga hal. 60. Sekarang kita masuk pada penjelasan teks Jalan Cepat, yakni pada bagian “Mengenali semua makhluk sebagai ibu-ibu kita.”

Kapan pun sebuah ajaran Lamrim disampaikan, kita harus senantiasa mengingat struktur dasar Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, yang terdiri dari empat bab utama:

1. Penjelasan kualitas-kualitas agung guru spiritual untuk menunjukkan kemurnian sumber ajaran.
2. Penjelasan kualitas-kualitas agung ajaran untuk membangkitkan rasa hormat terhadap instruksi-instruksi.
3. Bagaimana cara mendengarkan ajaran dan mengajarkannya dengan kedua kualitas di atas.
4. Bagaimana kita para murid dibimbing dengan ajaran Lamrim yang sebenarnya.

Jika Anda sudah hafal empat bab utama ini, tentu akan sangat baik sekali. Kalau belum, silahkan lihat teks Anda dan ingatlah selalu keempat struktur utama ini.

Pemaparan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk Ketiga Jenis Praktisi berdasarkan empat bab utama ini sangatlah penting. Ingatlah bahwa di masa lampau ada dua cara untuk memaparkan instruksi Tahapan Jalan. Yang pertama adalah cara yang dipakai oleh guru-guru di Universitas Nalanda. Yang kedua, cara yang dipakai oleh guru-guru di Universitas Vikramasila. Kita mengikuti cara yang dipakai di Universitas Vikramasila.

Alasan mengapa kita mengikuti cara pemaparan Tahapan Jalan tersebut dikarenakan Guru Atisha berasal dari Vikramasila. Guru Atisha-lah yang menyusun “Pelita Sang Jalan Menuju Pencerahan” dan sistem-sistem berikutnya, yakni karya-karya Lamrim selanjutnya, berdasarkan karya awal ini. Secara alami sistem-sistem Lamrim tersebut juga mengikuti cara Vikramasila.

 

Mempertahankan Tradisi

Penting sekali bagi kita untuk menjunjung tinggi tradisi, seperti misalnya tradisi yang baru saja kita liha, dalam rangka mempraktekkan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Kita melakukan praktek ini karena kita ingin mentransformasi dan mengembangkan batin. Jika kita menggunakan metode yang dibuat-buat atau direka-reka oleh seseorang, maka di tengah perjalanan kita tidak yakin apakah metode tersebut benar atau tidak. Akibatnya, ada resiko besar bahwa kita tidak akan berhasil meraih tujuan yang dikehendaki.

Di sisi lain, kalau kita menggunakan metode yang sudah terbukti, yakni bukti bahwa ada banyak praktisi yang sudah berhasil dan mencapai realisasi, maka ada alasan kuat kita akan bisa mencapai hasil yang sama. Untuk mencapai hasil yang sama inilah kita harus menjaga dan mengikuti tradisi sesuai yang telah dilakukan oleh guru-guru masa lampau.

Tradisi yang harus kita jaga dan ikuti adalah tradisi yang bermanfaat, bukan tradisi yang tidak bermanfaat atau justru yang membahayakan. Karena kita tahu segala sesuatu berubah sesuai perkembangan waktu dan zaman. Oleh karena itu kita harus bisa mempertimbangkan mana yang harus dipertahankan dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Untuk tradisi-tradisi yang memang sahih dan bermanfaat serta efektif, alangkah baiknya kalau kita pertahankan dan jaga serta ikuti dengan baik. Sekali lagi saya tekankan, tujuan kita adalah untuk melatih batin berdasarkan metode yang sahih untuk menghasilkan transformasi yang sahih pula. Untuk itu, semua tradisi yang mendukung tercapainya tujuan tersebut harus tetap dipertahankan.

Metode-metode yang memungkinkan kita untuk mengembangkan batin, mengurangi klesha, maka selama masalah klesha itu masih tetap ada, selama itu pula tradisi-tradisi yang bermanfaat untuk mengurangi klesha harus tetap dipertahanakan.

Biasanya dalam urusan sehari-hari kita selalu bersedia menerima atau mengadopsi cara-cara atau metode yang baru. Kita menggunakan sistem yang terbukti efektif dan bermanfaat dan mengabaikan tradisi-tradisi yang sebenarnya masih sahih. Tentu saja ini bukan cara yang ideal untuk dilakukan. Kalau kita sekadar mengadopsi metode dan sistem semata-mata karena itu adalah sesuatu yang baru dan di sisi lain kita mengabaikan tradisi-tradisi kuno yang masih sahih, maka ini bukan cara yang bijak.

Dari mana datangnya ide, presentasi, dan sistem yang baru? Itu semua datangnya dari hasil pemikiran seseorang, yaitu semacam inovasi baru. Tentu saja kita tidak bisa menghentikan orang-orang untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru, pemikiran-pemikiran baru. Tapi di antara semua kreasi-kreasi baru yang diciptakan, kita harus cermat dan memeriksanya dengan teliti. Janganlah kita serta-merta langsung mengadopsi hal-hal yang baru karena sesuatu yang baru belum tentu bermanfaat. Kita harus menggunakan pertimbangan yang baik dan memeriksanya dengan cermat.

 

Empat Bab Utama Lamrim

Kembali pada bab pertama, bab ini menekankan otentisitas guru spiritual untuk menunjukkan kemurnian sumber ajaran. Jelas sekali bahwa kita perlu mengikuti sebuah ajaran dan instruksi yang bersumber langsung dari Buddha itu sendiri. Sebuah ajaran yang diajarkan oleh Buddha kepada pengikut-pengikutnya, yang pada gilirannya mewariskannya kepada murid-muridnya. Jadi, ajaran ini diturunkan dari guru kepada murid, dan murid tersebut kepada murid-murid mereka, dalam suatu silsilah yang tak terputus hingga hari ini.

Bab kedua menekankan kualitas agung ajaran itu sendiri untuk membangkitkan rasa hormat kepada instruksi Lamrim. Berkat Lamrim, kita bisa memahami betapa seluruh ajaran Buddha bebas dari kontradiksi. Berkat Lamrim, kita bisa mengenali semua ajaran sebagai instruksi untuk dipraktekkan. Berkat Lamrim, kita bisa membangkitkan rasa hormat kepada semua ajaran Buddha, tanpa pilih-pilih dan tanpa diskriminasi. Kadang-kadang mudah sekali kita melakukan kesalahan besar dengan berpikir bahwa ajaran tertentu pantas diikuti sedangkan ajaran lainnya tidak begitu bagus. Tapi, berkat Lamrim, kita bisa menghindari kesalahan besar tersebut.

Kesalahan membeda-bedakan ajaran Buddha berkaitan erat dengan kesalahan meninggalkan Dharma, yang merupakan tindakan yang sangat negatif. Sebaliknya, berkat Lamrim, kita bisa melihat keseluruhan ajaran Buddha sebagai instruksi-instruksi untuk dipraktekkan. Berkat Lamrim, kita menghindari kesalahan menolak dan meninggalkan Dharma, yang tentu saja merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Sangat penting bagi kita untuk mengembangkan rasa hormat kepada Dharma atau ajaran.

Bab ketiga merupakan penjelasan bagaimana cara mendengarkan ajaran dan kemudian mengajarkannya berdasarkan kedua aspek kualitas agung sebelumnya. Saya tidak akan menjabarkan ini panjang lebar tapi Anda semua harus mengetahui bahwa penting sekali kita mendengarkan ajaran dengan cara yang benar serta mengajarkannya dengan cara yang benar pula.

Bab keempat adalah penjelasan bagaimana para murid dibimbing dengan ajaran yang sesungguhnya, yang terbagi menjadi dua poin:

1. Bagaimana cara bertumpu pada guru spiritual kita, akar dari sang jalan.
2. Sambil bertumpu padanya, bagaimana secara bertahap mengembangkan batin kita.

Poin “bagaimana bertumpu pada guru spiritual, akar dari sang jalan” adalah ungkapan yang sangat penting yang harus kita pahami. Jika kita bertumpu dengan benar pada guru spiritual, baik dalam pikiran maupun perbuatan, serta mengembangkan keyakinan pada guru spiritual hingga pada tingkat melihatnya sebagai Buddha yang sesungguhnya. Dari situ, kita harus bisa menyadari kebaikan hati guru berdasarkan kebaikan-kebaikan yang sudah ditunjukkannya kepada kita. Kalau sudah bisa mengembangkan poin ini, maka akan sangat mudah bagi kita untuk memahami poin-poin ajaran berikutnya pada struktur Tahapan Jalan. Kita akan lebih mudah membangkitkan kualitas-kualitas spiritual pada jalan. Semua unsur-unsur positif akan bangkit tanpa harus bersusah-payah terlalu jauh.

Sebaliknya, kalau kita tidak bertumpu pada guru spiritual dengan baik dan benar, maka tak peduli apa pun yang kita upayakan, kita akan menemukan kesulitan besar dalam melakukannya. Demikianlah betapa pentingnya poin bertumpu pada guru spiritual yang merupakan akar dari jalan spiritual.

Poin kedua pada bab keempat adalah bagaimana secara bertahap mengembangkan batin kita, yang terbagi lagi menjadi dua poin:

1. Mendorong diri kita untuk menarik manfaat sepenuhnya dari eksistensi sebagai manusia dengan (8) kebebasan dan (10) keberuntungannya.
2. Bagaimana cara memanfaatkannya.

  

Poin pertama adalah mendorong diri kita sendiri agar benar-benar menyadari potensi apa yang kita miliki. Kalau sudah benar-benar memahami potensi yang terkandung, maka kita baru benar-benar bisa menyadari bahwa kita memang memiliki kapasitas untuk merealisasikan keseluruhan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan. Sebaliknya, kalau tidak benar-benar menyadari, maka akan timbul keragu-raguan dan kita akan bertanya-tanya apakah kita memang benar-benar memiliki kapasitas penuh, apakah kita memang benar-benar mampu untuk melakukannya.

Poin kedua, bagaimana cara memanfaatkannya, terbagi menjadi:

1. Melatih batin pada tahap-tahap jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk-makhluk tingkat motivasi awal.
2. Melatih batin pada tahap-tahap jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk-makhluk tingkat motivasi menengah.
3. Melatih batin pada tahap-tahap jalan makhluk-makhluk tingkat motivasi tertinggi.

Sebelumnya kita sudah membahas motivasi awal dan menengah. Sekarang, kita sudah sampai pada penjelasan motivasi tertinggi atau motivasi agung.

 

Memasuki Motivasi Agung

Jalan makhluk-makhluk dengan tingkat motivasi tertinggi terbagi tiga:

1. Mengenali manfaat-manfaat bodhicitta, sebagai satu-satunya pintu gerbang menuju Mahayana, dan seterusnya.
2. Bagaimana cara mengembangkan bodhicitta.
3. Setelah mengembangkan bodhicitta, bagaimana cara berlatih dalam praktek Bodhisattva.

Keseluruhan tahapan jalan makhluk motivasi agung tercakup dalam tiga poin tersebut. Di dalam garis-garis besar Jalan Cepat, kita akan menemukan bagian lebih lanjut pada bagian sesaat sebelum memasuki motivasi agung. Jadi, letaknya di antara motivasi menengah dan motivasi agung yang sebenarnya.

Saya sudah membacakan transmisi dan memberikan penjelasan pada teks ini sampai pada bagian motivasi menengah, yaitu pada hal. 60 teks berbahasa Tibet. Jangan lupa bahwa untuk melatih tahapan jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk motivasi awal, utamanya kita harus mengatasi keterlibatan total pada kehidupan saat ini, yaitu segala sesuatu yang hanya berkaitan dengan hidup saat ini saja. Kualitas penolakan pada kehidupan saat ini merupakan awal bagi munculnya penolakan yang dilatih pada jalan motivasi menengah.

Pada motivasi menengah, kita mengatasi kemelekatan pada samsara secara keseluruhan dan membangkitkan penolakan penuh terhadap lingkaran keberadaan secara menyeluruh. Penolakan samsara adalah keinginan untuk bebas dari samsara berikut kondisi-kondisinya.

Ketika Anda sudah melatih diri pada Tahapan Jalan Menuju Pencerahan, pertama-tama dari jalan motivasi awal, berikutnya motivasi menengah, maka Anda akan sampai pada kesimpulan bahwa Anda benar-benar ingin bebas dari samsara secara keseluruhan. Sampai di sini, ada dua pilihan. Anda bisa mengejar pembebasan pribadi dan membebaskan diri dari samsara dengan cara melatih Tiga Latihan Tingkat Tinggi. Dengan berlatih, pertama-tama Anda akan mencapai Jalan Arya level pertama. Berikutnya, Anda akan mencapai Jalan Meditasi hingga akhirnya menjadi seorang Arahat, apakah itu Arahat Sravaka maupun Pratyeka Buddha. Ketika mencapai tingkat Arahat, Anda sudah sepenuhnya bebas dari samsara.

 

Jangan Mengangkat Pakaian Dua Kali untuk Menyeberangi Satu Sungai yang Sama

Seorang Arahat adalah seseorang yang telah menempuh kendaraan Sravaka atau Perealisasi Sendiri yang termasuk dalam Pratimoksayana atau kendaraan pembebasan pribadi. Kendaraan ini bisa dicapai apabila seseorang mempraktekkan keseluruhan Tahapan Jalan Menuju Pencerahan untuk motivasi awal dan menengah. Jadi, jalan pembebasan pribadi mencakup tahapan jalan motivasi awal dan menengah.

Akan tetapi, kita bukan termasuk dalam keluarga jalan pembebasan pribadi. Kita memiliki kecenderungan lain, yakni kecenderungan Mahayana, keluarga spiritual yang beraspirasi mencapai Kebuddhaan demi semua makhluk. Kalau demikian halnya, apakah itu berarti kita bisa langsung loncat dan melatih diri pada tahapan jalan untuk makhluk motivasi agung? Tentu tidak. Bukan demikian caranya. Pertama-tama kita tetap harus melatih diri pada tahapan jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk motivasi awal dan menengah.

Keberhasilan latihan pada tahapan jalan motivasi awal dan menengah tentu saja bergantung pada kemampuan masing-masing individu. Apabila seseorang sebelumnya telah melatih diri pada tahapan jalan motivasi awal dan menengah, maka ia akan lebih mudah melaju untuk melatih diri pada tahapan jalan motivasi agung. Kalau belum, dan ini berlaku untuk sebagian besar dari kita semua, maka kita harus mulai dari tahapan jalan motivasi awal, yakni meraih kualitas mengurangi kemelekatan pada kehidupan saat ini. Dalam rangka mengatasi kemelekatan pada kehidupan saat ini saja, maka kita pertama-tama harus melatih diri pada tahapan jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk motivasi awal.

Kondisi kita saat ini masih memiliki kemelekatan yang besar pada kehidupan saat ini. Oleh karena itu, kita harus bersungguh-sungguh melatih diri pada tahapan jalan untuk motivasi awal. Menaklukkan diri sendiri pada tahapan jalan motivasi awal artinya kita mengatasi kemelekatan pada kehidupan saat ini. Poin-poin perenungan yang tercakup di dalam jalan motivasi awal memungkinkan kita untuk mengatasi kemelekatan pada kehidupan saat ini saja.

Berikutnya, pada kondisi saat ini juga kita belum mengatasi kemelekatan pada samsara secara keseluruhan. Cara untuk mengatasinya adalah melatih diri pada tahapan jalan yang dijalankan bersama-sama dengan makhluk motivasi menengah.

Kalau kita membatasi diri hanya pada realisasi jalan motivasi awal dan menengah saja, kita tetap akan bisa mencapai pembebasan pribadi dari samsara, tapi kita tidak akan meraih tujuan kita secara lengkap. Berikutnya, kita juga tidak akan meraih tujuan untuk semua makhluk, yaitu tujuan membebaskan mereka dari penderitaan dan menuntun mereka pada kebahagiaan. Melatih diri pada tahapan jalan motivasi awal dan menengah saja tidak cukup bagi kita untuk meraih tujuan tersebut.

Kalau kita sudah berpuas diri dengan realisasi jalan pada kendaraan pendengar atau perealisasi sendiri saja, maka itu belum cukup. Kita memang sudah bebas dari samsara, namun kita belum memenuhi tujuan pribadi kita secara sepenuh-penuhnya. Selain itu, kita juga belum bisa memenuhi tujuan semua makhluk secara sepenuh-penuhnya pula. Kapasitas dan kemampuan kita untuk menolong makhluk lain belum sepenuhnya berkembang hingga ke titik yang paling sempurna.

Walaupun kita sudah mencapai tingkat Arahat, baik pada kendaraan pendengar maupun perealisasi sendiri, tapi kita belum memenuhi tujuan pribadi dengan sepenuhnya. Kita belum memurnikan seluruh ketidaksempurnaan dan halangan/ kesalahan hingga ke tingkat yang paling murni. Kita masih memiliki halangan untuk bisa mencerap kedua jenis kebenaran pada saat bersamaan. Kita juga belum menghancurkan klesha penghalang secara keseluruhan walaupun pada tingkatan tersebut seseorang bisa menikmati kondisi ketenangan dan kebahagiaan selama berkalpa-kalpa.

Dalam kondisi tenggelam dalam ketenangan dan kebahagiaan luar biasa selama berkalpa-kalpa, tidak mungkin bagi seseorang untuk bekerja memberikan manfaat bagi makhluk lain. Seseorang yang menikmati kebahagiaan yang teramat besar untuk waktu yang sangat lama tidak bisa berpikir untuk bekerja demi makhluk lain. Lebih lanjut, karena tenggelam dalam kebahagiaan besar untuk waktu yang lama, ia juga tidak bisa berupaya mengatasi halangannya hingga ke tingkat yang paling sempurna. Ia pun tidak bisa menyempurnakan kualitas-kualitas unggul yang belum tercapai.

Untuk alasan inilah, berkat welas-asihnya, Buddha datang dan mendorong mereka untuk meraih tujuan-tujuan tertinggi, dengan cara membangkitkan bodhicitta – aspirasi untuk mencapai Kebuddhaan. Berkat welas asih agungnya, Buddha membangunkan para Arahat dari tidur berkepanjangan untuk kemudian mengejar tujuan-tujuan tertinggi mereka. Tapi dikarenakan mereka benar-benar tercerap dalam kebahagiaan besar untuk waktu yang teramat sangat lama, sulit sekali untuk membangunkannya. Lebih sulit lagi bagi mereka untuk membangkitkan niat untuk mencapai pencerahan atau bodhicitta. Karena mereka sudah tertidur dalam kebahagiaan besar untuk waktu yang sangat lama, sulit bagi mereka untuk membangkitkan cara berpikir yang berbeda.

Jika Anda mengikuti jalan ini, maka pencapaian Kebuddhaan Anda akan tertunda untuk waktu yang sangat lama sekali. Pencapaian Kebuddhaan melalui jalan seperti ini akan memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan jalan lainnya. Alasan mengapa jalan ini memakan waktu yang sangat lama ada dua. Pertama, seseorang harus terlebih dulu meninggalkan kondisi tercerap dalam kebahagiaan besar untuk waktu yang sangat lama. Berikutnya, setelah terbangun, ia harus berupaya membangkitkan bodhicitta. Tak pelak lagi, dengan jalan seperti ini, pencerahan akan tertunda untuk waktu amat sangat lama.

Itu sebabnya Geshe Potowa di dalam Kitab Biru kecilnya memberikan nasihat agar kita jangan sampai mengangkat baju dua kali untuk menyeberangi sungai yang sama. Kalau kita ingin menyeberangi sungai pada kedalaman tertentu dan kita hanya mengangkat pakaian pada ketinggian tertentu saja, maka di tengah-tengah sungai ketinggian pakaian tidak cukup untuk melewati kedalaman sungai. Maka, di tengah-tengah perjalanan, kita harus berhenti dan mengangkat pakaian lebih tinggi lagi agar bisa melewatinya. Akan jauh lebih baik kalau di awal kita sudah mengangkat pakaian hingga ketinggian yang dibutuhkan.

Sama halnya, kalau kita pertama-tama mengambil jalur kendaraan kecil tapi kemudian di tengah perjalanan kita harus berhenti sebelum memasuki kendaraan besar, maka akan lebih baik kalau dari awal kita sudah menetapkan tujuan pada kendaraan besar.

Ada sebuah kutipan lain dari Parchin Drupa atau ‘Ikhtisar Penyempurnaan’ yang menasihati agar seseorang meninggalkan kendaraan yang tidak memberikan kapasitas untuk mencapai tujuan semua makhluk secara menyeluruh, dan sebaliknya, ia seharusnya bertumpu pada welas asih yang lengkap dan menyeluruh, raja di antara seluruh kendaraan Buddha. Kendaraan ini sepenuhnya diliputi oleh keinginan untuk menolong semua makhluk. Jadi, akan lebih baik kalau dari awal kita memasuki kendaraan agung ini.

 

Manfaat-manfaat Bodhicitta dari Instruksi Oral Manjughosa

Di dalam garis-garis besar Motivasi Agung di dalam Tahapa Jalan Menuju Pencerahan, disebutkan tentang bagaimana cara melatih dalam praktek Bodhisattva. Di dalam garis-garis besar Jalan Cepat, hanya ada dua poin, berbeda dengan tiga poin yang terkandung di dalam garis-garis besar Lamrim. Pada “Instruksi-instruksi Guru yang Berharga”, poin pertamanya adalah mengenali manfaat-manfaat bodhicitta. Ini adalah poin yang ditambahkan oleh penyusun teks ini, yang diambil dari Jamphel Shelung (Instruksi Lisan Manjughosa) karya Yang Agung Dalai Lama Kelima.

Di dalam poin ini, penyusun teks garis-garis besar Lamrim mencantumkan sepuluh manfaat bodhicitta, yang diambil dari Instruksi Lisan Manjughosa karya Yang Agung Dalai Lama Kelima. Dengan adanya tambahan poin manfaat ini, maka ada tiga poin di dalam garis-garis besar Lamrim, sedangkan di dalam Jalan Cepat hanya ada dua poin, yakni:

1. Bagaimana cara mengembangkan bodhicitta
2. Bagaimana melatih diri dalam praktek Bodhisattva.

Sampai di sini untuk sesi ini. Kita lanjut pada sesi berikutnya.

 
 
* * * * *
 
[ bersambung pada Sesi-2 ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *