Pesan Suhu untuk Waisak 2013

  • April 19, 2013
DALAM RANGKA WAISAK 2557/2013, KCI MEMPERSEMBAHKAN:

 

BULAN BAKTI & JASA KEPADA GURU
DEDIKASI UNTUK UMUR PANJANG YM. DAGPO RINPOCHE & KEBERLANGSUNGAN SILSILAH EMAS

 

PROLOG OLEH YM. SUHU BHADRA RUCI

Sebelumnya, dihaturkan terima kasih kepada segenap kalangan KCI yang bersedia meluangkan waktunya untuk membaca pesan berikut ini.

Sebagaimana yang kalian ketahui, Center telah memulai perjuangan untuk sekali lagi menegakkan ajaran Sang Buddha di Nusantara. Titik tolaknya adalah proyek pembangunan biara di Malang. Kondisi di lapangan sendiri sebenarnya tidak terlalu bagus, karena ada banyak masalah yang datang silih berganti. Dan tidak ada yang aneh dengan fenomena ini. Kenapa? Sederhana sekali. Karena kita berencana membangun sesuatu yang “besar” untuk kepentingan orang banyak. Sesuatu yang butuh karma besar akan selalu diimbangi pula oleh halangan yang besar. Sang Buddha pun diganggu oleh bala tentara mara di momen terakhir sebelum pencerahanNya. Guru Atisha sendiri diganggu oleh monster laut sebelum beliau bertemu ajaran agung Bodhicitta.

Ketika Anathapindika membangun biara untuk Sang Buddha di Jetavana, ia juga tidak membangunnya tanpa terlebih dulu bertemu dengan halangan-halangan. Ketakutan dan keragu-raguan menyelimuti hatinya ketika dia akan bertemu Buddha, dan semua nafsu ke-duniawi-an menyuruhnya untuk memutar langkah balik. Pangeran Jeta selaku pemilik Jetavana juga awalnya menolak menjual hutan kecil miliknya dengan harga berapapun. Di pengadilan, barulah disepakati bahwa harga jual hutan kecil ini adalah sebanyak koin emas yang akan dipakai untuk menutupi setiap jengkal tanahnya. Kesimpulannya, membangun biara itu juga butuh motivasi, tekad, dan pengorbanan diri.

Diantara semua kisah penghalang ini, terkandung harapan. Dewi Tara berkali-kali menolong Guru Atisha selama masa hidupnya: ketika beliau digoda oleh para wanita cantik undangan ayahnya, ketika beliau secara tak sengaja turut membenarkan pengusiran terhadap seorang Bodhisattva dari biara, dan ketika Dewi Tara menjamin keselamatan serta manfaat perjalanan Guru Atisha ke Tibet.

Dengan keyakinan seperti halnya Guru Atisha terhadap Dewi Tara, aku ingin menghimbau: mari kita sama-sama menghalau mara! Mari kita sama-sama melakukan karma bajik besar untuk menghimpun energi potensial yang besar! Dengan kebajikan besar di tangan, kita akan mampu melakukan sesuatu yang besar pula di masa depan. Oleh karenanya, kita butuh persatuan! Kita butuh semua orang sama-sama bergerak! Selaku murid-murid dan penerus ajaran dari Guru Atisha, aku ingin berpesan kepada kalian semua: bangkitkan rasa memiliki biara di dalam hati masing-masing, dan mari percayakan sisanya kepada Ibu Tara.

TERTANDA
BIKSU BHADRA RUCI
PEMBIMBING SPIRITUAL HARIAN KCI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *